Si Popeye Suka Makan Bayam

"I AM JUST A LITTLE GIRL WHO NEVER STOP DREAMING"
Showing posts with label Dear Diary. Show all posts
Showing posts with label Dear Diary. Show all posts

August 27, 2022

A GRACE IN THE MIDDLE OF CHAOS

        Setelah entah berapa tahun saya nggak mampir buat nulis-nulis di sini, akhirnya hari ini saya kembali. Sudah lama mau menulis lagi, tapi ragu karena selain udah terlanjur lama hiatus, juga karena bingung apa yang hal yang relevan dengan keadaan saat ini yang bisa saya ceritakan. Jujurly, kalo mau nulis soal cinta kayaknya udah nggak cocok sama saya hahaha.... Jadi saya memutuskan untuk menulis kesaksian saya yang sudah lama saya ingin bagikan tapi selalu tertunda karena berbagai hal. So, here is my story, my journey with Him. Enjoy!

        Beberapa waktu lalu saya mengikuti pelatihan karyawan baru di tempat saya bekerja. Hari kedua saya mengikuti pelatihan itu, saya merasa sangat antusias dengan materi yang disampaikan. Saya bukan orang yang sangat religius sebetulnya, tapi diskusi tentang hal-hal rohani, kesaksian tentang bagaimana Tuhan itu baik, bahkan cerita-cerita Alkitab di sekolah minggu selalu membuat saya tertarik. Pada dasarnya saya memang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan iman dan Tuhan, dalam konteks keingintahuan saya mengenai hal-hal rohani supranatural yang terjadi kepada beberapa orang.

        Hari itu kami diminta untuk membaca dan merenungkan sebuah artikel tentang dimensi iman. Awalnya saya malas mau membacanya. Cuma karena itu adalah perintah dan keharusan, maka saya melakukannya. Ternyata isinya not bad pada bagian awal. Saya lanjut baca sampai akhirnya saya selesaikan artikel itu. Pertama, stage 0/1: the rise of imagination. Kedua, stage 2: making meaning. Ketiga, stage 3: forming identity. Keempat, stage 4: reflective faith. Kelima, stage 5:connective faith. Keenam, stage 6: embraced and embracing faith.

        Setelah membacanya, saya sendiri jadi mempertanyakan pada tahap dimensi yang mana iman saya berada. Apakah hanya rutinitas cukup sejauh saya aktif melayani di gereja, berlaku baik di lingkungan dan pekerjaan atau memang spiritualitas saya itu sudah menjadi natural dan nafas hidup. Pengalaman berjalan dengan Tuhan pasti ada, tapi saya kembali me-review bagian mana yang membuat saya benar-benar menyadari bahwa saya butuh Tuhan dan Tuhan hadir dalam setiap aspek kehidupan saya. 

        Dengan kerendahan hati setelah panjang saya berpikir dan merenung, mungkin saya berada pada Stage Five: Connective Faith. Mengapa saya mengkategorikan diri saya pada tahap tersebut? Sedikit kesaksian; pandemi membuat saya belajar banyak mengenai iman dan pengharapan dalam Tuhan. Saya kembali ke tempat kerja saya sekarang ini setelah satu tahun saya "belajar" di tempat lain merupakan suatu anugerah tersendiri buat saya. 

        Singkat cerita, di tahun 2020, tahun dimana saya tidak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu hal yang dasyat di seluruh dunia. Pandemi datang mengubah wajah dunia. Semua aspek sosial dan ekonomi terkena imbas. Banyak lapangan kerja ditutup, karyawan diberhentikan, dan "sialnya" hal itu juga terjadi kepada saya. Karena saya masih terhitung pegawai kontrak, maka mau tidak mau saya pun ikut di-cut dari tempat kerja. Padahal satu bulan kemudian seharusnya saya akan diangkat sebagai pegawai tetap saat itu. Tapi sekali lagi, manusia berencana, Tuhan yang melaksanakannya.

        Saya keluar dari tempat ini saat itu dengan rasa yang campur aduk. Saya bingung, sedih, marah, kecewa, tapi saya tidak tau harus menyalahkan siapa. Saya sempat bertanya dan protes sama Tuhan. Saya sudah mulai settle di tempat itu, kenapa Tuhan suruh saya pergi dari sana? Apa Tuhan tidak tau situasi saya? Apa Tuhan tidak peduli pergumulan saya? Dan masih banyak 'apa Tuhan, apa Tuhan' yang lainnya. Tapi puji Tuhan, saya ditempatkan di antara orang-orang yang luar biasa dimana mereka tidak hanya menguatkan saya tetapi juga membukakan pikiran saya bahwa Tuhan itu tetap baik mau apapun yang terjadi. 

        Saya mulai menerima keadaan dan situasi saya, tentu setelah beberapa waktu dengan pergumulan yang menguras emosi dan pikiran. Yang saya pegang adalah janji Tuhan bahwa Dia tidak pernah tinggalkan saya dalam keadaan terburuk sekalipun. Saya menjalani waktu-waktu saya dengan ucapan syukur dan tetap percaya pada penyertaan Tuhan. Dan Tuhan buktikan kesetiaan-Nya, saya tidak kekurangan damai sejahtera dalam hidup saya. 

        Lewat info dari teman saya, saya langsung masukkan lamaran ke satu tempat. Tanpa berpikir, tanpa prasangka, bahkan tanpa emosi saat itu. Saya sedikit paksa Tuhan waktu saya mau kirim surat lamaran itu. Saya bilang, "Tuhan, ini saya nggak masukin lamaran kemana-mana selain tempat ini. Pokoknya Tuhan buka jalan supaya saya diterima disana. Saya butuh kerja, saya janji kalo diterima disana, I will love that place as much as I love this place." Dan singkatnya ternyata betul saya diterima. Prosesnya cepat nggak pake ribet. Selesai kontrak saya di tempat lama, saya langsung masuk ke tempat baru. 

        Saya jalani hari-hari saya di tempat baru dengan ucapan syukur. Saya bukan orang yang mudah adaptasi sebetulnya, tapi Tuhan ajari saya untuk belajar membuka diri dan membaur dengan sekitar saya. Saya belajar banyak sekali hal disana. Dan yang terpenting setelah semuanya berlalu, saya pikir adalah saya lebih bersandar sama Tuhan dan merendahkan diri saya serendah yang saya bisa di hadapan-Nya. Ternyata betul, saya ini bukan siapa-siapa, pengalaman saya means nothing, bahkan kecerdasan itu tidak bisa mempertahankan posisi saya ketika menghadapi virus kecil yang nggak terlihat tiba-tiba menginvasi bumi. Disitulah saya yakin, bahwa pandemi ini tidak hanya terjadi begitu saja. Tapi Tuhan ijinkan terjadi supaya kita belajar sesuatu untuk mengenal Dia lebih dalam.

        Dan pertengahan 2021 saya kembali dipanggil ke tempat kerja saya yang lama dengan hati yang baru. Well, bukan berarti saya tidak mengasihi tempat kerja saya sebelumnya, tapi saya punya ikatan tersendiri dengan tempat kerja saya disini sejak awal. Saya bersyukur Tuhan ijinkan saya sempat belajar di ladang yang lain dimana saya bisa belajar melihat anugerah Tuhan dari sisi yang lain juga. Tuhan tetap baik, bahkan ketika keadaan sangat tidak baik. 

        Mungkin cerita saya adalah hal biasa bagi beberapa orang, tapi buat saya pengalaman yang satu ini membawa saya kepada satu tingkat lebih tinggi dalam pengenalan akan Tuhan. Bukan apa kata orang, tapi saya benar-benar merasakan God is good all the time, and all the time God is good. Sehingga ketika saya kembali ke tempat ini, saya lebih siap untuk melayani sepenuh hati dan mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya kembangkan dalam pelayanan saya di tempat ini. Saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang ada disekeliling saya saat ini. Baik itu sahabat-sahabat saya, komunitas, keluarga, pekerjaan bahkan waktu yang ada. Karena ketika salah satunya hilang, barulah saya mengerti seberapa besar artinya buat saya.

        Oh ya, satu lagi untuk menutup kesaksian online saya ini. Saya bersyukur untuk keluarga yang saya miliki. Terutama Papi saya yang saya baru paham bahwa di dalam dirinya yang kaku itu, dia sangat mengasaihi dan memperhatikan anak-anaknya tentu dengan caranya sendiri yang agak nyentrik. Jadi waktu saya diberhentikan dari kerjaan saya saat itu, saya telfon orang tua sambil nangis-nangis. Saya merasa bersalah dan menjadi beban buat mereka. Saya bilang ke papi,"Sorry ya Pi, aku bikin kecewa Papi sama Mami. Tapi sekarang ini aku takut, pandemi begini aku harus ngapain kalo aku nggak bisa langsung dapet kerjaan baru?" Dengan ademnya Papi jawab,"Nggak apa-apa. Kamu nggak bikin kecewa kok. Kamu pulang. Kita berdoa. Kalo orang lain Tuhan perhatikan, masak iya anak-Nya nggak Tuhan tolong? Nggak usah takut. Papi tanggung seumur hidupmu!"

        Bagian akhir dari kata-kata papi itu yang buat saya tergugah, God loves me so much so He gave me everything I need. I have my family that support me. I have a community that strengthen me. I have God who never gives up on me when others possibly do. Jadi buat temen-temen yang mungkin saat ini sedang mengalami pergumulan yang berat, percaya ada Tuhan yang memperhatikanmu. Tetap berharap sama Tuhan dan terus bersyukur meskipun berat. Hati yang bersyukur akan selalu mengetuk hati Tuhan untuk membuka jalan buat masalah kita. Mungkin saat ini kita tidak melihat sesuatu yang baik dalam prosesnya, tapi setelah semuanya selesai kita akan bisa tersenyum melihat maksud Tuhan dalam mengajari kita lewat masalah yang kita alami saat ini.

Be faithful! God bless you!

November 08, 2016

APAKAH MIMPIMU TERLALU BESAR?

Beberapa hari yang lalu, ada seorang missionaris dari India datang ke tempat kami. Seorang pastor muda yang sederhana. Namanya orang dari luar Indonesia, pastinya dia nggak bisa bahasa Indonesia. Kebetulan saya mengajar bahasa Inggris di sekolah. Maka akhirnya saya sedikit berguna juga menjadi penerjemah dadakannya si Pastor.

Dia membawakan renungan pagi untuk anak-anak di sekolah. Anak-anak antusias mendengarkan khotbahnya. Mereka tertarik dengan orang baru yang berbeda bahasa dengan mereka. Si pastor bercerita bagaimana keadaan negaranya dan beberapa hal lainnya. Setiap perkataan yang disampaikannya menunjukkan bahwa hidup manusia itu ada di tangan Tuhan. Berulang kali beliau menyampaikan pesan tersebut.

Hampir seharian penuh kami bercerita dan sharing tentang Firman Tuhan, karena kebetulan hari itu jadwal saya kosong. Kemudian saya diberi tahu oleh orangtua rohani saya kalau pada sore harinya si Pastor akan mengisi khotbah di ibadah youth di salah satu gereja di sini dan saya yang diminta menjadi penerjemahnya. Tidak tau kenapa badan saya langsung menggigil. Saya bukan orang yang percaya diri menghadapi orang banyak, apa lagi menerjemahkan pendeta berkhotbah belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya mulai panik.

Sore pun tiba, saya tidak tau harus ngapain. Saya blank sama sekali. Bahkan saat si Pastor mulai berbicara, konsentrasi saya belum bisa terkumpul kembali ke dalam diri saya. Yang saya pikirkan adalah bagaimana pandangan orang terhadap saya saat itu. Saya lupa tentang hal lainnya. Apa lagi respon orang dalam pandangan saya saat itu seperti tidak puas dengan keberadaan saya. Pikiran saya mulai negatif, dan saya menyadari bahwa pesan yang ingin disampaikan si Pastor tidak tersampaikan dengan baik kepada jemaat yang ada. Saya benar-benar malu dan menyalahkan diri saya sendiri.

Lalu seselesainya ibadah, ada seorang ibu mendatangi saya. Beliau adalah salah satu pengurus di gereja tersebut. Dia berkata kepada saya,"Tidak apa-apa. Ini adalah langkah yang baik. Kamu sudah mencoba. Jangan patah semangat."

Saya tau maksud beliau menyemangati saya. Tapi saya tidak mengerti dengan benar inti dari kata-kata tersebut. Kemudian saya berkata,"Saya nggak bisa berpikir apa pun tadi di depan. Saya tau saya sudah gagal. Bukannya mengerti, tapi orang-orang malah bingung dengan ucapan saya."

Si Ibu tersebut menanggapi dengan senyuman,"Dek, kalau kamu jadi penerjemah, posisikan diri kamu itu sebagai pengkhotbahnya. Kamu bukan hanya sekedar menerjemahkan. Tapi Tuhan juga menaruh kuasa di setiap kata-katamu. Kamu juga harus menjadi dampak."

Saya terdiam mendengarkan perkataan beliau.

"Saya tau kamu grogi tadi sampai blank begitu. Tapi ingat, Tuhan sudah memberi kuasa kepada kamu. Jangan lupa. Jangan memikirkan diri sendiri, pikirkan bahwa ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan kepada mereka melalui kamu. Minta hikmatnya Tuhan, jangan hikmat kamu sendiri. Kamu terbatas. Pandang kepada Tuhan saja. Nggak usah mikirin pandangan orang tentang kamu, pikirin aja kira-kira Tuhan mau ngomong apa sama mereka. Dengar-dengaran sama Tuhan biar nggak miss. Oke!" Lanjut Ibu tadi.

Saya baru sadar kalau saya sudah menyangkal kuasa Tuhan secara tidak langsung. Saya pakai akal saya sendiri saat itu. Saya minta ampun sama Tuhan. Semalaman saya mempersiapkan diri untuk ibadah keesokan harinya di dua tempat berbeda, dan saya masih didaulat untuk menjadi penerjemah lagi. Semalaman juga saya nggak bisa tidur nyenyak. Kalau yang saya terjemahkan turis biasa sih nggak masalah, lha ini khotbah pendeta kalau sampai salah terjemahkan bisa bahaya saya pikir.

Malam berlalu dan saya siap-siap ibadah di gereja A. Saya lihat jemaatnya kebanyakan mbah-mbah. Saya agak santai karena jemaatnya juga tidak terlalu banyak. Tapi ketika pujian dinaikan, saya mulai sedikit gemetar lagi. Ada intimidasi dalam diri saya yang mengingatkan kejadian malam sebelumnya dimana saya gagal menyamaikan pesan Firman Tuhan oleh pastor tersebut. Tapi saya ingat kata-kata Ibu yang menasihati saya semalam. Bukan kekuaanku, tapi Dia yang mengutus aku.

Satu menit, dua menit saya enjoy menerjemahkan si Pastor berkhotbah. Dia ceritakan pengalamannya. Saya puas dengan diri saya sendiri saat itu. Saya bisa. Saya pikir saya bisa. Sampai akhirnya giliran saya harus mempersiapkan diri kembali untuk melayani di gereja B yang semalam sebelumnya saya jadi penerjemah gagal. Tubuh saya gemetar tidak karuan lagi. Hawa dingin merayap dari kaki sampai kepala. Saya kembali ketakutan. Saya mulai melihat jumlah jemaat. Terlalu banyak. Saya tidak siap. Semua yang saya pikirkan adalah diri saya sendiri. 

Saya seperti kehilangan kendali atas pikiran saya. Saya lupa lagi bahwa saya tidak boleh memakai kekuatan saya sendiri. Saya menemui Ibu Gembalanya, saya bilang,"Oma, saya gemetar. Saya nggak bisa. Saya nggak siap."

"Kamu kenapa? Nggak apa-apa ada Tuhan yang menolong kamu. Kamu nggak lihat?" kata Ibu Gemala.

Saya beralasan ini dan itu. Saya mendengar lagu penyembahan sudah dimulai dan itu semakin membuat saya berkeringat dingin. Saya terus gemetar, takut, tidak percaya diri. "Lha bagaimana? Apa saya yang gantikan? Saya kasihan sama kamu. Tapi kan Tuhan sudah mempercayakan kepada kamu pelayanan ini. Dia memberi kesempatan kepada kamu. Pikirkan dengan tenang dulu," sambung beliau.

Saya berpikir panjang. Di saat yang sama saya memikirkan diri sendiri, tapi saya juga memikirkan tentang Tuhan Yesus. Saya ingin lari menyelamatkan diri, tetapi saya masih berpikir bagaimana mungkin saya mengecewakan Tuhan saya? Tuhan bisa pakai orang lain selain saya bahkan mereka yang jauh lebih bagus dan berpengalaman, tapi apakah saya harus mundur hanya karena takut jika dilihat jelek oleh orang lain? Saya benar-benar menjadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri.

"Bukankah kamu kalau berdoa minta next level? Lha ini sudah dikasih kesempatan sama Tuhan lho. Jangan mengukur kekuatanmu sendiri, kamu akan gagal. Tapi lihat kepada Tuhan Yesus. Jangan kamu maju karena cuma ingin dilihat orang atau formalitas saja. Lakukan karena kamu mengasihi Tuhan. Pandang Tuhan Yesus, jangan pandang dirimu. Gimana? Bisa?" ujarnya lagi.

Setelah beberapa saat saya berpikir dan bisa menenangkan diri akhirnya saya bilang,"Ya , Oma. Saya siap. Oke. Saya yang terjemahkan."

Kami berdoa dulu sebelum memulai. Ibu Gembala mendoakan saya. Saya berdoa benar-benar minta kekuatan Tuhan. Karena saya tidak mampu lagi, tidak tau apa yang harus saya kerjakan. Saya meminta hikmat dari Tuhan supaya saya benar-benar bisa menjadi penyambung lidah Allah, bukan cuma sekedar menerjemahkan saja. Cuma satu hal yang saya doakan saat itu, saya mau menjadi perantara antara Tuhan dan jemaat-Nya.

Akhirnya Pastor mulai berkhotbah dan saya menerjemahkan. Masih sedikit gemetar tapi tidak lagi ketakutan. Saya benar-benar merasakan jamahan Tuhan saat itu. Hanya karena anugerah Tuhan, saya bisa melakukannya dan jemaat mengerti apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui pastor tersebut.

Saya baru menyadari ketika saat itu saya berdiri di mimbar di depan banyak orang, bahwa saya pernah meminta hal ini kepada Tuhan waktu saya masih sekolah enam atau tujuh tahun yang lalu. Saya pernah berdoa kepada Tuhan kalau suatu hari saya ingin Tuhan pakai untuk bisa menjadi seorang interpreter, terlebih untuk seorang hamba Tuhan. Saya bahkan sudah hampir lupa kalau saya pernah meminta hal itu, tapi Tuhan masih ingat dan Dia menggenapi apa yang menjadi kerinduan saya. He is amazing!

Kita mungkin sering berfikir bahwa mimpi kita terlalu besar. Tidak mungkin mimpi yang terlalu muluk bisa menjadi kenyataan. Satu hal yang saya pelajari adalah tidak ada mimpi yang terlalu besar atau pun terlalu mustahil jika Tuhan sendiri yang menaruh mimpi itu dalam hati kita. Hanya butuh keberanian untuk menanggapi mimpi itu. Bukankah kita diciptakan untuk menggenapi firman-Nya? Salah satunya adalah lewat mimpi kita dimana Tuhan bisa berkarya dan nama-Nya dipermuliakan lewat hidup kita.

Saya juga benar-benar disadarkan kembali untuk yang kesekian kalinya bahwa bukan karena kekuatan saya, semua karena anugerah Tuhan. Tidak ada hak saya untuk menyombongkan diri, karena hanya Tuhan Yesus saja yang layak menerima pujian. Bukan saya yang bisa, tapi Dia yang memberi kekuatan kepada saya. Tuhan Yesus benar-benar merontokkan kekuatan saya, pengetahuan saya, kesombongan saya, bahkan rasa percaya diri saya supaya saya benar-benar mengandalkan Dia saja bukan yang lain.

Kesaksian saya ini bukanlah untuk membanggakan diri saya sendiri. Saya menulisnya untuk mengingatkan bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan. Dia sudah merencanakan masa depan kita. Bahkan apapun juga yang menjadi impian kita jika itu baik di hadapan-Nya, Dia sanggup membuatnya menjadi nyata. Semua mimpi yang pernah kita doakan jika itu digunakan untuk kemuliaan nama Tuhan, pasti digenapi-Nya. Asal kita mengutamakan Dia dalam segala hal yang kita kerjakan. Tanpa Dia, rusaklah hidup kita.

Saya bersyukur mengalami hal-hal yang menakjubkan ini bersama dengan Dia yang mengaruniakan hidup kekal kepada kita. Dan saya masih menunggu mimpi-mimpi yang mana lagi yang akan digenapi oleh Tuhan.

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta Alam.” – Zakharia 4:6

God is good all the time and all the time God is good.

April 04, 2016

PUING-PUING MEMORI DI CAFÉ DAUN

Kembali ke kota asal, kembali ke kedai kopi favoriku. Nggak akan lengkap rasanya kalau nggak nongkrong di sini, di Café Daun. Sekalian untuk kembali mengenang jalan kenangan semasa aku sekolah disini. Hhmm…. Emang sih udah banyak yang berubah dari kota ini. Banyak bangunan baru yang dibangun disini sekarang. Tapi lebih banyak pohon yang ditanam di daerah sini, jadi semakin rindang. Wah, disini dulu aku memulai segala sesuatu. Hidupku, mimpiku dan cintaku (yang sudah usang untuk diceritakan pastinya).

Saat aku melangkah masuk ke dalam kedai ini, ada beberapa pelayan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sepertinya mereka pegawai yang baru bekerja disini. “Olivia!” seru seseorang dari salah satu sudut ruangan. Ko Yongki, pemilik kedai kopi ini. Dia terlihat sedikit lebih dewasa dari lima tahun yang lalu. Tapi masih terlihat keren.

Aku mendekat ke arahnya sambil melambai. Sekian lama tidak bertemu, ternyata dia masih mengenaliku. “Hai, Ko…. Gimana kabar?” sapaku.

“Selalu luar biasa!” jawabnya sambil merangkulku berjalan menuju counter. “Wah, si maniak kopiku kembali kesini! Aku akan membuatkan sendiri kopimu. Apa favoritmu masih sama?”

“Masih. Apa harganya juga masih sama?” tanyaku menggoda Ko Yongki yang selalu baik padaku.

“Uh-oh tentu saja harganya sudah naik sejak beberapa tahun yang lalu,” kata Ko Yongki sambil tertawa. 

Dia itu sudah seperti kakakku sendiri. Waktu aku masih sekolah di daerah sini, tempat inilah yang jadi tempatku menyepi. Kalau sedang banyak tugas yang nggak bisa kukerjakan sendiri, maka Ko Yongki lah yang membantuku menyelesaikannya. “Coffee Hot Chocolate!” serunya padahal aku hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri.

Aku mekangkah ke kursi paling pojok dekat dengan vas bunga besar di belakang sana. Itu kursi favoritku dulu. Dari situ aku bisa melihat langsung ke arah taman kota dan tempat paling jelas untuk melihat band corner yang ada di sebelah kanan counter. Tidak banyak berubah dengan tata ruang tempat ini, hanya saja Ko Yongki menambahkan beberapa ornamen klasik yang membuat café ini lebih terlihat unik.

“Sendirian aja?” tanya Ko Yongki. Aku mengeryitkan dahi tanda tidak tau maksudnya. “Kamu nggak sama si Maniak Cappuchino?”

Oh, dia menanyakan Steven, seseorang yang selalu bersamaku dulu sekali setiap kali aku pergi kesini. Dia memang penggila Cappuchino. Setiap orang yang kenal sama dia pasti tau minuman favoritnya. Satu lagi kenangan kembali muncul di tempat ini. Orang itu, sudah kuduga juga Ko Yongki masih mengingat dia. 

“Oh, Steven? Nggak.”

“Kalian nggak lagi ada masalah kan?” tanyanya serius. 

Wah, matanya sedikit membuatku takut. Sepertinya dia belum mengetahui cerita kami.

“Jangan memandangku aneh begitu donk!” kataku sambil memandang ke arah lain. 

Aku tidak menyangka harus menjawab pertanyaan semacam ini pada Ko Yongki. Tapi aku siap memberi komentar untuk hal itu seperti yang biasa kulakukan. Aku menarik nafas panjang untuk menjawabnya. “I broke up with him, after I entered the university. But we still keep in touch. We're good as a friend.

Oh, I’m sorry,” kata Ko Yongki. Dia mencoba untuk tidak membuatku merasa bersedih. “Sayang sekali. Padahal kalian terlihat sangat cocok. Banyak yang iri pada kalian. Bahkan aku sendiri waktu itu juga sempat iri saat hubunganku dengan Juju sedang ada masalah.”

“Terlihat cocok? Opini pribadimu saja, Ko. Entahlah. Yang penting semuanya baik-baik saja. Aku dan dia nggak musuhan,” jawabku sambil meminum sedikit kopiku.

Ko Yongki mengerti kalau aku tidak ingin membicarakannya. Kalau dipikirkan kembali tempat ini memiliki banyak sekali kenangan antara aku, kopi, hujan dan dia. Disinilah kami menghabiskan waktu ketika nggak ada sesuatu hal yang bisa kami kerjakan. Tempat yang tepat untuk bersembunyi saat membolos di jam pelajaran matematika. Tempat untuk memandangi hujan dan menghirup tanah yang basah favoritku yang lainnya selain kopi tentunya. Tempat kami merayakan ulang tahun masing-masing, dengan secangkir kopi dan sepotong tiramisu cake. Tempat ini juga menjadi tempat kami bertengkar ala anak sekolah, saling cemburu dan saling memaafkan, meninggalkan dan kembali datang, menangis dan tertawa, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku seperti mengais kembali memori-memori yang sudah hampir hilang tertutup oleh hal-hal lain. Seakan memori itu telah menjadi puing-puing bersejarah yang berhasil ditemukan kembali. Lebay!

“Bumi menghubungi Olivia,” kata Ko Yongki, tangannya membentuk antena di kepala. Dia membuyarkan lamunanku.

“Eh, ada apa?” tanyaku terkejut belum terlalu sadar dengan yang dikatakannya.

“Barusan tadi pikiranmu seperti keluar jauh entah ke planet mana. Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ko Yongki usil.

“Apaan sih. Bagaimana kabar Ce Juju?” tanyaku mengalihkan perbincangan.

“Dia sangat sibuk sekarang ngurusin bisnis online-nya. Ah, aku belum cerita padamu kalau kami sudah menikan setahun yang lalu kan?” Ko Yongki antusias mengatakan soal pernikahannya padaku.

“Iya, karena Koko terlalu semangat untuk mengorek masa laluku yang menakjubkan,” jawabku berpura-pura sinis. “Aku dari tadi melihat cincin yang melingkar di jari manismu itu. Tapi Koko nggak cerita-cerita.”

“Haha…. Maaf aku lupa. Aku juga mau menghubungimu dulu waktu aku mau menikah dengan Juju dulu, but you disappeared from this town.” 

Kemudian dia menceritakan dari awal sampai akhir bagaimana dia dan Ce Juju menikah. Senang sekali mendengar cerita tentangnya. Aku tau bagaimana perjalanan mereka menjalani masa-masa menyenangkan saat masih berpacaran sampai tunangan. Benar-benar membuatku iri. Sementara aku sendiri? Memang benar kata orang, belum tentu hubungan yang terjalin lama bisa berhasil sampai ke puncaknya. 

Haha aku hanya meringis mengingat diriku sendiri. Mungkin banyak orang menganggapku bodoh sampai hari ini. Aku mau melepaskan sesuatu yang mungkin pasti hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas dimana akhir ceritanya. Tapi yah, aku sudah memutuskan hal itu. Just be positive, it is not my time to find that kind happiness.

February 07, 2016

SI ARANG DAN SANG BERLIAN

Si pecinta datang kembali dengan cerita yang sama tetapi berbeda. Hey, pernah dengar ada seseorang yang mengharapkan cerita cintanya sama seperti drama-drama Korea romantis yang menguras air mata pemirsanya? Haruskah saya mengatakan kalo pecinta itu adalah saya? Sedikit naif kalau mengingkarinya. Entah cerita yang bagaimana yang harus diciptakan kembali untuk menutup cerita yang pernah saya mulai sendiri itu. Kadang jujur terhadap tulisan sendiri itu susah. Yang pasti tidak semua cerita itu berakhir bahagia, paling tidak untuk sisi yang lainnya.

Tidaklah penting melihat seseorang sebagai juara hanya dari cara mereka memosisikan cinta. Setidaknya untuk kasus saya. Apakah saya terlihat sebagai seorang penyeleweng hanya karena mengingini seseorang seperti dia? Siapapun kalian, saya akan tetap mengatakan hal yang sama. Kalian tidak tau apapun tentang saya. Tidak tentang masa lalu ataupun masa kini saya. Sama seperti dia yang memiliki hak untuk menolak siapa saja yang ingin datang kepadanya, begitu juga saja berhak untuk mengingini siapa saja yang saya mau. Bukan egois, tetapi lebih realistis.

Saya sih tidak terlalu kecewa ketika jawabannya adalah tidak. Karena sudah saya duga jauh sebelum dia mengatakannya. Sudah sering saya bilang dunia saya dan dunianya itu berjalan sejajar sehingga tidak ada ujung temunya. Ibarat rel kereta api yang tidak bisa memaksa untuk membelokkan diri ke satu sisinya supaya bisa bersatu.

Sebenarnya dia dan saya memiliki kesamaan yang mutlak. Kami sama-sama kuat. Saya kuat menunggunya, sementara dia kuat mengabaikan saya. Kesamaan yang membedakan kami selamanya. Ibarat unsur atom karbon yang menghasilkan dua bentuk yang berbeda, berlian dan arang. Bisa ditebak bahwa dialah sang berlian dan saya si arang. Dia itu barang mulia yang duduk manis di etalase toko perhiasan mewah. Kalau saya hanya si hitam yang mondar-mandir di pinggir perapian sambil membayangkan seandainya bisa disandingkan dengan sang berlian di etalase kristal itu. Tapi tentu hal yang sangat mustahil bukan. Dia dicipta untuk menerima sanjungan sebagai permata termahal yang hanya bisa dibeli oleh orang berduit dollar. Saya hanya sebatang arang yang menunggu api melumat sampai menjadi abu. Jauh berbeda meski berasal dari unsur yang sama.

Kalian bertanya apa saya menyesal pernah menginginkan berlian itu? Tentu tidak. Hidup itu adil, kawan. Ia hanya punya cara mainnya sendiri yang misterius. Saat ini saya ada di tempat ini, siapa tau suatu saat di waktu yang tidak terduga saya bisa ikut dipajang di etalase mewah itu. Kalaupun tidak, bukanlah masalah. Ada hal yang jauh lebih besar yang bisa saya kerjakan disini. Mudah saja. Buat apa pelihara luka hati yang hanya bikin mata berair?

November 26, 2015

FAREWELL

Bagaimana Perasaanku? Siapa yang bisa menjawab? Apakah senang? Apakah sedih? Atau biasa-biasa saja? Semuanya tidak pasti. Tidak bisa digambarkan. Seandainya ada warna yang pas untuk mewakili perasaanku ini, warna itu pasti tidak akan menarik. Mungkin tidak merah, tidak hijau, tidak biru, ataupun hitam. Kotor.

Coba lihat saja sekeliling ini. Sudah berdatangan orang-orang untuk menyelamati kami. Tapi itu malah membuatku serba salah. Apakah senang ataukah sedih? Sekali lagi tidak bisa terjawab. Hari ini terakhir. Besok ujungnya. Berjalan memakai baju yang indah, sepatu mahal, make up paling cantik bahkan senyuman terbaik pun belum bisa menenangkan hati ini.

Aku berpikir, apa gunanya senyuman terbaik? Apa gunanya sepatu mahal? Apa gunanya menjadi yang terbaik besok kalau ujungnya tidak bersama lagi? Menyenangkan memang bisa mengakhiri semuanya dengan senyuman. Tapi apakah masih tetap menyenangkan kalau tidak bisa saling mengejek satu sama lain lagi? Apa masih tetap menyenangkan jika tidak bisa saling menertawakan lagi? Apa enaknya tidak bisa saling bertemu dan bertegur sapa? Apa serunya jika tidak bisa saling marah lagi?

Disini tempat kita pertama kali bertemu sebagai orang asing. Disini juga akan menjadi tempat perpisahan kita sebagai sahabat yang akan saling kehilangan. Kalau aku bilang jangan pergi, apa hakku? Siapa aku? Pada akhirnya hari esok harus tetap terjalani, suka atau tidak suka. Dan entah kapan lagi bisa bertemu. Bisa jadi ini hanya awal, bisa jadi juga ini adalah akhir.

Terasa sesak di dada ini. Mau teriak takut dilempari orang. Mau menangis sudah terlalu cengeng. Mau marah nanti dikira stress. Tapi diam saja membuat hati ini terganjal. Serasa telinga ini sudah tersumbat. Pekak. Terlalu banyak hal yang otakku teriakkan sampai tidak ada suara lain lagi yang bisa kudengar.

Mungkin rasa ini hanya aku..... Hanya aku.....

November 10, 2015

MENCINTAIMU SAMPAI DETIK INI

Taukah kamu bahwa aku sedang memposisikan diriku sebagai seseorang yang memujamu dari ujung kaki sampai ujung kepala? Kamu memang gambaran yang sempurna yang mampu aku bayangkan sampai detik ini. Manis, berwibawa, memesona, pandai dan misterius. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk mencintaimu. Aku selalu berharap kamu tau dan melihat bagaimana rasa yang kumiliki padamu. Namun nyatanya kamu menganggapku sama seperti perempuan lainnya yang memposisikanmu sebagai pengagum, bukan pecinta. Padahal kalau boleh jujur sedikit padamu, aku bukan sekedar fans yang hanya bersorak saat kamu gemilang. Aku penggemar nomor satumu yang mengagumimu karena apa adanya kamu.

Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Yang bisanya hanya berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini. Kamu tau tidak rasanya menjadi perempuan yang setiap hari kerjanya bertanya-tanya, kesana-kemari, mencari bayanganmu, sementara kamu melenggang seenaknya seakan kamu tidak melihat betapa aku memperhatikamu? Kamu tau bagaimana sesaknya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu karena aku tau diri bahwa memang tidak pernah ada sesuatu diantara kita? Bagaimana capeknya menjadikan diri sebagai orang yang terus berharap meskipun tidak ada jaminan bahwa kamu akan melihatku suatu hari nanti, kamu tau rasanya?

Mungkin, kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta kepadamu. Bisa jadi ceritanya panjang kali lebar kali tinggi. Tapi cobalah duduk sebentar dan lihat mataku dalam-dalam. Aku memang sudah memperhatikanmu sejak lama, bertahun-tahun, meskipun aku tidak tau bagaimana kamu, bagaimana kehidupan sehari-harimu, latar belakangmu, siapa saja kekasih atau gebetanmu. Aku mencintaimu mungkin karena kamu tampan, mungkin karena kamu pandai, mungkin karena kamu gemilang, mungkin karena kamu tinggi. Semua itu hanya mungkin. Tapi yang aku tau pasti aku mencintaimu karena itu adalah kamu. Seandainya itu bukan kamu, pasti aku tidak akan menyukaimu. Meski kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tau alasanku itu.

Sebenarnnya dadaku begitu sesak. Tapi tetap kutahan tangisku supaya tidak jatuh saat mereka selalu menyebut namamu di sekitarku. Namamu itu seperti candu bagiku, menyenangkan, memabukkan tetapi mematikan. Aku bergembira saat mendengar namamu disebut, tetapi aku juga tidak bisa menahan diriku tertusuk amarah yang sebenarnya tidak aku pahami. Karena sangat susah untukku meraba-raba hatiku sendiri dan hatimu. Apakah hatiku akan baik-baik saja atau malah teriris luka kalau aku mencintaimu.

Seandainya kamu tau, sakitnya bukanlah sakit yang paling sakit. Lebih dari itu. Adakah yang lebih menyakitkan daripada ditinggal orang yang paling kamu sayang? Tentu saja ada! Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang terus bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. Saat aku dekat denganmu, tapi tidak bisa kuungkapkan perasaanku. Aku hanya perempuan yang gemar menunggu, selalu menunggu, berharap kamu datang dan tersenyum padaku. Terlalu tinggikah harapanku? Terlalu berdramakah aku? Terlalu membawa perasaan kah aku? Apa mungkin kamu terlalu tinggi untukku? Atau terlalu sempurna untuk ku miliki? Aku tidak tau.

Seandainya kamu sadar bahwa kamu selalu membuatku tersenyum ketika aku membayangkanmu. Kamu sering membuatku tertawa dalam hati saat aku mengingat tingkahmu. Dan kamu membuat jantungku berdebar saat kurangkai tatapan matamu dalam pikiranku. Tapi kamu, orang yang membuatku tertawa paling kencang adalah orang yang membuatku menangis paling kencang juga akhir-akhir ini. Aku jatuh cinta sendiri.

Aku senang menulis tentang kamu karena dalam tulisanku sosokmu bisa abadi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
This is my private life, but I am glad to share it with you guys. If you are willing, let's hear the song together heheh..... It is a nice song.... Please check the link below ^.^

November 02, 2015

IT IS ALWAYS HARD TO SAY GOOD BYE

Hari itu waktu hujan cuma turun lima menit lalu berhenti, turun lagi lima menit lalu berhenti lagi dan begitu seterusnya, temanku berkata, "Ah, Tuhan cuma bohong nih." Aku tertawa lalu kujawab, "Mungkin Dia bergurau." Tapi sudah puas bagiku mencium bau tanah basah yang hanya sebentar saja. Rasa rinduku terhadap hujan selama ini terobati.

Sekarang aku punya hobi baru yang sebenarnya lama. Jalan-jalan. Hanya jalan-jalan saja mengikuti kemanapun langkah kaki mau pergi. Aku jadi suka jalan kaki sejauh-jauhnya sampai kaki capek. Paling tidak bisa menghilagkan stress terkurung di kamar. Lagi pula menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang aneh ini. Sekalian menghindari acara bergosip ria yang biasanya menjadi aktifitas rutin di kamar oleh orang-orang yang suka membuat orang lain jadi lebih populer. Kalo aku lebih suka jadi populer daripada menjadikan orang lain populer, makanya aku nggak suka gosip. Eh, tapi aku suka gosip juga sih, asal nggak bikin penyakit. Kalo sama orang-orang aneh ini topik bergosipnya beda, mulai dari masalah negara sampai masalah film yang tidak lulus sensor di negeri ini. Lebih menyenangkan dibandingkan menggosipkan teman sendiri bukan?

Mungkin orang berkata kalo aku ini 'si kaki gatal', 'kuda lepas dari kandang', atau apa lagi yang mereka pikir kenapa aku jadi suka pergi-pergi, ya itu sih urusan mereka. Aku memang begitu kok. Yang penting waktu yang tersisa kurang dari satu bulan ini bisa jadi hal yang nggak akan membuatku menyesal karena melakukannya. Kalo sebagian besar orang sudah berpikir tentang pekerjaan, aku malah berpikir bagaimana memanajemen waktuku supaya hari-hari yang singkat ini jadi lebih panjang. Bukannya nggak mikir kerjaan, tapi kalo sudah kerja nggak akan ada lagi haha-hihi bersama orang-orang ini. Kerja itu pasti, tapi momen yang begini nggak akan bisa diulang lagi. Dan itu pasti sangat menyebalkan.

Ada acara kami jalan-jalan sejauh berkilo-kilo meter cuma untuk membeli Crepes seharga 1500 rupiah, sudah puas meski tidak membuat kenyang. Lalu minum es kelapa seharga 2500 rupiah, meski kurang gula tapi tetap terasa manis karena kami sambil menertawakan satu sama lain. Lalu pulang lagi lewat jalanan yang gelap dan banyak bangunan-bangunan kosong yang mungkin dihuni oleh kawanan hantu. Hantu? Iya hantu, barang halus tak kasat mata yang banyak ditakuti oleh manusia. Sejujurnya kami takut juga, untung tidak ketemu mereka betulan. Teman A berkata kalo dia tidak takut hantu karena dia tidak pernah ketemu hantu. Kalo aku percaya mereka ada karena aku pernah lihat mereka. Teman B berkata percaya mereka ada tapi nggak pernah lihat. Paling konyol Teman C, dia percaya kalo hantu itu ada karena semua temannya adalah hantu. Temannya siapa? Ya kami ini. Ah, sial! Dasar manusia langka!

Teman A berkata kalau setelah akhir bulan ini dia pasti bakalan merasa sendiri lagi seperti empat tahun lalu. Dia akan sedih waktu nanti mengantarkan sahabat-sahabatnya ke bandara untuk pulang ke tempat masing-masing. Meskipun menurutku dan banyak orang lain kalo bandara itu keren karena bisa naik pesawat, tapi menurut si kawan ini bandara adalah tempat paling sedih. Karena bandara adalah tempat perpisahan dengan orang-orang terdekat kita untuk waktu yang sangat lama. "Kalau begitu stasuin juga dong?" tanyaku. "Stasiun itu cuma mengantar orang ke beda kota dalam satu pulau. Kalau bandara mengirim orang ke beda kota di beda pulau bahkan beda negara," begitu jawabnya sedih. Asal tidak beda dunia saja pikirku. Aku jadi ikut sedih. Ah, teman, kenapa harus ada perpisahan? Karena ada pertemuan jawabnya. Enteng sekali jawabannya, tapi berbobot.

Masih banyak hal-hal yang terekam di memori ini bersama dengan mereka. Dulu yang kami saling tidak kenal menjadi sangat akrab di akhir waktu-waktu ini. Pergi ke rumah si teman A yang punya sapi sebesar gajah. Ah, bahkan sapi yang akan dibikin sate nantinya saja bisa gemuk, aku susah sekali gemuk. Lalu naik gunung. Itu pertama kalinya aku naik gunung pakai motor. Adrenalin guys! Makan di tempat mewah padahal duit cuma tinggal 20.000 rupiah. Ah, masih banyak lagi. Semua membuatku semakin tidak ingin pergi. Aku hanya berharap setelah akhir dari bulan ini kami masih bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama lagi.

Kalau si Kawan bilang ada perpisahan di setiap pertemuan, aku berharap di setiap perpisahan akan selalu ada pertemuan kembali. Itu saja. Dan semoga mereka tidak akan lupa terhadap si kayu arang* ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Arang dan Berlian, Sama Unsur Beda Nasib. Tunggu ceritanya disini!! ^-^

October 25, 2015

SEKEDAR CERITA

Sulit untuk menjelaskan perasaan seperti apa yang merasuk ke diriku saat ini. Aku tidak yakin apakah malam itu akan menjadi yang terakhir buat kami. Kalau memang malam itu adalah terakhir kami bisa berkumpul bersama, berarti waktu yang tersisa untuk kami kurang lebih hanya sekitar satu bulan. Itu pun kalau kami benar-benar bisa menggunakan waktu sebulan kami secara utuh. Setelah itu entah kapan lagi kami bisa berkumpul bersama-sama lagi.

Mungkin aku saja yang terlalu melankolis menganggap bahwa ini adalah akhir dari sebuah perjalanan yang kulalui bersama dengan mereka. Beberapa tahun aku bersama-sama dengan mereka. Suka, duka, jengkel, kecewa, kasih, pengorbanan dan pengampunan itulah semua hal yang aku pelajari dari mereka. Meninggalkan tempat ini bagiku serasa meninggalkan sarang yang selama ini membuatku hangat. Seumpama seekor anak rajawali yang sudah bisa terbang, dia harus keluar dari sarang meninggalkan tempat berlindungnya, meninggalkan orang tuanya, meninggalkan semua kenyamanannya. Mencari makan sendiri, terbang sendiri, menghadapi bahaya dengan keyakinan sendiri. Semua serba sendiri.

Selain itu, setidaknya kalau disini aku masih bisa melihatnya. Aku tidak tau bagaimana ceritaku akan berakhir. Kami sedang saling diam, sunyi. Menanti apa yang akan memecah sunyi. Entah tangis atau tawa. Semua orang sudah tau. Biar saja. Tinggal sebulan lagi, tidak jadi masalah. Setelah itu baru akan aku putuskan apakah aku akan bertahan atau menyerah saja. Karena sekeping hatiku sempat berujar, "Mungkin ini bukan cinta." Jika sekeping yang lain menegaskan, "Memang bukan", sudah. Tamat.

Terasa semakin jauh, bukan karena kita jauh. Terasa hilang padahal aku tidak pernah memiliki. Bagaimana bisa aku mengharapkannya kembali, sementara dia masih ada di sini? Di hati yang tak pernah menganggapnya pergi. Dari jauh aku beruacap sombong, "Jangan pedulikan aku." Seakan-akan kamu pernah peduli pada aku. Konyol.

Malam itu, aku suka matanya meski dia tidak melihatku. Aku suka suaranya, meski bisa dihitung jari berapa kali dia berbicara padaku selama ini. Aku suka senyumnya, meski senyuman itu bukan untukku. Aku suka dia, meski hanya punggungnya saja yang menjadi bagianku selama ini. Seandainya masih banyak waktu yang tersisa, aku mau terus disini saja. Ah, konyol. Aku berhasil patahkan kata, membungkam suara, memendam rasa, namun gagal menyumbat tangis.

Kamu; sejuk udara pagi yang hilang termakan siang.

Kamu; api pada pucuk lilin yang rentan mati.

Kamu; lembaran cerita yang hilang sebelum terbaca dalam sebuah novel cinta.

Aku; air laut yang menguap sebelum membasahi pasir pantaimu, lalu hilang di antara awan mendung.

Aku; kebahagiaan sesaat di saat dekat, kemudian hitam pekat saat jauh dan tak terlihat.

October 14, 2015

IRONI WAKTU DAN ORANG ITU

Ternyata sudah di ujung tahun ini. Serasa waktu terlalu cepat berlalu setelah aku sampai di titik sini. Hari ini akan segera berlalu seperti hari kemarin. Padahal aku mengharapkan sebaliknya.  Berulang kali ku ucapkan ingin membekukan waktu supaya aku bisa tetap di momen ini. Sadar bahwa waktu ini akan segera berlalu, hati ini serasa memberontak tidak setuju. Senang tetapi sedih. Karena aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah masa ini berlalu. Bukan tidak percaya masa depan, tetapi sangat susah untuk melepaskan masa kini.
Satu persatu dari orang-orang ini telah pergi menuju masa yang baru yang kelihatannya akan sangat berbeda dengan masa kini. Berjuang untuk mandiri, bertahan meski tanpa ada kami-kami lagi yang saling merangkul dan menuntun. Semuanya berawal dari nol kembali di tempat asing yang jauh berbeda dari tempat ini. Tempat yang mungkin setiap orang membesarkan egonya masing-masing, saling makan, saling terkam. Kalian sebut pengalaman baru, aku sebut proses yang baru.
Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana aku menjalani hari-hari ini dengan tidak sia-sia. Karena jika hari ini aku masih bisa berhaha-hihi dengan kumpulan orang ini, mungkin besok aku menangis dengan diriku sendiri. Waktu tidak bisa kugenggam, sehingga tiap-tiap orang ini akan segera hilang juga bersama dengan detik-detik sang waktu yang tidak pernah berhenti berputar. Setiap hal yang ada hari ini akan menjadi kenangan esok hari.
Bagi beberapa orang mungkin hari-hari ini sangat menjenuhkan. Aku juga merasa begitu. Yang berbeda adalah meski aku merasa jenuh tapi aku tetap semangat menjalani setiap momen yang terjadi hari-hari ini. Bahkan aku berharap tidak ada yang namanya libur. Inilah pertama kalinya aku agak membenci hari libur. Aku tau karena tidak banyak waktu lagi yang tersisa bersama orang-orang ini dan bersama orang itu. Ya, orang itu. Meski keadaan kami masih tetap sama tidak saling bicara. Aku menyapanya tentu saja, tapi orang itu diam saja karena aku hanya menyapanya dalam hati. Mungkin dia tidak dengar hati ku berteriak.
Yang kusyukuri adalah aku masih bisa mendengar suara orang itu hari-hari ini. Aku masih bisa melihat orang itu berlalu di depanku meski hanya punggungnnya saja yang terlihat oleh ekor mataku. Sekilas aku masih bisa melihat senyum orang itu mengembang meski aku tidak yakin apakah itu memang benar-benar senyuman atau bukan. Mungkin setelah hari-hari ini suara orang itu tidak akan terdengar sampai ke telngaku lagi. Mungkin juga senyum orang itu tak akan bisa terlihat oleh pandanganku lagi. Atau bahkan bayangan orang itu saja tidak akan pernah lagi tertangkap oleh sudut mataku. Kalau ingat hal itu, betapa aku bersyukur Tuhan masih memberikan hari ini kepadaku.
Mereka dan orang itu tidak tau betapa aku sangat bergembira hari-hari ini. Mereka dan orang itu juga tidak akan pernah tau kalau aku menyembunyikan kebiruanku dalam tawaku. Aku mencoba untuk tertawa bersama mereka dan menikmati setiap candaan bersama mereka. Tapi jika sepi itu datang lagi, tawa yang renyah di mulutku itu terasa hambar, dingin dan sendu. Tawa kah ini, atau sekedar suara haha-hihi palsu yang dimanipulasi oleh pita suaraku? Aku tidak tau.
Bagi orang itu mungkin aku hanya hembusan angin yang sekedar lewat kemudian hilang. Mungkin begitu. Aku sadar juga. Hanya saja aku masih beharap hembusan angin yang tidak seberapa ini sempat membuat orang itu merasa sejuk untuk sesaat. Meskipun bukan orang yang  menyenangkan, tapi bagiku orang itu adalah sesuatu semacam anugerah kecil yang bisa membuatku tersenyum meski hanya memikirkannya.
Ironi, anugerah kecil yang membuatku bersyukur sekaligus bersungut. Ironi, aku sangat menikmati hari-hari ini meskipun aku merasa sangat jenuh dan bosan. Ironi, masih memandang orang yang bisa membuat ku tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan. Ironi, aku menyimpan rasa itu hingga sekarang meskipun sudah usang dan membusuk. Ironi, cerita ini ironis.

---------------------------------------------------------------------------------------------------
So this is the old song from Tablo ft. Taeyang (Bigbang). I love this song. If you want to hear it, please check the link below.

August 04, 2015

LET’S NOT FALL IN LOVE

This is the translation of Let's Not Fall In Love (우리 사랑하지 말아요), the new single of Bigbang in MADE Series "E". I am in love with this song. This is one of my favorite songs of Bigbang (i.e. Haru Haru, Love Song, Fantastic Baby, Bang Bang Bang, We Like 2 Party, If You, etc).

They have a good taste in their lyrics. So do I, I have a good taste in a good song hahaha.... I have been loving them from the first time I knew them 7 years ago, and I am still in love with Bigbang now. Some people say that their image as the bad boys make them unworthy to become an idol. They are probably right. But for me, they are still my bias. I love their songs, I appreciate their works out of their personal life. We will never find the perfect person until we can see the imperfect person perfectly.

I have a good edvice for people who judge them bad: Everyone has a story left untold, so never judge someone as if you know their entire life story because the truth is, you probably don't. Your life is not necessarily better than theirs. If you like the song then listen to it, but if you don't so just ignore it. Just make it simple. :)

Okay then, for BIGBANG Oppas, I love you all, I love your works. I am your big fangirl and forever I am. ;)

I have the English lyrics, I don't know the Hangul version..... (Love, VIP).

Let's Not Fall In Love (우리 사랑하지 말아요)
By. BIGBANG

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you

Don’t ask me anything
I can’t give you an answer
We’re so happy as we are right now

Don’t try to have me
Let’s just stay like this
You’re making it more painful, why?

Goodbyes after our frequent meet-ups
Repetition of broken hearts
I can’t find a purpose in these foolish feelings
A mistake with the mask of love
All the feelings are the same now
But in this moment, I want you to stay

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you

Don’t smile at me
If I get attached to you, I’ll get sad
I’m afraid that pretty smile will turn into tears

Don’t try to trap us
In the word, love
Because it’s a greed that can’t be filled

At first, it was half excitement, half worries
But in the end, it became an obligation, trial and error
Day by day, I get nervous, your innocence is too much pressure on me
But tonight, I want you to stay

Don’t expect too much from me
I don’t wanna lose you either
Before things get too deep, before you get hurt
Don’t trust me

You’re always like that
Selfish bastard

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you
_________________________________________________________________________
This is the Music Video of Let's Not Fall In Love. If you love the song or just wanna try to hear it, please check the link below. If you don't like (or maybe you are haters) just skip it. :) Just kidding.
Please enjoy it.
https://www.youtube.com/watch?v=pN3qHbwfcrE&feature=share

July 26, 2015

PEREMPUAN KACA DAN LAKI-LAKI MAYA

Sebuah pertemuan singkat yang bisa merubah suasana hati secara mendadak. Meski tanpa sapa dan tanpa bicara. Cukup puas bagiku melihatmu ada di sebelah sana. Ah…. Menyenangkan sekali meskipun hanya beberapa saat. Serasa ada ratusan kupu-kupu beterbangan dalam hati. Menggelitik sekaligus asik. Si perempuan kaca kembali terpesona dengan keindahan laki-laki maya dalam pantulan cerminnya sendiri.

Wah, relativitas waktu bekerja secara nyata saat aku melihatmu hari ini. Aku makhluk fana merasakan kekekalan sesaat ketika ada dirimu disekitarku. Entah bagaimana logikaku berjalan, sungguh aku tidak bisa menutupi kegiranganku. Bahkan mungkin kamu sudah bosan dengan tingkahku, tapi inilah aku yang tergila-gila padamu.

Seandainya saja hidup tidak berevolusi, seandainya saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil, seandainya saja waktu mampu berhenti di satu titik, maka tanpa ragu aku akan memilih satu detik bersamamu untuk diabadikan. Cukup satu detik. Hanya satu detik, untuk mengendapkan kenangan-kenangan itu dan menjadikannya prasasti yang cukup pantas untuk dikenang.

Memang benar, aku bukan orang yang pandai merangkai kata. Apalagi seperti pujangga yang pandai melukiskan keindahan ke dalam bait-bait prosa. Yang kubisa hanya diam. Namun dalam diamku, aku mendengar banyak sekali suara. Diamku berkata-kata. Menceritakan tentang wajahmu, matamu, senyummu dan bahkan cara jalanmu yang hening seperti angin semilir. Aku diam bukan karena aku tidak ingin berbicara denganmu, tapi aku menyapamu dalam hatiku.

Aku tetap menginginkamu, tapi tidak lagi dengan keserakahanku. Karena lebih baik memandangmu dari jauh sebagai karya yang maha agung. Lebih indah. Lebih mewah. Meski tidak begitu memuaskan hati ini. Aku cukup tahu diri untuk menyadari bahwa aku pasti akan berhenti dengan semua ini pada satu titik suatu saat nanti. Maka, sebelum semua layak untuk dilupakan, akan lebih baik aku menceritakannya. Tentang perempuan kaca dan laki-laki maya yang sudah terputus tali penghubungnya. Supaya ketika aku lelah suatu hari nanti, aku bisa berhenti dan menoleh kembali bahwa pernah ada cerita tentang kita yang meniti jalan berbeda.

Ada dunia di sekelilingku. Ada kamu di sekitarku. Namun, aku mendamba rasa sendiri itu. Yah, semua hanya obsesi pribadiku.

_____________________________________________________________________________ .
NB: There is a song that I love. Actually two songs, but I'm not sure about the Korean song's meaning. I just love the video and of course it has a beautiful voice.... Just enjoy it. :D Happy Listening.....
https://www.youtube.com/watch?v=76WzNEkJvuA (Lilo&Stitch "Can't Help Falling In Love With You")
https://www.youtube.com/watch?v=RCYAncxTvfI (Davichi "Move Out")

July 20, 2015

VAMPIRE DAN 'TEMAN BENERANNYA'

Hari ini banyak banget hal yang terjadi yang bikin ngakak sampe terkencing-kencing di celana. Entah hari istimewa apa ini, cuma yang gue ingat ini adalah malam Selasa. Yang kata orang sih 'barang-barang begituan' biasa muncul nampakin diri.

Jadi ceritanya dimulai dari tadi siang yang gue isi dengan bermakeup ala cosplay vampire, setelah sejak pagi kerjanya cuma tiduran main game di hape yang nggak seberapa itu. Makeup yang gue pake cuma ala kadarnya aja sih kayak yang biasa gue pake, tapi berhasil juga bikin temen kamar sebelah teriak ngelihat penampakan gue siang bolong tadi.

Awalnya sih cuma karena pengen gambar-gambar sesuatu aja, tapi nggak mau di buku gambar. Malam sebelumnya gue udah gila aja mainan makeup di muka, coret-coretin kayak wayang gaul gitu. Eh, kepikiran gimana kalo bikin vampir aja. Lagian belum pernah juga makeup ekstrim kayak begini. Hehhm, habis sudah gue bikin muka gue nih! coret sana coret sini akhirnya jadi lah bentuk yang seperti ini....

Awalnya gue ngerasa kayak 'wah ini keren', tapi habis gue upload di sosial media gue jadi kayak 'nggak bener nih'. Jadi banyak yang komen. Gue malu sendiri, bukan karena makeup yang gue bikin jelek, masalahnya gue yang makin kelihatan jelek disitu. Hadeeeehhh..... Mau dihapus juga udah terlanjur, ya mendingan nungguin seminggu lagi aja, sampe orang lupa. 

Temen sebelah kamar gue yang tomboy abis bisa teriak juga rupanya pas dia lihat gue jalan di lorong. Padahal siang bolong tuh. Nggak nyalahin juga sih, soalnya gue juga ilfeel sendiri lihat tampang gue waktu itu. Agak bangga aja bisa bikin orang teriak ketakutan hahah.... Mission complete!! Yayy!!

Habis seneng ngerjain temen pake makeup gila itu, akhirnya anak gue yang bungsu (anak gue yang umurnya cuma beda setahun sama gue hahah) dan temennya ngajak jalan. Dia merdeka banget jalan sama gue kemana aja selama kakaknya, anak sulung gue (yang usianya lebih tua setahun dari gue) pulang ke kampung halamannya.

Habis mandi dan siap-siap dandan rapi, kami bertiga jalan ke salah satu tempat makan yang agak jauh dari rumah. Secara dari siang belum pada makan akhirnya kami cari tempat yang bisa makan puas pake ayam hahahah.... Setelah kenyang makan dan sharing, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu mall yang nggak jauh dari tempat makan tadi.

Di mall itu kami cuma muter-muter aja, rencana mau beli diskonan ternyata nggak ada yang diskon. Akhirnya kami cuma lihat-lihat barang doang nggak beli. Terus kami berhenti di rak susu botol. Lagi asik kami ngobrol-ngobrol, datanglah anak kecil sama bapaknya. Anak itu cantik banget, cina-cina gitu. Dia malu-malu lihat kami sambil senyum-senyum. Entah kenapa dia kayak gitu, namanya juga anak kecil. Eaaahhh, pas lihat Papanya!! Waduh sodara! Ganteng banget papanya! Temen anak gue yang nggak biasa melongo kalo liat cowok pun jadi ikut-ikutan terpaku gara-gara papa si anak kecil cantik tadi! Udah tau punya anak pun, papa muda itu tadi juga salah tingkah di depan kami. Makin aneh lah kami rasa. Lucu.

Akhirnya dia ngajak anaknya pergi ke arah kanan, kami pergi ke arah kiri sambil masih nengok-nengok ke papa gaul itu tadi. Anak gue (emang dasar keturunan) heboh banget dibuatnya. Udah berapa kali kami balik-balik ke standnya susu kalo nggak ke snack cuma mau lihat si papa gaul doang. Udah keluar dari kasir pun, anak gue masih sempet cari-cari tuh papa gaul dari luar.

Emang dasar jodoh yang nggak bisa bersatu aja, akhirnya ketemu juga sama si papa gaul. Anak gue sama papa gaul bertemu mata. Si papa gaul salah tingkah, anak gue makin salah tingkah sampe lari entah ke arah mana. Sementara gue sama temen anak gue sama-sama bermata stereo (heh??) masih nggak lihat dimana sih papa gaul yang jelas-jelas ada di depan kami. Pas tau kalo ternyata si papa gaul ngelihatin kami sambil senyum-senyum salting gitu, baru lah kami malu sendiri lalu ikutan lari. Bego banget pokoknya kami bertiga tadi.

Masih nyeritain si papa gaul dan anaknya, kami foto-foto di air mancur depan sebuah gedung kosong 10 lantai. Padahal kami masih ketawa-ketawa eh temennya anak gue nyeletuk,"Ngerasa nggak sih kayak ada yang ngeliatin kita dari lantai sembilang gedung kosong itu?" Mulai parno deh anak gue. Pada dasarnya dia emang agak penakut. Gue sih cuek aja, soalnya gue nggak lihat apa-apa. Toh kalo beneran ada orang disana mata gue juga nggak bakal lihat. Itu salah satu keunggulan mata minus hahah. Suasananya agak bergeser menuju ke creepy gitu. Tapi gue masih belum ngerasa apa-apa. Gue masih santai aja, gue mah gitu orangnya. 

Tiba sampe di deket rumah besar yang halamannya luas, gelap dan banyak ditumbuhi pepohonan nggak jauh dari gedung kosong sepuluh lantai tadi, anak gue baru bilang kalo ada yang aneh sama anaknya papa gaul di mall tadi. "Ada yang ngerasa disenyumin anak kecil tadi nggak sih? Dia senyum sama siapa?" Kami sama-sama merasa nggak disenyumin anak itu, soalnya arah matanya nggak ke salah satu dari kami rupanya. Jadi dia senyum sama siapa? "Jangan-jangan dia memang nggak senyum sama salah satu dari antara kita lagi.... Jangan-jangan kita nggak bertiga, tapi berempat!" kata anak gue bercanda. Di waktu yang bersamaan terdengar tawa cewek yang mirip banget di film-film Susana jaman dulu. Tapi gue masih positif aja, soalnya di deket kami jalan ada bapak-bapak yang kaca mobilnya kebuka yang mungkin mereka cuma ganjen ngusilin kami aja. Biasa kalo om-om jablay godain cewek. Gue cuek aja. Tapi ternyata anak gue sama temennya nggak denger suara tadi. Ya udah lah pikirku nggak penting juga.

Nggak jauh dari rumah tadi ada halte yang sepi orang. Cuma ada dua orang duduk di kursi halte, dan seorang ibu duduk di trotoar pas di depan halte itu. Kami masih ngomongin hal-hal ganjil tentang anak tadi, tiba-tiba si ibu melambai tangan seperti orang menari tapi melambai ke arah kami sambil ketawa seperti suara Susana di film itu. Refleks anak gue langsung teriak dan lari sekencang-kencangnya. Sementara gue yang sedari tadi sudah memperhatikan si ibu dari jauh benar-benar shock dan sempet mematung selama tiga detik bertatap muka sama si ibu itu. Baru temen anak gue teriak, gue juga ikut teriak. Sialnya gue nggak bisa lagi lari soalnya perut udah mules banget karena shock tambah lagi jadi kebelit pipis tiba-tiba. Ah, udah lah kalo tertangkap sama si ibu gila itu ya udah pikirku.

Gue sempet nengok ke arah dua orang yang duduk di halte tadi. Anehnya mereka nggak ngelihat ke ibu tadi, malah mereka aneh melihat kami. "Ngopo lho bocah-bocah kuwi?" kata salah satu dari mereka. Gue nengok lagi ke arah ibu tadi, dia mematung tanpa ekspresi ke arah kami yang udah berlarian kayak semut buyar. Baru gue sadar gimana muka si ibu itu dengan jelas. Dia pake baju putih entah kemeja entah kaos, yang pasti warna kulitnya sama dengan warna bajunya, putih. makeupnya natural aja alisnya naik ke atas. Tapi mukanya nggak berekspresi sama sekali. Kalo dia niat ngerjain kami pasti dia ketawa setelah lihat kami ketakutan sampe lari begitu, tapi ini dia cuma diam beku menatap kami bertiga yang berlari-lari ketautan. Berarti dia nggak ada niat sama sekali ngerjain kami. Tapi kenapa??

Aigoo.... Setelah jauh dari tempat itu lah baru kami berhenti berlari dan baru gue sadar juga kalo gue ngompol! Astaga!! Seumur-umur nggak pernah gue ngompol karena hal begituan. Tapi kali ini beda banget. Baru lah gue ingat timing ibu tadi ketawa sama suasana kami saat menceritakan hal-hal horor sangat tepat. Padahal kami yakin ibu itu nggak denger apa yang kami bilang. Lalu ekspresinya itu yang nggak bisa gue lupain. Kayak batu pualam. Putih, dingin nggak berekspresi. Gue juga baru ingat, ternyata yang tertawa waktu kami di depan rumah besar itu tadi ya si ibu itu.

Gue jadi mikir aneh. Soalnya gue lihat langsung ke mukanya. Auranya beda. Gue nggak lihat jelas apa itu orang ato bukan, apa dia punya bayangan ato nyentuh tanah. Positif yang masih bisa gue pikirkan adalah ibu tadi gila. Tapi semua buyar setelah ingat dua orang duduk di haltet tadi. Mereka nggak merasa aneh dengan ibu tadi, tapi malah aneh sama kami. Aturannya ibu tadi malah lebih aneh, dan wajar kita teriak dan lari dari sana. Seakan mereka nggak lihat si ibu gila itu. Kami bertanya-tanya, "Apakah cuma kami yang lihat ibu tadi, sementara mereka nggak?" Kalo mereka nggak lihat dan nggak denger ibu tadi berarti ibu tadi memang ada yang salah. Berarti ibu tadi bukan orang. Sial!!

Hal ini masih misteri.


May 28, 2015

KUNCUP BUNGA ITU

Musim gugur sudah dimulai beberapa minggu lalu. Dedaunan mulai berguguran memenuhi jalan, serasa segala sesuatu menguning. Namun begitu kuncup bunga terakhir yang baru muncul akhir musim lalu di pohon itu masih tetap menempel kuat pada rantingnya. Dia masih kelihatan keras kepala untuk tetap bertahan disana meskipun sekelilingnya sudah jatuh terhembus angin semilir. 

Setidaknya dia sudah melihat sekelilingnya. Bagaimana dedaunan mulai berguguran melepaskan harapan dan berggabung menyemarakkan musim yang pilu itu. Tak ada yang meminta kuncup bunga itu tetap bertahan disana.Sepertinya kuncup bunga itu akan selalu begitu sampai ada angin yang cukup kuat untuk membuatnya menyerah.

Entah apa yang dipikirkan kuncup bunga yang hampir layu itu. Mengapa dia masih mencengkeram ranting pohon itu. Mengapa dia tidak membiarkan dirinya jatuh tertiup angin seperti yang lainnya. Akan sangat sulit baginya untuk bertahan di tengah musim yang seperti ini. Bahkan mungkin menjatuhkan diri sendiri terlihat lebih masuk akal. Apakah dia memiliki alasan untuk tetap berada disana? Mungkin begitu. Keras kepala.

Tapi mungkin perjuangan kuncup bunga itu sangat berharga. Dia hanya ingin mekar sebelum gugur. Tidak akan ada artinya jika kuncup bunga yang baru tumbuh lalu kemudian gugur karena musim berganti. Ah, tidak masuk akal. Lihatlah dia mulai lelah. Dia mulai layu. Dia mulai khawatir apakah dirinya bisa mekar sebelum jatuh. Tidak ada yang bisa membantunya bertahan. Tidak ada yang menyemangatinya untuk tetap berjuang. Mungkin kuncup bunga itu sendiripun bertanya-tanya sampai kapan dia akan terus berada disana. Atau juga dia bertanya-tanya apakah dia akan bisa mekar sebelum angin menghembusnya jatuh ke tanah yang jauh.

Tidak ada alasan, tidak ada kekuatan dan tidak ada harga untuk tetap mempertahankan cabang yang akan menopangnya selamanya. Mungkin kuncup bunga itu hanya menunggu alasan yang benar untuk melepaskan ranting itu. Kalau tiba saatnya dia harus menjatuhkan dirinya sendiri, biarlah aku menjadi orang pertama yang tau dan aku akan mengucapkan selamat tinggal padanya. Tentu saja dengan senyuman.

February 20, 2015

MY DRAWING'S SPEAK

Die wahre Lebenskunst besteht darin, im Alltäglichen das Wunderbare zu sehn


Drawings are not only the things that people create to show the beauty of the nature and the world. More than that, drawing can speak about yourself, your feelings, your love, etc. Something that you can't reveal in front of people, you can express it into a drawing/painting.

I draw when I am feeling happy. I draw something when I am falling in love. I draw when I hate someone and in the same time I also miss him. I draw something when I am lonely. I also drawing something when I try to forget something hurt me. Believe it or not, I can draw someone by my mind when I really fall in love with him. Really? I am not pretty sure, but that was the fact! Okay, forget it.

Just wanna show my drawings update here that I have made it between August 2014-February 2015. All of my feelings, all of my emotions, and all of my melodies. I dedicated it for YOU..... :)

August '14
When I enjoy my vacation in my hometown.
August '14
I didn't know what kind of feeling that was,
I only wanted a new hair cut. That was not the right time.

August '14
I was inspired by Opa and Oma who came from Jakarta
and stayed for several days in my house.
They have been married for 53 years and still go together
when they have vacation.
They remind me of UP Movie. :)




September '14
Let It Go!
Actually I really miss something,
but i have to let "it" go.

August '14
I saw her on yhe way back home to Jogja.



October '15
I wanted to refresh my mind after everything happened.









October '14
How hard I tried to forget,
this feeling was always bigger than ever.

Hat nie geliebt und nie gehasst.

Maybe on November '14
My friends and I hang out together.
Something crazy always happen to us if we are together.




December '14
Christmas is coming!!
Finally I drew Olaf anymore. I also love Sven.
Actually this is my Faculty Project.

December '14
Happy Mother's Day!
I dedicated it to all of Moms in this world. Thankyou for
being Mom for your children.
This is also my Faculty Project.



February '15
I am happy to be me!
I wanted to give a break to myself and refresh
the odd tired feelings inside.
february '15
I'm feeling sexy and free! Hahaha
It sounds like a good music for my ears when
I heard Lorde and black Eyed Peas was singing.

February '15
The last but not the least.
I drew it this afternoon when I remind you.
I wonder you can hear my sound inside.
Hey, my heart's a stereo. IT BEATS FOR YOU,
so listen close.
Ya, you. :)

That's all my drawings. But I am still doing the other project after this. Just remember that DRAWING CAN SPEAK. I love you even greater each day. Gbu.