Si Popeye Suka Makan Bayam

"I AM JUST A LITTLE GIRL WHO NEVER STOP DREAMING"

March 01, 2016

BE SMART! OPINI SAYA, OPINI GILA

Hujan mulai deras di luar sana. Kalau aja jam belum menunjuk ke angka sepuluh aku sudah berlari ke teras untuk menikmatinya sekarang. Aku hanya bisa menikmati suara rintikannya dan bau tanah basah yang menyeruak menghampiri hidungku dari dalam sini. Sedikit membosankan hanya duduk disini sendirian menatap layar kaca yang sedari tadi menyuguhkan sinetron-sinetron yang tidak begitu aku nikmati ceritanya. Ku pencet-pencet remot mencari channel yang bagus, tetapi tetap aja tidak ada yang keren. Semua ceritanya hampir sama, kisah cinta segi tiga, segi empat, segi lima sampai pitagoras anak-anak ABG alay.

Televisi kubiarkan menyala. Sesekali kuperhatikan pertunjukan apa yang sedang disuguhkannya. Tidak begitu menarik, sama sekali tidak menarik. Mungkin karena pikiranku sedang tidak sepenuhnya bersamaku malam ini. Aku sendiri tidak tau apa yang kupikirkan. Nggerambyang istilah orang Jawa. Sempat terpikir tentang para artis itu yang terpaksa memakai topeng agar kelihatan terus ceria untuk menghibur para penikmat pertunjukan munafik di hampir seluruh penjuru negeri ini. Kasihan sekali. Mereka harus menipu diri sendiri hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Di dalam episode-episode sinetron saja mereka menampilkan senyum bias yang entah apa maksud lainnya selain hanya untuk digandrungi pemirsa di rumah kemudian mengumpulkan pundi-pundi rupiah buat kantongnya. Kemudian tidak berapa lama mereka akan masuk acara gosip-gosip pagi dengan berita yang berbanding terbalik dari akting mereka di layar kaca. Ada yang diliput karena prestasinya, tapi banyak juga yang diliput karena kontroversinya. Hidup itu memang hanya drama.

Lucunya lagi, segala sesuatu yang muncul di televisi harus disensor sana-sini. Hey, please lah, kita tidak sedang hidup di abad ke-3 yang susah membedakan mana yang pantas mana yang tidak! Memangnya dengan penyensoran yang dilakukan bisa mengajari bangsa ini apa? Toh, cerita yang disajikan pun juga tidak begitu mendidik. Sama saja seperti menutupi bagian dada, tapi mengumbar bagian paha. Artisnya disuruh menutup aurat, tapi mereka membuat cerita yang menyelipkan prostitusi dan anarki di dalamnya.

Aku secara pribadi sebenarnya hanya memperhatikan kualitas akting dan jalan cerita suatu film saja, tapi kalo ada sesuatu yang diblur segala sudut pandangnya jadi beda. Yang tadinya hanya menilai kualitas akting artisnya, akibat adanya penyensoran di beberapa bagian tubuh tertentu hampir bisa dipastikan pikiran jadi terbagi dengan menilai bagian-bagian tubuh artisnya. Yang lebih aneh, film kartun pun juga ikut-ikutan disensor dan diblur. Pertanyaannya, memangnya ada orang yang nafsu sama kartun? Kalau ada pun cuma 1 diantara 100. Gara-gara sensor pun orang bisa jadi berubah yang awalnya polos jadi mesum. Kenapa? Bisa jadi malah membayangkan apa yang ada dibalik sensor itu. Menyensor tidaklah membuka wawasan malah akan menutup gagasan.

Yang paling aneh lagi adalah reality show yang menguak misteri alam lain. Tidak cukup puas mengorek-ngorek kehidupan sesama manusia, kini para manusia juga tertarik mengorek kehidupan orang mati. Apa untungnya sih kepo sama kehidupan hantu? Orang hidup aja sudah banyak persoalan yang harus diurusi, ini malah nambah ngurusin urursan hantu gentayangan. Untuk apa? Menunjukkan nyali? Fungsinya?

Biasanya akan ada satu bintang tamu atau penonton live yang mulai menggelepar-gelepar kesurupan. Lalu salah satu host akan bertanya mengenai masa lalu si hantu, lalu hantu itu akan mulai curhat. Parahnya si host dan kru-nya percaya aja tuh. Bukankah setan itu bapaknya para pendusta, namanya pendusta ya apapun yang dibilang sudah pasti bohong doang isinya. Konyolnya si manusia percaya. Lama-lama si setan kena star syndrome juga deh. Berasa artis gitu dikepoin sama manusia. Bisa jadi pas kita asik menonton hantu di tv, eh, si hantu juga asik nontonin kita yang mau-mau aja dibegoin sama acara sejenis itu. Parahnya kita doyan banget nonton yang begituan. Ngaku deh walaupun jam tengah malam, kita on time mantengin channel itu sampe habis.

Gimana pun juga akui saja, kita memang mau-mau aja dibohongi sama cerita-cerita di tv itu. Emosi kita berhasil dicampur aduk dengan jalan cerita yang berbelit-belit dan tidak tau kapan tamatnya. Kita bersorak kalo si antagonis menerima azab karena ulahnya yang selalu jahat kepada si protagonis. Ikut-ikutan menangis kalau tokoh utamanya mengalami ketidakadilan. Bahkan memperebutkan aktor utama yang berpenampilan kekar dan tampan padahal kita kenal sama dia aja enggak. Dan kalau kita sudah masuk terlalu jauh dalam alurnya, kita sok jadi penasehat yang unggul di depan televisi seakan nasehat-nasehat kita itu bakalan didengar sama si aktor di dalam layar itu aja. Memang sebuah fenomena tersendiri.

Meski begitu, masih ada juga acara-acara yang mendidik. Nggak melulu semua reality show, film atau sinetron membawa dampak buruk buat pemirsa. Sebutkan saja berita, acara petualangan nusantara, acara pencarian bakat, kuis-kuis yang bisa bikin pintar bangsa juga ada. Yang baru ada juga reality show ngelawak (yang harus saya sensor namanya biar nggak menimbulkan sensasi) buat menghibur kita-kita yang galau dan susah tertawa. Sebenarnya acara gosip kadang juga bermanfaat buat kita. Dari acara gosiplah kebanyakan kita tau perkembangan jaman, fashion, istilah sekeren LGBT sampai sianida. Intermezo sedikit nih, ngomong-ngomong soal berita ada satu news anchor yang gantengnya sampai tumpah-tumpah. Aku rela mantengin satu stasiun tv yang programnya sebagian besar hanya berita semua itu cuma mau lihatin si Mas News Anchor yang keren. Namanya diblur ya biar nggak bikin kontroversi.

Film pun banyak yang bagus kalau nggak banyak disensor sana-sini, tergantung cara pandangnya. Aku tipe orang yang suka film berat yang mengusung tema kriminal, psikopat dan sebagainya, dan sebagainya. Film-film kayak gitu biasanya akting pemainnya akan kelihatan jelas bagus enggaknya. Apalagi yang akting psikopat begitu biasanya kalau nggak bagus, nggak akan laku filmnya. Dia harus berani total. Cuma ada beberapa artis yang masuk daftar akting terbaik di catatanku. Sebenarnya nggak hanya film berat aja yang jadi konsumsiku. Semua genre film aku suka, asal nggak setengah-setengah. Kalo romance ya romance banget sekalian, kalo horror ya horror sekalian. Jangan horror dikolaborasikan dengan erotic romance. Nggak akan masuk box office lah film begituan apalagi masuk Oscar. Mustahil. Film begituan penikmatnya cuma segerombolan geng jomblo kesepian yang 85% otaknya mesum doang.

Ini hanya sekedar opini sepihak dari saya saja. Opini saya, opini gila. Tapi kalau tidak gila, tidak bisa jadi apa adanya. Yang pasti kalau suatu saat kita berkesempatan menjadi sutradara, jadilah sutradara yang baik dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas biar bisa dibanggakan ke dunia luar. Jangan cuma mengimpor film dari negara tetangga sebelah, tapi kalau bisa mengekspor film ke luar negeri malah lebih baik. Kalau jadi anggotan “Ka Pe I” ya sensorlah yang perlu disensor saja, jangan semua hal disensor sampai muka artisnya pun nggak kelihatan karena terlalu banyak diblur. Penyensoran yang berlebihan pun tidak serta merta membuat bangsa pandai kok kalau cerita filmnya sendiri tidak mendidik. Dan kalau nanti kita jadi artis, ya jadilah artis yang bisa akting mahal, supaya tidak dijual murah. Tidak hanya membanggakan sensasi tetapi tidak memiliki prestasi. Biar nggak diblur mukanya sana-sini. :D :D

February 07, 2016

SI ARANG DAN SANG BERLIAN

Si pecinta datang kembali dengan cerita yang sama tetapi berbeda. Hey, pernah dengar ada seseorang yang mengharapkan cerita cintanya sama seperti drama-drama Korea romantis yang menguras air mata pemirsanya? Haruskah saya mengatakan kalo pecinta itu adalah saya? Sedikit naif kalau mengingkarinya. Entah cerita yang bagaimana yang harus diciptakan kembali untuk menutup cerita yang pernah saya mulai sendiri itu. Kadang jujur terhadap tulisan sendiri itu susah. Yang pasti tidak semua cerita itu berakhir bahagia, paling tidak untuk sisi yang lainnya.

Tidaklah penting melihat seseorang sebagai juara hanya dari cara mereka memosisikan cinta. Setidaknya untuk kasus saya. Apakah saya terlihat sebagai seorang penyeleweng hanya karena mengingini seseorang seperti dia? Siapapun kalian, saya akan tetap mengatakan hal yang sama. Kalian tidak tau apapun tentang saya. Tidak tentang masa lalu ataupun masa kini saya. Sama seperti dia yang memiliki hak untuk menolak siapa saja yang ingin datang kepadanya, begitu juga saja berhak untuk mengingini siapa saja yang saya mau. Bukan egois, tetapi lebih realistis.

Saya sih tidak terlalu kecewa ketika jawabannya adalah tidak. Karena sudah saya duga jauh sebelum dia mengatakannya. Sudah sering saya bilang dunia saya dan dunianya itu berjalan sejajar sehingga tidak ada ujung temunya. Ibarat rel kereta api yang tidak bisa memaksa untuk membelokkan diri ke satu sisinya supaya bisa bersatu.

Sebenarnya dia dan saya memiliki kesamaan yang mutlak. Kami sama-sama kuat. Saya kuat menunggunya, sementara dia kuat mengabaikan saya. Kesamaan yang membedakan kami selamanya. Ibarat unsur atom karbon yang menghasilkan dua bentuk yang berbeda, berlian dan arang. Bisa ditebak bahwa dialah sang berlian dan saya si arang. Dia itu barang mulia yang duduk manis di etalase toko perhiasan mewah. Kalau saya hanya si hitam yang mondar-mandir di pinggir perapian sambil membayangkan seandainya bisa disandingkan dengan sang berlian di etalase kristal itu. Tapi tentu hal yang sangat mustahil bukan. Dia dicipta untuk menerima sanjungan sebagai permata termahal yang hanya bisa dibeli oleh orang berduit dollar. Saya hanya sebatang arang yang menunggu api melumat sampai menjadi abu. Jauh berbeda meski berasal dari unsur yang sama.

Kalian bertanya apa saya menyesal pernah menginginkan berlian itu? Tentu tidak. Hidup itu adil, kawan. Ia hanya punya cara mainnya sendiri yang misterius. Saat ini saya ada di tempat ini, siapa tau suatu saat di waktu yang tidak terduga saya bisa ikut dipajang di etalase mewah itu. Kalaupun tidak, bukanlah masalah. Ada hal yang jauh lebih besar yang bisa saya kerjakan disini. Mudah saja. Buat apa pelihara luka hati yang hanya bikin mata berair?

November 26, 2015

FAREWELL

Bagaimana Perasaanku? Siapa yang bisa menjawab? Apakah senang? Apakah sedih? Atau biasa-biasa saja? Semuanya tidak pasti. Tidak bisa digambarkan. Seandainya ada warna yang pas untuk mewakili perasaanku ini, warna itu pasti tidak akan menarik. Mungkin tidak merah, tidak hijau, tidak biru, ataupun hitam. Kotor.

Coba lihat saja sekeliling ini. Sudah berdatangan orang-orang untuk menyelamati kami. Tapi itu malah membuatku serba salah. Apakah senang ataukah sedih? Sekali lagi tidak bisa terjawab. Hari ini terakhir. Besok ujungnya. Berjalan memakai baju yang indah, sepatu mahal, make up paling cantik bahkan senyuman terbaik pun belum bisa menenangkan hati ini.

Aku berpikir, apa gunanya senyuman terbaik? Apa gunanya sepatu mahal? Apa gunanya menjadi yang terbaik besok kalau ujungnya tidak bersama lagi? Menyenangkan memang bisa mengakhiri semuanya dengan senyuman. Tapi apakah masih tetap menyenangkan kalau tidak bisa saling mengejek satu sama lain lagi? Apa masih tetap menyenangkan jika tidak bisa saling menertawakan lagi? Apa enaknya tidak bisa saling bertemu dan bertegur sapa? Apa serunya jika tidak bisa saling marah lagi?

Disini tempat kita pertama kali bertemu sebagai orang asing. Disini juga akan menjadi tempat perpisahan kita sebagai sahabat yang akan saling kehilangan. Kalau aku bilang jangan pergi, apa hakku? Siapa aku? Pada akhirnya hari esok harus tetap terjalani, suka atau tidak suka. Dan entah kapan lagi bisa bertemu. Bisa jadi ini hanya awal, bisa jadi juga ini adalah akhir.

Terasa sesak di dada ini. Mau teriak takut dilempari orang. Mau menangis sudah terlalu cengeng. Mau marah nanti dikira stress. Tapi diam saja membuat hati ini terganjal. Serasa telinga ini sudah tersumbat. Pekak. Terlalu banyak hal yang otakku teriakkan sampai tidak ada suara lain lagi yang bisa kudengar.

Mungkin rasa ini hanya aku..... Hanya aku.....

November 10, 2015

MENCINTAIMU SAMPAI DETIK INI

Taukah kamu bahwa aku sedang memposisikan diriku sebagai seseorang yang memujamu dari ujung kaki sampai ujung kepala? Kamu memang gambaran yang sempurna yang mampu aku bayangkan sampai detik ini. Manis, berwibawa, memesona, pandai dan misterius. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk mencintaimu. Aku selalu berharap kamu tau dan melihat bagaimana rasa yang kumiliki padamu. Namun nyatanya kamu menganggapku sama seperti perempuan lainnya yang memposisikanmu sebagai pengagum, bukan pecinta. Padahal kalau boleh jujur sedikit padamu, aku bukan sekedar fans yang hanya bersorak saat kamu gemilang. Aku penggemar nomor satumu yang mengagumimu karena apa adanya kamu.

Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Yang bisanya hanya berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini. Kamu tau tidak rasanya menjadi perempuan yang setiap hari kerjanya bertanya-tanya, kesana-kemari, mencari bayanganmu, sementara kamu melenggang seenaknya seakan kamu tidak melihat betapa aku memperhatikamu? Kamu tau bagaimana sesaknya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu karena aku tau diri bahwa memang tidak pernah ada sesuatu diantara kita? Bagaimana capeknya menjadikan diri sebagai orang yang terus berharap meskipun tidak ada jaminan bahwa kamu akan melihatku suatu hari nanti, kamu tau rasanya?

Mungkin, kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta kepadamu. Bisa jadi ceritanya panjang kali lebar kali tinggi. Tapi cobalah duduk sebentar dan lihat mataku dalam-dalam. Aku memang sudah memperhatikanmu sejak lama, bertahun-tahun, meskipun aku tidak tau bagaimana kamu, bagaimana kehidupan sehari-harimu, latar belakangmu, siapa saja kekasih atau gebetanmu. Aku mencintaimu mungkin karena kamu tampan, mungkin karena kamu pandai, mungkin karena kamu gemilang, mungkin karena kamu tinggi. Semua itu hanya mungkin. Tapi yang aku tau pasti aku mencintaimu karena itu adalah kamu. Seandainya itu bukan kamu, pasti aku tidak akan menyukaimu. Meski kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tau alasanku itu.

Sebenarnnya dadaku begitu sesak. Tapi tetap kutahan tangisku supaya tidak jatuh saat mereka selalu menyebut namamu di sekitarku. Namamu itu seperti candu bagiku, menyenangkan, memabukkan tetapi mematikan. Aku bergembira saat mendengar namamu disebut, tetapi aku juga tidak bisa menahan diriku tertusuk amarah yang sebenarnya tidak aku pahami. Karena sangat susah untukku meraba-raba hatiku sendiri dan hatimu. Apakah hatiku akan baik-baik saja atau malah teriris luka kalau aku mencintaimu.

Seandainya kamu tau, sakitnya bukanlah sakit yang paling sakit. Lebih dari itu. Adakah yang lebih menyakitkan daripada ditinggal orang yang paling kamu sayang? Tentu saja ada! Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang terus bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. Saat aku dekat denganmu, tapi tidak bisa kuungkapkan perasaanku. Aku hanya perempuan yang gemar menunggu, selalu menunggu, berharap kamu datang dan tersenyum padaku. Terlalu tinggikah harapanku? Terlalu berdramakah aku? Terlalu membawa perasaan kah aku? Apa mungkin kamu terlalu tinggi untukku? Atau terlalu sempurna untuk ku miliki? Aku tidak tau.

Seandainya kamu sadar bahwa kamu selalu membuatku tersenyum ketika aku membayangkanmu. Kamu sering membuatku tertawa dalam hati saat aku mengingat tingkahmu. Dan kamu membuat jantungku berdebar saat kurangkai tatapan matamu dalam pikiranku. Tapi kamu, orang yang membuatku tertawa paling kencang adalah orang yang membuatku menangis paling kencang juga akhir-akhir ini. Aku jatuh cinta sendiri.

Aku senang menulis tentang kamu karena dalam tulisanku sosokmu bisa abadi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
This is my private life, but I am glad to share it with you guys. If you are willing, let's hear the song together heheh..... It is a nice song.... Please check the link below ^.^

November 02, 2015

IT IS ALWAYS HARD TO SAY GOOD BYE

Hari itu waktu hujan cuma turun lima menit lalu berhenti, turun lagi lima menit lalu berhenti lagi dan begitu seterusnya, temanku berkata, "Ah, Tuhan cuma bohong nih." Aku tertawa lalu kujawab, "Mungkin Dia bergurau." Tapi sudah puas bagiku mencium bau tanah basah yang hanya sebentar saja. Rasa rinduku terhadap hujan selama ini terobati.

Sekarang aku punya hobi baru yang sebenarnya lama. Jalan-jalan. Hanya jalan-jalan saja mengikuti kemanapun langkah kaki mau pergi. Aku jadi suka jalan kaki sejauh-jauhnya sampai kaki capek. Paling tidak bisa menghilagkan stress terkurung di kamar. Lagi pula menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang aneh ini. Sekalian menghindari acara bergosip ria yang biasanya menjadi aktifitas rutin di kamar oleh orang-orang yang suka membuat orang lain jadi lebih populer. Kalo aku lebih suka jadi populer daripada menjadikan orang lain populer, makanya aku nggak suka gosip. Eh, tapi aku suka gosip juga sih, asal nggak bikin penyakit. Kalo sama orang-orang aneh ini topik bergosipnya beda, mulai dari masalah negara sampai masalah film yang tidak lulus sensor di negeri ini. Lebih menyenangkan dibandingkan menggosipkan teman sendiri bukan?

Mungkin orang berkata kalo aku ini 'si kaki gatal', 'kuda lepas dari kandang', atau apa lagi yang mereka pikir kenapa aku jadi suka pergi-pergi, ya itu sih urusan mereka. Aku memang begitu kok. Yang penting waktu yang tersisa kurang dari satu bulan ini bisa jadi hal yang nggak akan membuatku menyesal karena melakukannya. Kalo sebagian besar orang sudah berpikir tentang pekerjaan, aku malah berpikir bagaimana memanajemen waktuku supaya hari-hari yang singkat ini jadi lebih panjang. Bukannya nggak mikir kerjaan, tapi kalo sudah kerja nggak akan ada lagi haha-hihi bersama orang-orang ini. Kerja itu pasti, tapi momen yang begini nggak akan bisa diulang lagi. Dan itu pasti sangat menyebalkan.

Ada acara kami jalan-jalan sejauh berkilo-kilo meter cuma untuk membeli Crepes seharga 1500 rupiah, sudah puas meski tidak membuat kenyang. Lalu minum es kelapa seharga 2500 rupiah, meski kurang gula tapi tetap terasa manis karena kami sambil menertawakan satu sama lain. Lalu pulang lagi lewat jalanan yang gelap dan banyak bangunan-bangunan kosong yang mungkin dihuni oleh kawanan hantu. Hantu? Iya hantu, barang halus tak kasat mata yang banyak ditakuti oleh manusia. Sejujurnya kami takut juga, untung tidak ketemu mereka betulan. Teman A berkata kalo dia tidak takut hantu karena dia tidak pernah ketemu hantu. Kalo aku percaya mereka ada karena aku pernah lihat mereka. Teman B berkata percaya mereka ada tapi nggak pernah lihat. Paling konyol Teman C, dia percaya kalo hantu itu ada karena semua temannya adalah hantu. Temannya siapa? Ya kami ini. Ah, sial! Dasar manusia langka!

Teman A berkata kalau setelah akhir bulan ini dia pasti bakalan merasa sendiri lagi seperti empat tahun lalu. Dia akan sedih waktu nanti mengantarkan sahabat-sahabatnya ke bandara untuk pulang ke tempat masing-masing. Meskipun menurutku dan banyak orang lain kalo bandara itu keren karena bisa naik pesawat, tapi menurut si kawan ini bandara adalah tempat paling sedih. Karena bandara adalah tempat perpisahan dengan orang-orang terdekat kita untuk waktu yang sangat lama. "Kalau begitu stasuin juga dong?" tanyaku. "Stasiun itu cuma mengantar orang ke beda kota dalam satu pulau. Kalau bandara mengirim orang ke beda kota di beda pulau bahkan beda negara," begitu jawabnya sedih. Asal tidak beda dunia saja pikirku. Aku jadi ikut sedih. Ah, teman, kenapa harus ada perpisahan? Karena ada pertemuan jawabnya. Enteng sekali jawabannya, tapi berbobot.

Masih banyak hal-hal yang terekam di memori ini bersama dengan mereka. Dulu yang kami saling tidak kenal menjadi sangat akrab di akhir waktu-waktu ini. Pergi ke rumah si teman A yang punya sapi sebesar gajah. Ah, bahkan sapi yang akan dibikin sate nantinya saja bisa gemuk, aku susah sekali gemuk. Lalu naik gunung. Itu pertama kalinya aku naik gunung pakai motor. Adrenalin guys! Makan di tempat mewah padahal duit cuma tinggal 20.000 rupiah. Ah, masih banyak lagi. Semua membuatku semakin tidak ingin pergi. Aku hanya berharap setelah akhir dari bulan ini kami masih bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama lagi.

Kalau si Kawan bilang ada perpisahan di setiap pertemuan, aku berharap di setiap perpisahan akan selalu ada pertemuan kembali. Itu saja. Dan semoga mereka tidak akan lupa terhadap si kayu arang* ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Arang dan Berlian, Sama Unsur Beda Nasib. Tunggu ceritanya disini!! ^-^

October 25, 2015

SEKEDAR CERITA

Sulit untuk menjelaskan perasaan seperti apa yang merasuk ke diriku saat ini. Aku tidak yakin apakah malam itu akan menjadi yang terakhir buat kami. Kalau memang malam itu adalah terakhir kami bisa berkumpul bersama, berarti waktu yang tersisa untuk kami kurang lebih hanya sekitar satu bulan. Itu pun kalau kami benar-benar bisa menggunakan waktu sebulan kami secara utuh. Setelah itu entah kapan lagi kami bisa berkumpul bersama-sama lagi.

Mungkin aku saja yang terlalu melankolis menganggap bahwa ini adalah akhir dari sebuah perjalanan yang kulalui bersama dengan mereka. Beberapa tahun aku bersama-sama dengan mereka. Suka, duka, jengkel, kecewa, kasih, pengorbanan dan pengampunan itulah semua hal yang aku pelajari dari mereka. Meninggalkan tempat ini bagiku serasa meninggalkan sarang yang selama ini membuatku hangat. Seumpama seekor anak rajawali yang sudah bisa terbang, dia harus keluar dari sarang meninggalkan tempat berlindungnya, meninggalkan orang tuanya, meninggalkan semua kenyamanannya. Mencari makan sendiri, terbang sendiri, menghadapi bahaya dengan keyakinan sendiri. Semua serba sendiri.

Selain itu, setidaknya kalau disini aku masih bisa melihatnya. Aku tidak tau bagaimana ceritaku akan berakhir. Kami sedang saling diam, sunyi. Menanti apa yang akan memecah sunyi. Entah tangis atau tawa. Semua orang sudah tau. Biar saja. Tinggal sebulan lagi, tidak jadi masalah. Setelah itu baru akan aku putuskan apakah aku akan bertahan atau menyerah saja. Karena sekeping hatiku sempat berujar, "Mungkin ini bukan cinta." Jika sekeping yang lain menegaskan, "Memang bukan", sudah. Tamat.

Terasa semakin jauh, bukan karena kita jauh. Terasa hilang padahal aku tidak pernah memiliki. Bagaimana bisa aku mengharapkannya kembali, sementara dia masih ada di sini? Di hati yang tak pernah menganggapnya pergi. Dari jauh aku beruacap sombong, "Jangan pedulikan aku." Seakan-akan kamu pernah peduli pada aku. Konyol.

Malam itu, aku suka matanya meski dia tidak melihatku. Aku suka suaranya, meski bisa dihitung jari berapa kali dia berbicara padaku selama ini. Aku suka senyumnya, meski senyuman itu bukan untukku. Aku suka dia, meski hanya punggungnya saja yang menjadi bagianku selama ini. Seandainya masih banyak waktu yang tersisa, aku mau terus disini saja. Ah, konyol. Aku berhasil patahkan kata, membungkam suara, memendam rasa, namun gagal menyumbat tangis.

Kamu; sejuk udara pagi yang hilang termakan siang.

Kamu; api pada pucuk lilin yang rentan mati.

Kamu; lembaran cerita yang hilang sebelum terbaca dalam sebuah novel cinta.

Aku; air laut yang menguap sebelum membasahi pasir pantaimu, lalu hilang di antara awan mendung.

Aku; kebahagiaan sesaat di saat dekat, kemudian hitam pekat saat jauh dan tak terlihat.

October 14, 2015

IRONI WAKTU DAN ORANG ITU

Ternyata sudah di ujung tahun ini. Serasa waktu terlalu cepat berlalu setelah aku sampai di titik sini. Hari ini akan segera berlalu seperti hari kemarin. Padahal aku mengharapkan sebaliknya.  Berulang kali ku ucapkan ingin membekukan waktu supaya aku bisa tetap di momen ini. Sadar bahwa waktu ini akan segera berlalu, hati ini serasa memberontak tidak setuju. Senang tetapi sedih. Karena aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah masa ini berlalu. Bukan tidak percaya masa depan, tetapi sangat susah untuk melepaskan masa kini.
Satu persatu dari orang-orang ini telah pergi menuju masa yang baru yang kelihatannya akan sangat berbeda dengan masa kini. Berjuang untuk mandiri, bertahan meski tanpa ada kami-kami lagi yang saling merangkul dan menuntun. Semuanya berawal dari nol kembali di tempat asing yang jauh berbeda dari tempat ini. Tempat yang mungkin setiap orang membesarkan egonya masing-masing, saling makan, saling terkam. Kalian sebut pengalaman baru, aku sebut proses yang baru.
Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana aku menjalani hari-hari ini dengan tidak sia-sia. Karena jika hari ini aku masih bisa berhaha-hihi dengan kumpulan orang ini, mungkin besok aku menangis dengan diriku sendiri. Waktu tidak bisa kugenggam, sehingga tiap-tiap orang ini akan segera hilang juga bersama dengan detik-detik sang waktu yang tidak pernah berhenti berputar. Setiap hal yang ada hari ini akan menjadi kenangan esok hari.
Bagi beberapa orang mungkin hari-hari ini sangat menjenuhkan. Aku juga merasa begitu. Yang berbeda adalah meski aku merasa jenuh tapi aku tetap semangat menjalani setiap momen yang terjadi hari-hari ini. Bahkan aku berharap tidak ada yang namanya libur. Inilah pertama kalinya aku agak membenci hari libur. Aku tau karena tidak banyak waktu lagi yang tersisa bersama orang-orang ini dan bersama orang itu. Ya, orang itu. Meski keadaan kami masih tetap sama tidak saling bicara. Aku menyapanya tentu saja, tapi orang itu diam saja karena aku hanya menyapanya dalam hati. Mungkin dia tidak dengar hati ku berteriak.
Yang kusyukuri adalah aku masih bisa mendengar suara orang itu hari-hari ini. Aku masih bisa melihat orang itu berlalu di depanku meski hanya punggungnnya saja yang terlihat oleh ekor mataku. Sekilas aku masih bisa melihat senyum orang itu mengembang meski aku tidak yakin apakah itu memang benar-benar senyuman atau bukan. Mungkin setelah hari-hari ini suara orang itu tidak akan terdengar sampai ke telngaku lagi. Mungkin juga senyum orang itu tak akan bisa terlihat oleh pandanganku lagi. Atau bahkan bayangan orang itu saja tidak akan pernah lagi tertangkap oleh sudut mataku. Kalau ingat hal itu, betapa aku bersyukur Tuhan masih memberikan hari ini kepadaku.
Mereka dan orang itu tidak tau betapa aku sangat bergembira hari-hari ini. Mereka dan orang itu juga tidak akan pernah tau kalau aku menyembunyikan kebiruanku dalam tawaku. Aku mencoba untuk tertawa bersama mereka dan menikmati setiap candaan bersama mereka. Tapi jika sepi itu datang lagi, tawa yang renyah di mulutku itu terasa hambar, dingin dan sendu. Tawa kah ini, atau sekedar suara haha-hihi palsu yang dimanipulasi oleh pita suaraku? Aku tidak tau.
Bagi orang itu mungkin aku hanya hembusan angin yang sekedar lewat kemudian hilang. Mungkin begitu. Aku sadar juga. Hanya saja aku masih beharap hembusan angin yang tidak seberapa ini sempat membuat orang itu merasa sejuk untuk sesaat. Meskipun bukan orang yang  menyenangkan, tapi bagiku orang itu adalah sesuatu semacam anugerah kecil yang bisa membuatku tersenyum meski hanya memikirkannya.
Ironi, anugerah kecil yang membuatku bersyukur sekaligus bersungut. Ironi, aku sangat menikmati hari-hari ini meskipun aku merasa sangat jenuh dan bosan. Ironi, masih memandang orang yang bisa membuat ku tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan. Ironi, aku menyimpan rasa itu hingga sekarang meskipun sudah usang dan membusuk. Ironi, cerita ini ironis.

---------------------------------------------------------------------------------------------------
So this is the old song from Tablo ft. Taeyang (Bigbang). I love this song. If you want to hear it, please check the link below.