Si Popeye Suka Makan Bayam

"I AM JUST A LITTLE GIRL WHO NEVER STOP DREAMING"

February 20, 2015

MY DRAWING'S SPEAK

Die wahre Lebenskunst besteht darin, im Alltäglichen das Wunderbare zu sehn. 


Drawings are not only the things that people create to show the beauty of the nature and the world. More than that, drawing can speak about yourself, your feelings, your love, etc. Something that you can't reveal in front of people, you can express it into a drawing/painting.

I draw when I am feeling happy. I draw something when I am falling in love. I draw when I hate someone and in the same time I also miss him. I draw something when I am lonely. I also drawing something when I try to forget something hurt me. Believe it or not, I can draw someone by my mind when I really fall in love with him. Really? I am not pretty sure, but that was the fact! Okay, forget it.

Just wanna show my drawings update here that I have made it between August 2014-February 2015. All of my feelings, all of my emotions, and all of my melodies. I dedicated it for YOU..... :)

August '14
When I enjoy my vacation in my hometown.
August '14
I didn't know what kind of feeling that was,
I only wanted a new hair cut. That was not the right time.

August '14
I was inspired by Opa and Oma who came from Jakarta
and stayed for several days in my house.
They have been married for 53 years and still go together
when they have vacation.
They remind me of UP Movie. :)




September '14
Let It Go!
Actually I really miss something,
but i have to let "it" go.

August '14
I saw her on yhe way back home to Jogja.



October '15
I wanted to refresh my mind after everything happened.









October '14
How hard I tried to forget,
this feeling was always bigger than ever.

Hat nie geliebt und nie gehasst.

Maybe on November '14
My friends and I hang out together.
Something crazy always happen to us if we are together.




December '14
Christmas is coming!!
Finally I drew Olaf anymore. I also love Sven.
Actually this is my Faculty Project.

December '14
Happy Mother's Day!
I dedicated it to all of Moms in this world. Thankyou for
being Mom for your children.
This is also my Faculty Project.



February '15
I am happy to be me!
I wanted to give a break to myself and refresh
the odd tired feelings inside.
february '15
I'm feeling sexy and free! Hahaha
It sounds like a good music for my ears when
I heard Lorde and black Eyed Peas was singing.

February '15
The last but not the least.
I drew it this afternoon when I remind you.
I wonder you can hear my sound inside.
Hey, my heart's a stereo. IT BEATS FOR YOU,
so listen close.
Ya, you. :)

That's all my drawings. But I am still doing the other project after this. Just remember that DRAWING CAN SPEAK. I love you even greater each day. Gbu.

January 30, 2015

THE BEST LEADER

Tidak ada pertemuan yang abadi. Seperti pertemuan, tidak ada perpisahan yang abadi. 
–First Love, Sani.

“Begitu banyak orang bisa mengawali sesuatu dengan kesetiaan. Tapi sangat sedikit yang berhasil mengakhirinya dengan kesetiaan juga,” itulah kalimat pertama yang diucapkannya ketika membuka sharing perpisahan kami sore itu.

Masih dengan haru birunya perpisahan dengan seorang pemimin, orang tua, sahabat dan juga penasehat yang luar biasa. Aku nggak tau kalau akan seharu ini melepaskan seseorang yang selama ini banyak sekali memberikan semangat saat aku sedang berada di dasar jurang maupun saat aku sedang ada di atas gunung. Yang berhasil mencuci otakku dengan paradikmanya tentang hidup menjadi pemimpin yang melayani.

Sesosok pribadi yang menggambarkan seorang bapa yang penuh kasih namun juga adil. Seorang pemimpin sekaligus hamba yang bijaksana. Dia bukan seorang yang bisa berpura-pura baik untuk mendapatakan perhatian orang. Dia bukan orang yang lemah lembut. Bahkan banyak orang yang tidak terlalu suka pada gayanya. Tapi dia adalah orang yang penuh kasih, bahkan kasihnya lebih jauh besar daripada setiap kedisiplinan yang dia terapkan. Dia adalah salah satu sosok yang otentik, tidak dibuat-buat, dan original.

Banyak hal yang aku pelajari dari orang tua ini. Setiap pengalamannya menginspirasi hidupku untuk menjadi lebih baik bahkan lebih dahsyat dari apa yang dia ajarkan. Darinya aku belajar life is simple, but it is not as easy as we think. “Apapun yang kamu kerjakan, kerjakanlah dengan ketaatan dan kesungguhan hati. Bukankah seorang hamba tidak peduli siapa yang mendapatkan kemuliaan? Dia hanya melakukan bagiannya untuk membuat tuan yang dilayaninya semakin diberkati,” katanya pada suatu ketika saat menasehatiku bagaimana menjadi seorang hamba yang benar.

Dari bapak inilah aku belajar untuk menghormati pemimpin, bahkan ketika pemimpinku salah. “Belajarlah tunduk kepada otoritasmu. Karena mereka adalah orang-orang yang dipakai Tuhan untuk membentukmu semakin luar biasa dan tahan uji. Karena kewajiban seorang hamba adalah menghormati pemimpinnya. Seperti Daud yang selalu menghormati Saul, orang yang akan membunuhnya,” jelasnya pada kami anak-anaknya pada suatu hari.

Dari pribadi yang suka melayani inilah aku belajar untuk menjadi orang yang memiliki api yang tidak pernah padam. “Ada 3 tipe orang di generasi ini. Pertama, dia dingin. Tidak mau tau dan tidak mau bergerak bahkan ketika orang-orang di sekelilingnya sedang berebut mencari apinya masing-masing. Kedua, dia suam-suam kuku. Dia bergerak mengikuti arus. Dia panas ketika dia berada di komunitas yang semangat. Tetapi suatu saat ketika tidak ada lagi kegerakan yang terjadi, maka apinya menjadi padam dan dia tidak berfungsi sama sekali. Ketiga, dia adalah orang yang panas. Dimanapun dia berada dia selalu membuat kegerakan. Ada saatnya dia berkumpul dengan komunitas yang semangat, api dalam dirinya berkobar. Namun ketika dia ada di suatu komunitas yang dingin tidak ada api sama sekali, dia tetap berkobar bahkan menularkan api yang ada pada dirinya sehingga dia menjadi sarana untuk membuat kegerakan. Orang yang manakah kamu?” ujarnya lai pada suatu ketika di sore hari saat kami sedang sharing.

Orang tua rohani yang bijaksana ini mengajariku untuk menjadi orang yang berani berbeda dari yang lainnya. “Saya sudah dua kali dalam hidup saya melakukan hal-hal yang freak, di luar zona yang seharusnya dipatuhi. Dan saya akan melakukannya lagi untuk yang ketiga kalinya. Jadilah orang-orang yang berani tampil beda, dalam arti membawa visinya Tuhan bahkan ketika orang lain memandangmu aneh. It’s ok,” ungkapnya pada kami sore tadi waktu kami berkumpul untuk menyalaminya pergi.

Masih banyak hal yang dia sampakan yang begitu memotivasi hidupku. Dia juga adalah orang yang berhasil mengubah cara pandangku terhadap dirinya, bahwa dia bukanlah seorang pemimpin yang kejam seperti yang sering kami anggap. Tetapi dia adalah sosok pemimpin yang mengasihi dan mau berkorban buat anak buahnya, meskipun sering kali hal itu tidak terekspos di media. Sebagian besar keputusan yang diambilnya terlihat seperti memberatkan, tetapi sejatinya dia adalah tipe orang yang selalu memikirkan kesejahteraan orang lain terlebih dahulu. Biarpun dalam bahasanya dia selalu bilang,”Saya tidak jahat. Tetapi saya sadis.”

Entah berapa banyak hal yang bapak itu sudah sharingkan sama kami. Entah berapa banyak orang yang diubahkan melalui nasehatnya. Tidak penting berapa banyak orang yang tidak menyukainya, tetapi dia adalah figur pemimpin yang luar biasa dimataku, dan aku mengucap syukur untuk hal itu. Dia manusia biasa yang penuh kekurangan, tapi dalam kekuranganna itulah aku melihat bahwa dia adalah anak Tuhan yang luar biasa. Aku mengucap syukur telah mengenalnya meski hanya dalam waktu yang singkat. Aku mengucap syukur untuk segala sesuatu teladan yang berhasil aku ambil darinya.

“Disini hanyalah tempat kalian untuk simulasi. Ini adalah Goa Adulam bagi kalian dimana kalian harus bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang tidak berpengharapan, sakit hati, kepahitan. Tapi jadilah seperti Daud yang berani beda dan bahkan menjadi seorang leader yang mampu mengubahkan hidup orang-orang tidak berpengharapan seperti itu menjadi pahlawan yan gagah berani. Jangan lari dari Goa Adulam, tapi takhlukkanlah itu. Sehingga saat kamu keluar dari dalamnya, kamu menjadi seorang history maker yang luar biasa,” ungkapnya yang menjadi penutup pertemuan kami hari ini.

December 09, 2014

Huuuaaaah, SIAPA YA?


Fall in love with this guy!! Yaaaaaayyyy.... News Anchor di M*tro TV nih yang lagi naik daun. Huueeeeh, coba perhatiin deh nih presenter berita yang punya nama #Rory Asyari ini. Ada sesuatu? Ada? Ada? Senyumnya itu hlooooo..... #Jedaaaar!! Bikin meleleh! Ga cuma Olaf yang di Frozen aja yang bisa melting. Gue lihat senyumnya juga langsung melting hahahaha.Gue langsung ter-crazy-crazy mantengin dia seharian.



Kesan awal pas gue lihat dia itu gue pelototin mukanya sampe udah mau copot mata gue hahaha. Sekali pas dia lagi tersenyum ke arah kamera.... Jedaaaaaarrrr!! Jleb! Senyumnya itu hloooo badaiiiii!!! Awawawawawaw aw aw aw.... Manis banget cuy. Duuuuh, ga tau lagi mau ngomong apaan nih. Pantengin sendiri aja foto-fotonya nih.


Ku pikir dia orang dari luar jawa awalnya. Cuma senyumnya kok kayak orang jawa gitu ya. Eh ternyata pas diselidiki wkwkwkwk.... Mas Bro ini asli SOLO....!!! Waaaaah, kita tetangga!! (Tetangka kota) Sial! Hepi banget deh gue. S1 dia juga ngambil di Universitas Sebelas Maret Solo kok. Sekarang aja yang lagi lanjut S2 ke London. Inggris coy! Inggris! Udah ganteng, pintar lagi! Hadeeuuuhh....

Sebelum jadi pembawa berita di M*tro TV, Mas Rory (ciee pake 'mas') sempat jadi penyiar radio dan pembawa berita juga di TV lokal di Solo. Kalo ditanya kenapa kok mau jadi pembawa berita TV? jawabannya adalah, "Karena saya mau menghilangkan gaya bahasa saya yang medhok jawa banget." Huahahahaha.... Jawanya kental banget sih memang. Sekarang aja kadang juga masih terbawa tuh di TV wkwkwkwk. Padahal medhok kan nggak dosa Mas....

Gue suka cowok yang smart kayak dia nih. Bukan cuma di tampang aja. Tapi kecerdasannya itu yang lebih penting untuk mendukung gaya dan mukanya yang unyu-unyu itu. Dari setiap pertanyaan ato kata-kata sederhana aja lah yang dia ucapkan waktu membawa berita juga udah ketahuan banget kalo dia itu smart guy. Gaya sih boleh keren (macho dan nggak melambai haha), tapi isi otak justru harus seimbang donk. Jangan koplak hahaha.

Dia juga termasuk orang yang nggak songong kalo udah di atas posisinya. Tau dari mana? Ada deeeeh.... Waktu ditanya kenapa nggak beli mobil aja buat pergi kerja? (Anyway, dia kalo pergi-pergi naik taksi mulu....) Jawabannya simple, "Ah, nggak mau nambahin macetnya Jakarta deh." Konyol. Itu beneran hlooo dia yang nyeletuk kayak begitu. Jadi selain dia adalah seorang profesional di bidangnya, tapi dia juga seru diajak ngobrol, easy going and definitely a candy eye!! Whhhooooooaaaaa ga nahan!

Ga ada biodata lengkap tentang Mas Rory ini. Pelit banget ngasih info nih cowok. Tapi kalo dilihat dari mukanya yang fresh, good looking, smart and of course macho abis itu pasti umurnya masih sekitar 24-25 lah. Tampangnya nggak ngebosenin. Mau dilihatin berapa kalipun ya tetep aja manis heuheuheu.... The Most Wanted Man In The World daaahh pokonya.... 

Lama-lama ngepantengin muka dia disini beneran meleleh deh gue. Hahahaiii.... Kayak begini kali ya rasanya Olaf merindukan 'musim panas' wkwkwkwk. Aaaaaaaahhhh, tidaaaaaaak! 

Yuhhhuuuu.... Udah ah. Lagian orangnya juga belum balik ke Indonesia kok hahaha.... Udah rempong banget dah gue kalo udah menyangkut masalah yang beginian hahaha.... Ga ada loe nggak rame!!! 
M-key bye! :)

Senyumnyaaa Mas'e!



Ganteng ga tuuuh? Hahaha....

December 05, 2014

LA FAVEUR

Kalo lagi diem begini ga ada kerjaan, suka banyak imajinasi yang berebut masuk ke dalam benakku. Coba aja ada kopi disini, pasti lebih lengkap. Sekarang lagi gerimis. Ku biarkan aja jendela terbuka. Biar percikan-percikan air hujannya bisa masuk kesini.

Sekarang ini atmosfirnya lagi mellow gimana gitu. Seakan hidup ini sedang berada di titik jenuh. Santai sejenak sambil menikmati aroma tanah basah ini sangat membantuku menetralkan pikiran yang sudah penuh sesak dengan berbagai urusan yang menggila melilit otak. Dari lantai bawah tercium bau ikan asin yang sedang di goreng. Udaranya jadi bercampur. Itulah perbedaan, memang beda tapi berwarna.

Aku pernah membayangkan duduk di suatu tempat yang damai banget. Kalo kamu bisa pergi kesana, pasti kamu nggak akan pernah ingin kembali. Damai banget. Aku sedang duduk di taman yang entah apa namanya dan dimana letaknya. Udaranya nggak panas, tapi juga nggak dingin. Sejuk aja. Banyak pepohonan tertanam rapi di sana-sini. Eh, ada satu lagi, ada pohon apel dengan buahnya yang sudah masak merona tepat ada di belakangku.

Rumput yang aku duduki terasa lembut sekali seperti bulu binatang. Warnanya hijau sekali. Aku belum pernah melihat warna sehijau itu. Cuacanya nggak panas, kayak selalu berada di jam sembilan pagi. Di balik riuhnya dedaunan yang menari dihembus angin semilir, ada berkas-berkas cahaya lembut mengintip. Seperti sebuah tarian cahaya yang unik sekali.

Disisi kananku ada beberapa mata air yang membentuk pola-pola lingkaran dengan diameter kira-kira satu meter. Di pinggir-pinggirnya tertata rapi bebatuan yang menjaga agar airnya nggak mengalir kemana-mana. Airnya jernih banget. Bahkan kalo kamu melihat ke dalamnya, kamu bisa lihat dengan jelas dasarnya.

Nggak ada terdengar suara-suara lain selain hanya kicauan burung yang terdengar beberapa saat di kejauhan. Hening banget. Bahkan mungkin kalo kamu sedikit lebih peka, kamu akan bisa mendengar suara angin yang menggesek rerumputan di sekitarmu, atau bahkan kamu bisa mendengar pertumbuhan tumbuhan paku-pakuan. 

Kalo kamu disini, kamu nggak akan mau pergi kemana pun selain berbaring sambil memandangi bunga-bunga kecil yang tumbuh liar di tepian mata air itu. Aku sendiri berharap ada angin yang rela menjatuhkan buah apel itu tepat di pangkuanku. Kalo kamu punya daya imajinasi yang tinggi kamu akan bisa melihat dengan jelas tempat yang aku ceritakan ini.

Ehm, kalo seandainya ada tempat yang seperti itu, kamu mau menamainya apa? Tempat yang benar-benar damai yang bisa membuatmu lebih dekat dengan alam dan semakin bersyukur untuk segala sesuatu yang ada di sekelilingmu. Tempat yang membuatmu selalu merasa suka cita meskipun kamu hanya seorang diri. Tempat yang nggak ingin kamu tinggalkan begitu aja. Tempat dimana kamu merasa segala sesuatu sedang bertumbuh bersama dirimu. Tempat yang membuatmu benar-benar menyadari bahwa segala sesuatu diciptakan memiliki arti. Silahkan mengimajinasi sendiri.

Bukan Taman Eden, karena mungkin tempat ini lebih indah dari itu. Ku beri nama yang sedikit unik; "La Faveur"*.

*favor

December 04, 2014

CITA-CITA

Do you have a dream?

Hari ini waktu ngajar anak-anak PPA ada hal yang membuat aku berpikir. Mereka sedang diajar tentang cita-cita. Sambil mendengarkan, aku mencermati betul-betul apa yang sedang mereka bicarakan.

Ada yang ingin jadi dokter hewan. Yang lain ada yang ingin jadi pilot, katanya mau ngebut di awan-awan. Kalo ngebut di jalan raya udah biasa. Satu lagi anak ingin jadi astronot. Temannya yang lain mau jadi guru.

Banyak sekali yang sudah memikirkan (paling tidak sudah membayangkan saja) mau jadi apa ketika mereka besar nanti. Lalu mentornya tiba-tiba tanya juga sama aku yang lagi mendampingi salah satu anak disitu, "Mbak Olive kalo sudah besar mau jadi apa?" Memang mereka taunya namaku itu Olive. Lucu juga kalo ditanya kalo besar aku mau jadi apa. Emang sekarang belum besar?

Bukan itu sih masalahnya. Aku agak sedikit berpikir ketika ditanya tentang cita-citaku saat itu. Aku jawab sekenanya saja. Ku bilang aku mau jadi guru. Soalnya dari mereka anak-anak muridku kebanyakan menyebutkan ingin jadi guru. Toh, aku juga saat itu lagi mengajar mereka sebagai guru. Hanya saja itu bukan jawabanku yang sebenarnya.

Bagaimana mengatakannya ya? Kadang aku berpikir terlalu rumit. Waktu aku kecil aku pernah pengen jadi pendeta. Soalnya bapakku seorang pendeta. Kayaknya asik gitu jadi pendeta ngomong terus. Namanya juga anak-anak. Terus waktu SD entah kelas berapa waktu itu, aku berubah pikiran pengen jadi  pelukis. Itu karena hobiku memang coret-coret gambar gitu dari kecil sampe gedhe gini. Cita-cita yang satu itu aku bawa sampe aku kelas 2 SMP sambil mengikuti berbagai lomba melukis. Lumayan.

Pas udah naik ke kelas 3 SMP, aku merubah cita-citaku jadi seorang arsitek. Alasannya karena guru Fisika yang ngerangkap guru Matematika di sekolah itu ganteng banget kayak Ben Joshua (beneran! ga bohong!). Itulah kenapa nilai fisika kelas 3 SMP sampe 3 SMA (aku juga anak IPA) selalu diatas rata-rata lah bisa dibilang, biarpun nilai matematika biasa-biasa aja. Ya karena guru itu yang bikin otak jadi fresh haha.

Selain itu kenapa aku pengen banget jadi arsitek dari kelas 3 SMP sampe aku lulus SMA? Yang paling make sense adalah aku deket sama cowok yang cita-citanya jadi arsitek. Naif banget gitu lho! gara-gara dia juga aku jadi semangat banget pengen mewujudkan cita-cita yang satu ini. Dia juga bilang jadi arsitek itu banyak duitnya. Modalnya cuma kertas, pensil, kreativitas dan sedikit pikiran yang serius. Gambarannya sih keren. Ending-nya dia beneran jadi arsitek sekarang, sementara aku melepaskan mimpiku untuk yang keberapa kalinya.

Mungkin kalo dulu aku ditanya tentang hal yang sama aku bakalan cepet banget menjawabnya. Sekarang harus pake mikir dulu. Jawaban yang terucap tidak semudah jawaban yang terpaku dalam otak. Entah mungkin memang pemikiran yang berkembang atau ada sesuatu yang lain yang muncul dalam diri ini. Yang jelas aku cuma pengen kerja di tempatku sendiri, dengan waktuku yang bisa ku buat-buat sendiri dan aku bisa mengerjakan misi yang lain sambil memantau pekerjaanku yang itu. Ribet? Sama. Aku juga.

Yang terpikir di benakku saat ini cuma itu tadi aja. Ga ada yang lain. Gimana caranya cita-citaku yang satu ini bisa tercapai, sekaligus aku bisa menjangkau hal lain yang bahkan lebih penting dari cita-cita itu sendiri.

Akhirnya, blog ini cuma muter-muter ga berujung seperti ini. Huuuaaaahh....

November 09, 2014

I OFFER MY LIFE

Alright, back with me in this blog. This time, I wanna talk about OFFERING THE LIFE. Okay, balik lagi pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Menawarkan hidup.... Apa itu menawarkan hidup? Kepada siapa kita menawarkan hidup? Dan bagaimana kita menawarkan hidup? That's the simple questions, but it's a little bit difficult to give an answer, right?

Menawarkan hidup berarti kita menyerahkan, membaktikan dan merelakan hidup yang kita miliki saat ini kepada suatu otoritas. Saat kita merelakan hidup kita itu berarti kita tidak lagi memiliki hak atas hidup kita. Yang kita kerjakan bukanlah untuk menyenangkan diri kita sendiri lagi, tapi untuk kepentingan dan kemuliaan seseorang yang kita layani.

Lalu kepada siapakah kita harus menawarkan hidup kita? Kepada seseorang yang layak atas hidupmu. Bapa! Lho kok begitu? Bukankah hidup yang Dia berikan itu memang seharusnya jadi hak milik kita? Salah. Saat memikirkan kembali semua anugerah  yang Bapa sudah berikan kepada saya, saya teringat satu hal. Hidup yang saya jalani selama ini, hidup yang saya 'akui' sebagai kepunyaan saya, ternyata bukanlah milik saya. Segala sesuatu yang saya miliki adalah milik Dia yang rela menyerahkan segalanya demi saya (dan bagi Anda).

Saat kita menawarkan hidup kita sebagai milik kepunyaan Bapa, itu artinya kita tidak memiliki hak apapun dalam hidup ini. Tidak ada hal sekecil apapun yang bisa kita pertahankan dalam diri kita. Ibaratnya, kita berkata rela memberikan yang terbaik bagi-Nya, seluruh hatimu, jiwa dan kekuatanmu. Tapi ada satu hal yang kamu ikat dalam hatimu yang tidak rela kamu berikan kepada Tuhan, ya sama saja bohong. Mungkin masa depanmu, mungkin pasanganmu, pekerjaanmu, dan lain sebagainya. Rela memberikan segalanya berarti tidak ada yang kita ikat.

Ada salah satu lagu favorit saya yang berkata, "Sbab aku ini milik-Mu, tak ku pertahankan hidupku. Biar kehendak-Mu kerjakanlah dalam ku." Kehendak Tuhanlah yang jadi atas hidup kita. Bukan kehendak kita lagi.

Lalu bagaimana caranya menyerahkan diri kita sebagai persembahan bagi Tuhan? Ingat, Bapa tidak meminta segala-galanya dari hidupmu. Dia hanya meminta KERELAAN HATIMU untuk memberikan segala-galanya bagi-Nya.

Pernah dengar lagu yang berkata, "B'rikan ku tangan-Mu tuk melakukan tugasku. B'ri kan ku kaki-Mu melangkah dalam rencana-Mu. B'rikan ku.... B'rikan ku.... B'rikan ku hati-Mu." Pernah terpikir olehmu ketika menyanyikan lagu tersebut, tiba-tiba kamu menyadari, "Oh, iya. Nggak cuma tangan dan kaki saja yang harus aku serahkan sama Tuhan. Tapi juga hatiku biar digantikan sama hatinya Tuhan." Artinya apa? Saat Tuhan meminta hatimu, itu berarti seluruh hidupmu tidak boleh ada yang tersisa. You belong to Him!

Lagu tersebut juga mengungkapkan bahwa kita rela visi kita digantikan sama visinya Tuhan. Kita rela saat mimpi-mimpi kita digantikan sama mimpi-mimpinya Tuhan. Kita rela saat apa yang kita miliki, semua diminta sama Tuhan. "Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku. Tetaplah Allah selama-lamanya." Sampai tidak ada lagi yang bisa kamu andalkan, sampai habis kekuatan yang kamu miliki dan sampai tidak tersisa satu hal pun yang bisa kamu pegang kecuali Tuhan. Sampai seperti itulah kamu rela menyerahkan hidupmu as an offering for His glory! (Masih ingat postingan 26 Oktober 2014, http://olviengelindur.blogspot.com/2014/10/sampai-hanya-tersisa-aku-dan-engkau.html).

Raja Daud, ia adalah salah satu contoh yang rela memberikan segalanya untuk menjadi seorang 'pemimpin sekaligus hamba yang berkenan di hati Allah'. Apa yang dia serahkan? Mungkin Anda tidak akan percaya kecuali Anda mau baca sendiri kisahnya (dan memang harus baca). Apa saja yang Tuhan minta dari hidupnya?

1) Pertama, yang Tuhan ingin ia relakan adalah keluarganya. Bahkan Daud pun sampai dilupakan oleh Isai, Ayahnya sendiri saat Samuel datang ke rumahnya (1 Samuel 16:11-12).

2) Kedua, posisi yang nyaman dalam kerajaan Saul. Bukankah dia menjadi pahlawan dan telah memiliki pasukan sendiri. Namun Tuhan juga meminta zona nyaman dalam pekerjaannya itu, saat Saul ingin menancapkan kepalanya di dinding dengan tombak. Pasti Daud tidak akan pernah ikut berperang dalam pasukan Israel lagi.

3) Ketiga, Tuhan meminta cintanya terhadap Mikhal, istrinya. Hohoho, ini adalah bagian yang menarik. Seorang yang sedang jatuh cinta, tiba-tiba dia harus melepaskan cintanya itu dan kabur menjadi buronan kerajaan. Bahkan Mikhal pun jelas-jelas mengkhianatinya secara tidak langsung (1 Samuel 19:11-17). Bayangkan bagaimana perasaannya! 

4) Keempat, Tuhan mau Daud melepaskan sahabat terkaribnya, Yonathan. Dalam cerita Alkitab, perpisahan Daud dan Yonathan merupakan sebuah drama yang paling mengharukan menurut saya. Saat Daud pergi ke arah yang satu dan Yonathan pergi ke arah yang satunya lagi (1 Samuel 20:41-43). Sejak saat itu mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Betapa hancurnya hati Daud saat itu. Setelah putus cinta, dia juga harus meninggalkan sahabatnya.

5) Kelima, Daud juga harus merelakan Orang Tua Rohaninya, Samuel. Orang yang selama ini menasihatinya dengan bijaksana dan mendoakan Daud setiap harinya. Benteng pertahanan terakhir dimana Daud meminta pertolongan. Tapi ternyata Tuhan juga meminta itu dari Daud. Nah! Daud benar-benar sendiri sekarang! Tidak ada orang yang bisa dia mintai tolong, tidak ada orang yang bisa dia ajak sharing. Tidak ada orang yang bisa menguatkan dia. Daud benar-benar sendiri!

6) Terakhir, hanya tinggal satu hal yang Daud miliki yaitu HARGA DIRI. Lalu apa yang terjadi? Bapa juga meminta harga diri Daud untuk dilepaskan! Daud tidak diterima di negerinya sendiri, dan Daud juga ditolak di negeri musuhnya! Apa pendapatmu saat melihat seorang Ksatria pemberani tiba-tiba berpura-pura gila di hadapan musuh yang dulu pernah dikalahkannya? Daud yang membunuh Goliat dengan percaya diri, sekarang jadi orang gila di tanah kelahiran si Goliat! (1 Samuel 21:11-15). Habis sudah seluruh pertahanan Daud. Bahkan harga diri pun sekarang tidak ia miliki lagi!

Setelah semua habis tidak tersisa, barulah Daud benar-benar berpaut sama Tuhan. Tidak ada lagi yang bisa dia andalkan kecuali Bapanya yang di sorga. Begitu juga kita. Kita baru akan bisa mengandalkan Tuhan sepenuhnya saat semua yang kita miliki telah kita relakan bagi-Nya.

"Tapi bagaimana dengan masa depanku jika aku merelakan segalanya untuk Tuhan?" Itu kalimat pertama yang muncul dalam benak saya saat pertama kali saya memutuskan untuk menyerahkan segalanya bagi Dia. Jawabannya simpel. "Tidak seharusnya aku meragukan jika Tuhan yang berdaulat atas hidupku." Dan terkadang apa yang kita pertahankan saat ini, sejujurnya adalah hal yang tidak kita perlukan sama sekali.

Yang kita relakan bukanlah bentuk dari BAYAR HARGA. Apa yang mau kita bayar kalau semua yang ada pada kita itu bukan milik kita? Tidak perlu sok kaya mau membayar harga. Bukan bayar harga, tapi kembalikan segala sesuatu yang sudah seharusnya menjadi milik Bapa. Just it!

Kenapa kita menyerahkan hidup kita bagi Dia? Karena Dia terlebih dahulu telah menyerahkan hidupnya untuk kita!!

May this video will open our mind why God wants us to give our all. His plans for us are always better than we can imagine! Happy watching! ^_^



November 02, 2014

SCANDAL at MANDIRI BANK

Malam itu, entah hari apa (aku lupa), kami jalan-jalan ke Tugu Muda. Rencana sih mau nonton ada pawai teman-teman kampus kami yang ikut ngeramein hari sumpah pemuda. Eh, ternyata nggak ada. Udah capek-capek jalan bermil-mil jauhnya dari asrama sampe ke Tugu Muda hahahahaha, mendaki gunung dan melewati lembah cuma buang tenaga, duit dan sandal aja wkwkwkwkwk.....

Eh ya, kami itu siapa? Kami ya kami! Petra, Juli, Raffi, Oneng, sama aku si Anton a.k.a si Toin a.k.a si Olaf (nama beken kami neee). Kerjaan kami ngapain jadinya? Ya itu tadi cekakakan di jalan kayak anak-anak yg baru keluar dari kandang. Maklum lah anak asrama yang baru bisa keluar
jalan-jalan hahaha.... Apa lagi bapak asrama lagi nggak ada di tempat. Semakin keluar tanduknya!

Yang jelas kami nggak menyia-nyiakan malam pembebasan kami dah.... Hari kemerdekaan neee! Nggak ada pawai, akhirnya kami bikin pawai kami sendiri. Kebetulan si Petra sandalnya putus. Nyeker lah dia. Emang dasar anak nggak mau sengsara sendiri dia tuh, ngajakin kami buat nyeker rame-rame. Yang lain nggak ada yang mau. Katanya kaki mereka udah steril. Terpaksa deh sebagai teman yang baik hati, tidak sombong dan suka menolong akhirnya aku copot juga swallow aku.

Di depan Novotel ada supir taksi nyamperin. Gini katanya, "Mbak, Tugu Muda tadi banjir ya?" 

Aku jawab, "Nggak kok, Mas. Emang kenapa?" 

"Lha Mbak-nya kok nyeker?" Haiiikhh?? Kepo nih orang.... 

"Gerah kaki saya, Mas," sahutku jutek. Males juga ngeladenin supir taksi. 

Eh rupanya dia masih nyeletuk lagi, "Ah, bilang aja sandalnya ndak pernah dicuci!"

Wah, parah nih orang.... Emang bener belum aku cuci swallow aku ya. Tapi harus ya disebutin gitu? Sakitnya tuh disini! (nunjuk gigi). Cuma dasarnya aku dodong aja. Biarlah kafilah menggonggong, anjing berlalu. Lho?

Udah jalan jauh begitu, ternyata tubuh jasmani kami lapar juga. Hepeng lagi kritis-kritisnya, nih orang-orang minta makan di rumah makan yang kayaknya sih lumayan mahal juga. Masing-masing kami cuma bawa 20.000 IDR. Dari pada main masuk aja, medingan tanya dulu berapaan harganya seporsi (memang muka-muka orang ini!). Si Raffi tanya sama tukang parkirnya, "Pak, kalo makan di sini seporsi berapaan ya, Pak?" Whealaaaaaaah.... Serius nih bocah ditanya bener! Kata bapaknya cuma 15.000 IDR aja (belum minumnya). Ya udah, kayaknya budget mencukupi nih. Makanlah kami disitu sambil berhaha-hihi. Awalnya tuh rumah makan adem ayem aja, pas kami datang langsung ribut. Makan cuma pake nasi goreng doang, permintaanya macem-macem banget. Yang pedes banget lah, yang tambah garamlah. Sampe stres masnya ngelihat kami ahahhaa....

Habis makan kami jalan ke Paragon. Si Oneng mau traktir kami donat di J-Co. Ternyata udah habis. Soalnya kami datang udah kemaleman sih. Ga dapat donat, eh kami malah ketemu Momo Geisha. Bukan aku yang lihat (soalnya mata aku stereo hahaha), mereka yang lihat sambil goyang-goyang kegelian sendiri gitu. Sayang sekali kami nggak ada yang berani minta foto sama dia hahaha.... Sumpah deh, waktu itu gaya kami kayak orang kampung yang nggak pernah main ke mall. Entah apa yang salah dengan jiwa kami saat itu huahahahaha....

Udah lah, kami meneruskan perjalanan kembali ke sorga (maksudnya asrama). Si Oneng ini nggak tahan buat nahan pipis dia tuh. Nggak ada toilet di pinggir jalan raya kayak begini. "Di Bank Mandiri ada nggak ya?" tanyanya.

"Tanya sama Pak Satpam itu aja kalo berani," jawab Raffi.

Ternyata si Oneng serius tanya sama security itu. Si security ngasih lihat jalannya ke toilet ada di parkiran belakang  Bank Mandiri. Kami bergegas kesana. Waktu si Oneng di dalam toilet aku lihat-lihat bengunan sebelah. Kebetulan di area situ ada gedung gereja yang besar, "Eh, itu kah gereja tadi?"

Spontan mereka tertawa kenceng sambil nunjuk-nunjuk hidung aku. "Hei! Matamu stereo, In!" seru si Juli puas banget ngetawain aku. "Tulisan Bank Mandiri segede gitu masih kamu bilang gereja?!"

"Wah, parah nih cewek. Kamu nggak bisa bedain gereja sama bank ya?" lanjut si Petra masih dengan ketawanya yang lebar.

"Yah, kan nggak kelihatan tadi tulisan Mandiri disitu. Puas kali kalan ketawain aku. Dosa lho.... Lagian sama aja. Bank Mandiri nyimpen duit rakyat, gereja di sebelah juga nyimpen jiwa-jiwa hahahaha...." sahutku pede aja.

GUBRAAAKKK!!

Si Oneng keluar. Giliran si Petra yang masuk toilet. Maksud hati mau ngerjain dia, eh malah kami yang terjebak sama jebakan batman hahahaha....

"Matikan lampunya!" kata si Raffi. Ini anak dodong juga, mau ngerjain orang pake teriak. Ya dengerlah orangnya. Si Oneng juga sama, bukannya matiin lampu malah menghidupkan lampu pos yang terang benderang. Susah juga mau critain lucunya dimana. Soalnya tayangan live-nya lebih keren wahahahaha....

Si Juli punya ide buat ngumpet. Dia buru-buru lari ke belakang toilet yang padahal sebenernya badan aku aja yang cukup masuk ke situ. Dia paksain tuh sambil berjinjit diatas parit-parit. Kami tiga (aku, Raffi sama Oneng) udah nggak keburu lagi mau ngumpet sama Juli. Akhirnya Raffi berteriak, "Ayo, cepat lariiiii.....!!!"

Si Oneng refleks langsung cabut gitu aja ambil langkah seribu. Sementara aku yang tadi udah mau jongkok sambil masang swallow jadi kelabakan mau ngikut siapa. "Antoooooon, ayo cepat sembunyi!" seru si Oneng jauh di depanku.

Aku ikut lari gitu aja, sampe nggak sadar kalo sandal yang aku pake baru sebelah. Sebelahnya lagi tinggal di belakang. Aku balik lagi ambil sandal, eh si Petra udah keburu keluar dari toilet sambil berkacak pinggang siap-siap mengejar kami, "MAU LARI KEMANA KALIAN?!!"

Udah deh, seadanya aja aku lari sambil sandalku terlempar kesana kemari. Sampe kayak orang pincang aku jalan. Padahal yang baru jatuh itu si Raffi, tapi gara-gara si swallow jadi aku yang pincang. Si security ngelihatin kami kayak orang baru dikejar-kejar polisi gara-gara ngerampok bank.

Si Juli tertinggal di belakang, kejepit, susah payah keluar dari belakang toilet. "Toin.... Toin.... Kamu ini kayak orang autis kulihat dari belakang. Buang aja swallow-mu itu. Bikin ribet aja deh ah. Anak kuliahan semester 7 belum bisa pake sandal," celetuknya sambil ketawa keras diikuti sama yang lainnya.


Emang aku itu orang yang suka mereka bully. Setiap detik kalo ada waktu luang, ya itu tadi kerjaan mereka mem-bully aku. Udah jadi motto hidup mereka kayaknya mem-bully diriku. Kalo boleh tambah nama nih udah ku kasih nama tengahku jadi Bully wkwkwkwkwkwk.......

Ah sudah lah. Hidup ini memang keras. Ini gila dan kami masih merencanakan kegilaan yang lainnya next mission di KFC hahaha.... Entah apa lagi yang akan kami buat. Mungkin mem-bully pelayan KFC-nya hahahaha.... Semoga kami cepat bertobat!