Si Popeye Suka Makan Bayam

"I AM JUST A LITTLE GIRL WHO NEVER STOP DREAMING"

August 27, 2022

A GRACE IN THE MIDDLE OF CHAOS

        Setelah entah berapa tahun saya nggak mampir buat nulis-nulis di sini, akhirnya hari ini saya kembali. Sudah lama mau menulis lagi, tapi ragu karena selain udah terlanjur lama hiatus, juga karena bingung apa yang hal yang relevan dengan keadaan saat ini yang bisa saya ceritakan. Jujurly, kalo mau nulis soal cinta kayaknya udah nggak cocok sama saya hahaha.... Jadi saya memutuskan untuk menulis kesaksian saya yang sudah lama saya ingin bagikan tapi selalu tertunda karena berbagai hal. So, here is my story, my journey with Him. Enjoy!

        Beberapa waktu lalu saya mengikuti pelatihan karyawan baru di tempat saya bekerja. Hari kedua saya mengikuti pelatihan itu, saya merasa sangat antusias dengan materi yang disampaikan. Saya bukan orang yang sangat religius sebetulnya, tapi diskusi tentang hal-hal rohani, kesaksian tentang bagaimana Tuhan itu baik, bahkan cerita-cerita Alkitab di sekolah minggu selalu membuat saya tertarik. Pada dasarnya saya memang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan iman dan Tuhan, dalam konteks keingintahuan saya mengenai hal-hal rohani supranatural yang terjadi kepada beberapa orang.

        Hari itu kami diminta untuk membaca dan merenungkan sebuah artikel tentang dimensi iman. Awalnya saya malas mau membacanya. Cuma karena itu adalah perintah dan keharusan, maka saya melakukannya. Ternyata isinya not bad pada bagian awal. Saya lanjut baca sampai akhirnya saya selesaikan artikel itu. Pertama, stage 0/1: the rise of imagination. Kedua, stage 2: making meaning. Ketiga, stage 3: forming identity. Keempat, stage 4: reflective faith. Kelima, stage 5:connective faith. Keenam, stage 6: embraced and embracing faith.

        Setelah membacanya, saya sendiri jadi mempertanyakan pada tahap dimensi yang mana iman saya berada. Apakah hanya rutinitas cukup sejauh saya aktif melayani di gereja, berlaku baik di lingkungan dan pekerjaan atau memang spiritualitas saya itu sudah menjadi natural dan nafas hidup. Pengalaman berjalan dengan Tuhan pasti ada, tapi saya kembali me-review bagian mana yang membuat saya benar-benar menyadari bahwa saya butuh Tuhan dan Tuhan hadir dalam setiap aspek kehidupan saya. 

        Dengan kerendahan hati setelah panjang saya berpikir dan merenung, mungkin saya berada pada Stage Five: Connective Faith. Mengapa saya mengkategorikan diri saya pada tahap tersebut? Sedikit kesaksian; pandemi membuat saya belajar banyak mengenai iman dan pengharapan dalam Tuhan. Saya kembali ke tempat kerja saya sekarang ini setelah satu tahun saya "belajar" di tempat lain merupakan suatu anugerah tersendiri buat saya. 

        Singkat cerita, di tahun 2020, tahun dimana saya tidak pernah membayangkan akan terjadi sesuatu hal yang dasyat di seluruh dunia. Pandemi datang mengubah wajah dunia. Semua aspek sosial dan ekonomi terkena imbas. Banyak lapangan kerja ditutup, karyawan diberhentikan, dan "sialnya" hal itu juga terjadi kepada saya. Karena saya masih terhitung pegawai kontrak, maka mau tidak mau saya pun ikut di-cut dari tempat kerja. Padahal satu bulan kemudian seharusnya saya akan diangkat sebagai pegawai tetap saat itu. Tapi sekali lagi, manusia berencana, Tuhan yang melaksanakannya.

        Saya keluar dari tempat ini saat itu dengan rasa yang campur aduk. Saya bingung, sedih, marah, kecewa, tapi saya tidak tau harus menyalahkan siapa. Saya sempat bertanya dan protes sama Tuhan. Saya sudah mulai settle di tempat itu, kenapa Tuhan suruh saya pergi dari sana? Apa Tuhan tidak tau situasi saya? Apa Tuhan tidak peduli pergumulan saya? Dan masih banyak 'apa Tuhan, apa Tuhan' yang lainnya. Tapi puji Tuhan, saya ditempatkan di antara orang-orang yang luar biasa dimana mereka tidak hanya menguatkan saya tetapi juga membukakan pikiran saya bahwa Tuhan itu tetap baik mau apapun yang terjadi. 

        Saya mulai menerima keadaan dan situasi saya, tentu setelah beberapa waktu dengan pergumulan yang menguras emosi dan pikiran. Yang saya pegang adalah janji Tuhan bahwa Dia tidak pernah tinggalkan saya dalam keadaan terburuk sekalipun. Saya menjalani waktu-waktu saya dengan ucapan syukur dan tetap percaya pada penyertaan Tuhan. Dan Tuhan buktikan kesetiaan-Nya, saya tidak kekurangan damai sejahtera dalam hidup saya. 

        Lewat info dari teman saya, saya langsung masukkan lamaran ke satu tempat. Tanpa berpikir, tanpa prasangka, bahkan tanpa emosi saat itu. Saya sedikit paksa Tuhan waktu saya mau kirim surat lamaran itu. Saya bilang, "Tuhan, ini saya nggak masukin lamaran kemana-mana selain tempat ini. Pokoknya Tuhan buka jalan supaya saya diterima disana. Saya butuh kerja, saya janji kalo diterima disana, I will love that place as much as I love this place." Dan singkatnya ternyata betul saya diterima. Prosesnya cepat nggak pake ribet. Selesai kontrak saya di tempat lama, saya langsung masuk ke tempat baru. 

        Saya jalani hari-hari saya di tempat baru dengan ucapan syukur. Saya bukan orang yang mudah adaptasi sebetulnya, tapi Tuhan ajari saya untuk belajar membuka diri dan membaur dengan sekitar saya. Saya belajar banyak sekali hal disana. Dan yang terpenting setelah semuanya berlalu, saya pikir adalah saya lebih bersandar sama Tuhan dan merendahkan diri saya serendah yang saya bisa di hadapan-Nya. Ternyata betul, saya ini bukan siapa-siapa, pengalaman saya means nothing, bahkan kecerdasan itu tidak bisa mempertahankan posisi saya ketika menghadapi virus kecil yang nggak terlihat tiba-tiba menginvasi bumi. Disitulah saya yakin, bahwa pandemi ini tidak hanya terjadi begitu saja. Tapi Tuhan ijinkan terjadi supaya kita belajar sesuatu untuk mengenal Dia lebih dalam.

        Dan pertengahan 2021 saya kembali dipanggil ke tempat kerja saya yang lama dengan hati yang baru. Well, bukan berarti saya tidak mengasihi tempat kerja saya sebelumnya, tapi saya punya ikatan tersendiri dengan tempat kerja saya disini sejak awal. Saya bersyukur Tuhan ijinkan saya sempat belajar di ladang yang lain dimana saya bisa belajar melihat anugerah Tuhan dari sisi yang lain juga. Tuhan tetap baik, bahkan ketika keadaan sangat tidak baik. 

        Mungkin cerita saya adalah hal biasa bagi beberapa orang, tapi buat saya pengalaman yang satu ini membawa saya kepada satu tingkat lebih tinggi dalam pengenalan akan Tuhan. Bukan apa kata orang, tapi saya benar-benar merasakan God is good all the time, and all the time God is good. Sehingga ketika saya kembali ke tempat ini, saya lebih siap untuk melayani sepenuh hati dan mensyukuri apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya kembangkan dalam pelayanan saya di tempat ini. Saya belajar untuk menghargai segala sesuatu yang ada disekeliling saya saat ini. Baik itu sahabat-sahabat saya, komunitas, keluarga, pekerjaan bahkan waktu yang ada. Karena ketika salah satunya hilang, barulah saya mengerti seberapa besar artinya buat saya.

        Oh ya, satu lagi untuk menutup kesaksian online saya ini. Saya bersyukur untuk keluarga yang saya miliki. Terutama Papi saya yang saya baru paham bahwa di dalam dirinya yang kaku itu, dia sangat mengasaihi dan memperhatikan anak-anaknya tentu dengan caranya sendiri yang agak nyentrik. Jadi waktu saya diberhentikan dari kerjaan saya saat itu, saya telfon orang tua sambil nangis-nangis. Saya merasa bersalah dan menjadi beban buat mereka. Saya bilang ke papi,"Sorry ya Pi, aku bikin kecewa Papi sama Mami. Tapi sekarang ini aku takut, pandemi begini aku harus ngapain kalo aku nggak bisa langsung dapet kerjaan baru?" Dengan ademnya Papi jawab,"Nggak apa-apa. Kamu nggak bikin kecewa kok. Kamu pulang. Kita berdoa. Kalo orang lain Tuhan perhatikan, masak iya anak-Nya nggak Tuhan tolong? Nggak usah takut. Papi tanggung seumur hidupmu!"

        Bagian akhir dari kata-kata papi itu yang buat saya tergugah, God loves me so much so He gave me everything I need. I have my family that support me. I have a community that strengthen me. I have God who never gives up on me when others possibly do. Jadi buat temen-temen yang mungkin saat ini sedang mengalami pergumulan yang berat, percaya ada Tuhan yang memperhatikanmu. Tetap berharap sama Tuhan dan terus bersyukur meskipun berat. Hati yang bersyukur akan selalu mengetuk hati Tuhan untuk membuka jalan buat masalah kita. Mungkin saat ini kita tidak melihat sesuatu yang baik dalam prosesnya, tapi setelah semuanya selesai kita akan bisa tersenyum melihat maksud Tuhan dalam mengajari kita lewat masalah yang kita alami saat ini.

Be faithful! God bless you!

November 08, 2016

APAKAH MIMPIMU TERLALU BESAR?

Beberapa hari yang lalu, ada seorang missionaris dari India datang ke tempat kami. Seorang pastor muda yang sederhana. Namanya orang dari luar Indonesia, pastinya dia nggak bisa bahasa Indonesia. Kebetulan saya mengajar bahasa Inggris di sekolah. Maka akhirnya saya sedikit berguna juga menjadi penerjemah dadakannya si Pastor.

Dia membawakan renungan pagi untuk anak-anak di sekolah. Anak-anak antusias mendengarkan khotbahnya. Mereka tertarik dengan orang baru yang berbeda bahasa dengan mereka. Si pastor bercerita bagaimana keadaan negaranya dan beberapa hal lainnya. Setiap perkataan yang disampaikannya menunjukkan bahwa hidup manusia itu ada di tangan Tuhan. Berulang kali beliau menyampaikan pesan tersebut.

Hampir seharian penuh kami bercerita dan sharing tentang Firman Tuhan, karena kebetulan hari itu jadwal saya kosong. Kemudian saya diberi tahu oleh orangtua rohani saya kalau pada sore harinya si Pastor akan mengisi khotbah di ibadah youth di salah satu gereja di sini dan saya yang diminta menjadi penerjemahnya. Tidak tau kenapa badan saya langsung menggigil. Saya bukan orang yang percaya diri menghadapi orang banyak, apa lagi menerjemahkan pendeta berkhotbah belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya mulai panik.

Sore pun tiba, saya tidak tau harus ngapain. Saya blank sama sekali. Bahkan saat si Pastor mulai berbicara, konsentrasi saya belum bisa terkumpul kembali ke dalam diri saya. Yang saya pikirkan adalah bagaimana pandangan orang terhadap saya saat itu. Saya lupa tentang hal lainnya. Apa lagi respon orang dalam pandangan saya saat itu seperti tidak puas dengan keberadaan saya. Pikiran saya mulai negatif, dan saya menyadari bahwa pesan yang ingin disampaikan si Pastor tidak tersampaikan dengan baik kepada jemaat yang ada. Saya benar-benar malu dan menyalahkan diri saya sendiri.

Lalu seselesainya ibadah, ada seorang ibu mendatangi saya. Beliau adalah salah satu pengurus di gereja tersebut. Dia berkata kepada saya,"Tidak apa-apa. Ini adalah langkah yang baik. Kamu sudah mencoba. Jangan patah semangat."

Saya tau maksud beliau menyemangati saya. Tapi saya tidak mengerti dengan benar inti dari kata-kata tersebut. Kemudian saya berkata,"Saya nggak bisa berpikir apa pun tadi di depan. Saya tau saya sudah gagal. Bukannya mengerti, tapi orang-orang malah bingung dengan ucapan saya."

Si Ibu tersebut menanggapi dengan senyuman,"Dek, kalau kamu jadi penerjemah, posisikan diri kamu itu sebagai pengkhotbahnya. Kamu bukan hanya sekedar menerjemahkan. Tapi Tuhan juga menaruh kuasa di setiap kata-katamu. Kamu juga harus menjadi dampak."

Saya terdiam mendengarkan perkataan beliau.

"Saya tau kamu grogi tadi sampai blank begitu. Tapi ingat, Tuhan sudah memberi kuasa kepada kamu. Jangan lupa. Jangan memikirkan diri sendiri, pikirkan bahwa ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan kepada mereka melalui kamu. Minta hikmatnya Tuhan, jangan hikmat kamu sendiri. Kamu terbatas. Pandang kepada Tuhan saja. Nggak usah mikirin pandangan orang tentang kamu, pikirin aja kira-kira Tuhan mau ngomong apa sama mereka. Dengar-dengaran sama Tuhan biar nggak miss. Oke!" Lanjut Ibu tadi.

Saya baru sadar kalau saya sudah menyangkal kuasa Tuhan secara tidak langsung. Saya pakai akal saya sendiri saat itu. Saya minta ampun sama Tuhan. Semalaman saya mempersiapkan diri untuk ibadah keesokan harinya di dua tempat berbeda, dan saya masih didaulat untuk menjadi penerjemah lagi. Semalaman juga saya nggak bisa tidur nyenyak. Kalau yang saya terjemahkan turis biasa sih nggak masalah, lha ini khotbah pendeta kalau sampai salah terjemahkan bisa bahaya saya pikir.

Malam berlalu dan saya siap-siap ibadah di gereja A. Saya lihat jemaatnya kebanyakan mbah-mbah. Saya agak santai karena jemaatnya juga tidak terlalu banyak. Tapi ketika pujian dinaikan, saya mulai sedikit gemetar lagi. Ada intimidasi dalam diri saya yang mengingatkan kejadian malam sebelumnya dimana saya gagal menyamaikan pesan Firman Tuhan oleh pastor tersebut. Tapi saya ingat kata-kata Ibu yang menasihati saya semalam. Bukan kekuaanku, tapi Dia yang mengutus aku.

Satu menit, dua menit saya enjoy menerjemahkan si Pastor berkhotbah. Dia ceritakan pengalamannya. Saya puas dengan diri saya sendiri saat itu. Saya bisa. Saya pikir saya bisa. Sampai akhirnya giliran saya harus mempersiapkan diri kembali untuk melayani di gereja B yang semalam sebelumnya saya jadi penerjemah gagal. Tubuh saya gemetar tidak karuan lagi. Hawa dingin merayap dari kaki sampai kepala. Saya kembali ketakutan. Saya mulai melihat jumlah jemaat. Terlalu banyak. Saya tidak siap. Semua yang saya pikirkan adalah diri saya sendiri. 

Saya seperti kehilangan kendali atas pikiran saya. Saya lupa lagi bahwa saya tidak boleh memakai kekuatan saya sendiri. Saya menemui Ibu Gembalanya, saya bilang,"Oma, saya gemetar. Saya nggak bisa. Saya nggak siap."

"Kamu kenapa? Nggak apa-apa ada Tuhan yang menolong kamu. Kamu nggak lihat?" kata Ibu Gemala.

Saya beralasan ini dan itu. Saya mendengar lagu penyembahan sudah dimulai dan itu semakin membuat saya berkeringat dingin. Saya terus gemetar, takut, tidak percaya diri. "Lha bagaimana? Apa saya yang gantikan? Saya kasihan sama kamu. Tapi kan Tuhan sudah mempercayakan kepada kamu pelayanan ini. Dia memberi kesempatan kepada kamu. Pikirkan dengan tenang dulu," sambung beliau.

Saya berpikir panjang. Di saat yang sama saya memikirkan diri sendiri, tapi saya juga memikirkan tentang Tuhan Yesus. Saya ingin lari menyelamatkan diri, tetapi saya masih berpikir bagaimana mungkin saya mengecewakan Tuhan saya? Tuhan bisa pakai orang lain selain saya bahkan mereka yang jauh lebih bagus dan berpengalaman, tapi apakah saya harus mundur hanya karena takut jika dilihat jelek oleh orang lain? Saya benar-benar menjadi orang egois yang hanya memikirkan diri sendiri.

"Bukankah kamu kalau berdoa minta next level? Lha ini sudah dikasih kesempatan sama Tuhan lho. Jangan mengukur kekuatanmu sendiri, kamu akan gagal. Tapi lihat kepada Tuhan Yesus. Jangan kamu maju karena cuma ingin dilihat orang atau formalitas saja. Lakukan karena kamu mengasihi Tuhan. Pandang Tuhan Yesus, jangan pandang dirimu. Gimana? Bisa?" ujarnya lagi.

Setelah beberapa saat saya berpikir dan bisa menenangkan diri akhirnya saya bilang,"Ya , Oma. Saya siap. Oke. Saya yang terjemahkan."

Kami berdoa dulu sebelum memulai. Ibu Gembala mendoakan saya. Saya berdoa benar-benar minta kekuatan Tuhan. Karena saya tidak mampu lagi, tidak tau apa yang harus saya kerjakan. Saya meminta hikmat dari Tuhan supaya saya benar-benar bisa menjadi penyambung lidah Allah, bukan cuma sekedar menerjemahkan saja. Cuma satu hal yang saya doakan saat itu, saya mau menjadi perantara antara Tuhan dan jemaat-Nya.

Akhirnya Pastor mulai berkhotbah dan saya menerjemahkan. Masih sedikit gemetar tapi tidak lagi ketakutan. Saya benar-benar merasakan jamahan Tuhan saat itu. Hanya karena anugerah Tuhan, saya bisa melakukannya dan jemaat mengerti apa yang ingin Tuhan sampaikan melalui pastor tersebut.

Saya baru menyadari ketika saat itu saya berdiri di mimbar di depan banyak orang, bahwa saya pernah meminta hal ini kepada Tuhan waktu saya masih sekolah enam atau tujuh tahun yang lalu. Saya pernah berdoa kepada Tuhan kalau suatu hari saya ingin Tuhan pakai untuk bisa menjadi seorang interpreter, terlebih untuk seorang hamba Tuhan. Saya bahkan sudah hampir lupa kalau saya pernah meminta hal itu, tapi Tuhan masih ingat dan Dia menggenapi apa yang menjadi kerinduan saya. He is amazing!

Kita mungkin sering berfikir bahwa mimpi kita terlalu besar. Tidak mungkin mimpi yang terlalu muluk bisa menjadi kenyataan. Satu hal yang saya pelajari adalah tidak ada mimpi yang terlalu besar atau pun terlalu mustahil jika Tuhan sendiri yang menaruh mimpi itu dalam hati kita. Hanya butuh keberanian untuk menanggapi mimpi itu. Bukankah kita diciptakan untuk menggenapi firman-Nya? Salah satunya adalah lewat mimpi kita dimana Tuhan bisa berkarya dan nama-Nya dipermuliakan lewat hidup kita.

Saya juga benar-benar disadarkan kembali untuk yang kesekian kalinya bahwa bukan karena kekuatan saya, semua karena anugerah Tuhan. Tidak ada hak saya untuk menyombongkan diri, karena hanya Tuhan Yesus saja yang layak menerima pujian. Bukan saya yang bisa, tapi Dia yang memberi kekuatan kepada saya. Tuhan Yesus benar-benar merontokkan kekuatan saya, pengetahuan saya, kesombongan saya, bahkan rasa percaya diri saya supaya saya benar-benar mengandalkan Dia saja bukan yang lain.

Kesaksian saya ini bukanlah untuk membanggakan diri saya sendiri. Saya menulisnya untuk mengingatkan bahwa hidup kita ada di tangan Tuhan. Dia sudah merencanakan masa depan kita. Bahkan apapun juga yang menjadi impian kita jika itu baik di hadapan-Nya, Dia sanggup membuatnya menjadi nyata. Semua mimpi yang pernah kita doakan jika itu digunakan untuk kemuliaan nama Tuhan, pasti digenapi-Nya. Asal kita mengutamakan Dia dalam segala hal yang kita kerjakan. Tanpa Dia, rusaklah hidup kita.

Saya bersyukur mengalami hal-hal yang menakjubkan ini bersama dengan Dia yang mengaruniakan hidup kekal kepada kita. Dan saya masih menunggu mimpi-mimpi yang mana lagi yang akan digenapi oleh Tuhan.

“Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman Tuhan semesta Alam.” – Zakharia 4:6

God is good all the time and all the time God is good.

September 26, 2016

MULAI MERAGUKAN TUHAN?

Hari-hari yang panas dan melelahkan. Bukan hanya soal cuacanya, tapi suasana diri juga sedang panas. Terjadi percekcokan dalam diri seorang manusia. Ia merasakan kadang kala mempercayai Tuhan itu sulit, meskipun tidak sesulit mempercayai manusia. Sampai satu titik ia benar-benar menyerah. Hanya bisa diam mendengarkan otaknya menyumpahi diri sendiri. Logikanya menghakimi diri seenaknya sampai puas. 

Si Otak berseru,"Kesalahan ini ada padamu! Dari awal sudah tidak ada yang beres! Pertolongan Tuhan pun nggak sampai-sampai. Mana?"

Si Logika menambahi,"Kalaupun ditolong, pasti sudah salah kaprah. Lihat bagaimana pandangan orang padamu saat ini?!"

Mereka berdebat masing-masing, saling menyalahkan, saling menuduh. Di sisi netral, ada sebuah hati yang dari tadi hanya memperhatikan tanpa ikut angkat suara. Ia merasa kasihan pada si Logika dan si Otak. Mereka adalah satu, tapi bagaimana mungkin mereka berbeda keyakinan. Mempertanyakan dimana kesetiaan dan kuasa Tuhan. 

Saat sudah tidak ada lagi kata-kata umpatan dan penghakiman yang terucap, si Hati mulai berpendapat,"Tidak ada orang lain yang membuat kesalahan ini. Semua salah kita sendiri dan sudah terjadi. Tapi apa gunanya menyalahkan diri saat ini? Apa juga gunanya meragukan otoritas Tuhan sekarang? Toh tidak ada orang lain lagi yang mampu menolong."

Si Logika membela diri,"Tapi gengsi dong ngaku sama Tuhan kalo kita yang salah."

Si Otak ikut menambahi,"Lagi pula sudah sejak awal kita sok pintar tidak mengikutsertakan Tuhan dalam urusan ini. Terus tiba-tiba setelah urusannya runyam begini, kita mau merengek sama Tuhan? Mau ditaruh mana muka kita?!"

Si Hati hanya tersenyum. Dia pun mengerti memang malu mengakuinya. Tapi dengan bijak dia berkata,"Memang wajar kita malu. But it is okay to apologize first. He knows us well. Tidak ada yang lebih mengenal pribadi kita selain Tuhan kok. Apa menurutmu Tuhan tidak tau masalh ini kalau kita tidak bilang?"

Si Otak dan si Logika serempak menjawab,"Ya pasti tau sih."

"Apa menurutmu Tuhan akan menghakimi dan menghukum kita kalau kita salah? Never! Seharusnya Dia sudah menghajar kita sejak pertama kita berbuat salah. Dia kan maha tau. Tapi kenyataannya tidak. Dia menunggu sampai kita datang mengaku. Merendahkan diri."

Semua terdiam.

"Kawan, Tuhan pun tau kalau kita gengsi mengakui kesalahan kita. Apapun yang tersembunyi, yang kita rasakan, Tuhan mengerti semua. Apa kita masih mau berbohong di depan orang yang sudah tau semua? Jangan menganggap diri kita pandai. Dia lebih tau cara apa yang harus dipakai. Kita ikut saja," lanjut si Hati menasehati.

"Lalu bagaimana memulainya? Kita semua punya masalah untuk memulai sesuatu. Apalagi untuk mengaku sama Tuhan," kata Otak.

Si Hati tersenyum dan menjawab dengan lembut,"Gampang. Tinggal bilang saja 'Tuhan aku salah. Tidak usah kuceritakan pun Tuhan pasti sudah tau. Tapi kalau boleh aku mau curhat begini dan begitu. Aku sudah lakukan caraku tapi semuanya gagal. Sekarang aku tidak tau lagi harus berbuat apa selain berseru kepada-Mu'. Sudah cerita gitu aja sama Tuhan. Dia pasti dengarkan dan kasih solusi."

Logika dengan cemberut berkata,"Segampang itu? Lalu bagaimana kalau Dia tidak membantu?"

"Tidak mungkin Dia tidak membantu. Bahkan dalam keadaanmu yang paling berdosa pun, tangan Tuhan itu tidak pernah melepaskanmu. Dia hanya menunggu sampai kita menyerah bertumpu pada usaha sia-sia kita sendiri."

Logika dan Otak menundukkan kepala mereka. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh Hati itu.

"Bahkan ketika Tuhan kelihatan diam dan tidak melakukan apa-apa, Dia sedang melakukan rencana yang peling indah untuk kita. Hanya sejauh mana kita bisa mempercayai kesetiaan Tuhan dalam hidup ini."

Si Logika bertanya,"Darimana kamu tau?"

"Aku mengenal Dia dengan baik. Dia selalu menolong dan memberikan jalan keluar yang terbaik. Kalaupun tidak ada jalan keluar, itu tetap yang terbaik. Karena Dia tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan kita yang terburuk pun. Dalam kesesakan yang paling parah pun Dia ada disana untuk kita. Rencana-Nya adalah rencana damai sejahtera," ungkap si Hati.

Akhirnya mereka semua menyadari bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi dari pandangan Tuhan. Mau sepandai apapun kita menyembunyikannya. Kadang Tuhan membiarkan kita melakukan kesalahan untuk membuat kita sadar bahwa kita ini tidak sempurna. Kita selalu memerlukan anugerah Tuhan setiap mili detik dalam hidup ini.

Saat kita melakukan kesalahan, Tuhan tau. Saat kita jatuh tersungkur, Tuhan lihat. Saat kita menjauh dari-Nya karena kita malu mengekui kesalahan kita, Dia mengerti. Yang terkadang tidak kita pahami adalah Tuhan itu selalu ada di dekatmu bahkan dalam keadaanmu yang paling kotor sekalipun. Yang paling parahnya, kita bisa mempercayai manusia untuk menyelesaikan masalah kita, tapi kita tidak mempercayai Tuhan sanggup memulihkan keadaan kita.

Masalah kita terkadang membuat kita lupa bahwa kesetiaan Tuhan itu tidak pernah putus. Pikiran negatif kita mulai meracuni dengan asumsi-asumsi bahwa kesalahan kita terlalu besar, Tuhan tidak akan menolongmu. Atau logikamu yang terlalu gengsi untuk datang kembali sama Tuhan, minta Tuhan yang kembali sama kita. Lho? Tuhan itu selalu datang sama kita, tapi kita yang selalu menolak.

Tidak ada tempat paling aman untuk berbagi cerita selain sama Tuhan. Orang lain mungkin bisa memberi solusi, tapi mereka tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaanmu seperti semula. Hanya Tuhan yang bisa. Kalau kita saja bisa mempercayai manusia, kenapa kita tidak bisa lebih mempercayai Tuhan yang sudah menebus hidup ini?

Oke, ini hanya basa-basi. Tapi intinya bukan basa-basi. Masalahmu tidak akan pernah membuat Tuhan Yesus menjauh darimu. Dia ada di sampingmu selalu. Kita hanya perlu memandang keatas melihat kepada kasih karunia-Nya dan semua akan beres.

God is good all the time and all the time God is good.

April 04, 2016

PUING-PUING MEMORI DI CAFÉ DAUN

Kembali ke kota asal, kembali ke kedai kopi favoriku. Nggak akan lengkap rasanya kalau nggak nongkrong di sini, di Café Daun. Sekalian untuk kembali mengenang jalan kenangan semasa aku sekolah disini. Hhmm…. Emang sih udah banyak yang berubah dari kota ini. Banyak bangunan baru yang dibangun disini sekarang. Tapi lebih banyak pohon yang ditanam di daerah sini, jadi semakin rindang. Wah, disini dulu aku memulai segala sesuatu. Hidupku, mimpiku dan cintaku (yang sudah usang untuk diceritakan pastinya).

Saat aku melangkah masuk ke dalam kedai ini, ada beberapa pelayan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sepertinya mereka pegawai yang baru bekerja disini. “Olivia!” seru seseorang dari salah satu sudut ruangan. Ko Yongki, pemilik kedai kopi ini. Dia terlihat sedikit lebih dewasa dari lima tahun yang lalu. Tapi masih terlihat keren.

Aku mendekat ke arahnya sambil melambai. Sekian lama tidak bertemu, ternyata dia masih mengenaliku. “Hai, Ko…. Gimana kabar?” sapaku.

“Selalu luar biasa!” jawabnya sambil merangkulku berjalan menuju counter. “Wah, si maniak kopiku kembali kesini! Aku akan membuatkan sendiri kopimu. Apa favoritmu masih sama?”

“Masih. Apa harganya juga masih sama?” tanyaku menggoda Ko Yongki yang selalu baik padaku.

“Uh-oh tentu saja harganya sudah naik sejak beberapa tahun yang lalu,” kata Ko Yongki sambil tertawa. 

Dia itu sudah seperti kakakku sendiri. Waktu aku masih sekolah di daerah sini, tempat inilah yang jadi tempatku menyepi. Kalau sedang banyak tugas yang nggak bisa kukerjakan sendiri, maka Ko Yongki lah yang membantuku menyelesaikannya. “Coffee Hot Chocolate!” serunya padahal aku hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri.

Aku mekangkah ke kursi paling pojok dekat dengan vas bunga besar di belakang sana. Itu kursi favoritku dulu. Dari situ aku bisa melihat langsung ke arah taman kota dan tempat paling jelas untuk melihat band corner yang ada di sebelah kanan counter. Tidak banyak berubah dengan tata ruang tempat ini, hanya saja Ko Yongki menambahkan beberapa ornamen klasik yang membuat café ini lebih terlihat unik.

“Sendirian aja?” tanya Ko Yongki. Aku mengeryitkan dahi tanda tidak tau maksudnya. “Kamu nggak sama si Maniak Cappuchino?”

Oh, dia menanyakan Steven, seseorang yang selalu bersamaku dulu sekali setiap kali aku pergi kesini. Dia memang penggila Cappuchino. Setiap orang yang kenal sama dia pasti tau minuman favoritnya. Satu lagi kenangan kembali muncul di tempat ini. Orang itu, sudah kuduga juga Ko Yongki masih mengingat dia. 

“Oh, Steven? Nggak.”

“Kalian nggak lagi ada masalah kan?” tanyanya serius. 

Wah, matanya sedikit membuatku takut. Sepertinya dia belum mengetahui cerita kami.

“Jangan memandangku aneh begitu donk!” kataku sambil memandang ke arah lain. 

Aku tidak menyangka harus menjawab pertanyaan semacam ini pada Ko Yongki. Tapi aku siap memberi komentar untuk hal itu seperti yang biasa kulakukan. Aku menarik nafas panjang untuk menjawabnya. “I broke up with him, after I entered the university. But we still keep in touch. We're good as a friend.”

“Oh, I’m sorry,” kata Ko Yongki. Dia mencoba untuk tidak membuatku merasa bersedih. “Sayang sekali. Padahal kalian terlihat sangat cocok. Banyak yang iri pada kalian. Bahkan aku sendiri waktu itu juga sempat iri saat hubunganku dengan Juju sedang ada masalah.”

“Terlihat cocok? Opini pribadimu saja, Ko. Entahlah. Yang penting semuanya baik-baik saja. Aku dan dia nggak musuhan,” jawabku sambil meminum sedikit kopiku.

Ko Yongki mengerti kalau aku tidak ingin membicarakannya. Kalau dipikirkan kembali tempat ini memiliki banyak sekali kenangan antara aku, kopi, hujan dan dia. Disinilah kami menghabiskan waktu ketika nggak ada sesuatu hal yang bisa kami kerjakan. Tempat yang tepat untuk bersembunyi saat membolos di jam pelajaran matematika. Tempat untuk memandangi hujan dan menghirup tanah yang basah favoritku yang lainnya selain kopi tentunya. Tempat kami merayakan ulang tahun masing-masing, dengan secangkir kopi dan sepotong tiramisu cake. Tempat ini juga menjadi tempat kami bertengkar ala anak sekolah, saling cemburu dan saling memaafkan, meninggalkan dan kembali datang, menangis dan tertawa, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku seperti mengais kembali memori-memori yang sudah hampir hilang tertutup oleh hal-hal lain. Seakan memori itu telah menjadi puing-puing bersejarah yang berhasil ditemukan kembali. Lebay!

“Bumi menghubungi Olivia,” kata Ko Yongki, tangannya membentuk antena di kepala. Dia membuyarkan lamunanku.

“Eh, ada apa?” tanyaku terkejut belum terlalu sadar dengan yang dikatakannya.

“Barusan tadi pikiranmu seperti keluar jauh entah ke planet mana. Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ko Yongki usil.

“Apaan sih. Bagaimana kabar Ce Juju?” tanyaku mengalihkan perbincangan.

“Dia sangat sibuk sekarang ngurusin bisnis online-nya. Ah, aku belum cerita padamu kalau kami sudah menikan setahun yang lalu kan?” Ko Yongki antusias mengatakan soal pernikahannya padaku.

“Iya, karena Koko terlalu semangat untuk mengorek masa laluku yang menakjubkan,” jawabku berpura-pura sinis. “Aku dari tadi melihat cincin yang melingkar di jari manismu itu. Tapi Koko nggak cerita-cerita.”

“Haha…. Maaf aku lupa. Aku juga mau menghubungimu dulu waktu aku mau menikah dengan Juju dulu, but you disappeared from this town.” 

Kemudian dia menceritakan dari awal sampai akhir bagaimana dia dan Ce Juju menikah. Senang sekali mendengar cerita tentangnya. Aku tau bagaimana perjalanan mereka menjalani masa-masa menyenangkan saat masih berpacaran sampai tunangan. Benar-benar membuatku iri. Sementara aku sendiri? Memang benar kata orang, belum tentu hubungan yang terjalin lama bisa berhasil sampai ke puncaknya. 

Haha aku hanya meringis mengingat diriku sendiri. Mungkin banyak orang menganggapku bodoh sampai hari ini. Aku mau melepaskan sesuatu yang mungkin pasti hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas dimana akhir ceritanya. Tapi yah, aku sudah memutuskan hal itu. Just be positive, it is not my time to find that kind happiness.

March 24, 2016

ANUGERAH: MELIHAT SEBUAH CONTOH LAIN

Mungkin dari judulnya Anda tidak tertarik untuk membaca postingan yang satu ini. Terlalu rohani atau mungkin bukan hal yang seru untuk diperbincangkan. But, trust me! Ini tidak akan terlalu membosankan untuk dibaca! Ceritanya lebih dramatis dibandingkan dengan sinetron televisi. Dan yang pasti ini bukan hanya fiktif belaka, tapi ini berdasarkan cerita nyata beberapa ribu tahun yang lalu. Kalau boleh saya sarankan jika Anda memiliki Alkitab di samping Anda, bacalah 2 Samuel 9:1-13 terlebih dahulu. Karena lebih indah kalau Anda menyaksikan ceritanya secara langsung dibandingkan hanya mendengar cerita dari orang lain. Kalau tidak ada Alkitab di samping Anda saat ini, baiklah mari kita membaca ceritanya di bawah ini.

Banyak ilustrasi indah tentang anugerah dalam Alkitab yang selalu membuat kita terpesona saat membacanya, termasuk yang terbesar diantaranya tentu Kristus yang menganugerahkan kita hidup kekal melalui pengorbanan diri-Nya di kayu salib. Namun kali ini saya ingin menceritakan kisah Daud dimasa-masa kejayaannya. Cerita ini melibatkan seorang pria yang tidak dikenal, bahkan namanya hampir tidak bisa dieja, Mefiboset (Mephibosheth). Menurut saya, kisah ini adalah kisah yang indah dan tidak terlupakan.

Alright, sebelumnya mari kita lihat apa arti kata anugerah. Kata grace atau anugerah dalam Bahasa Inggris memiliki beberapa pengertian. “Grace” bisa menunjuk kepada penari yang “lemah gemulai”. Rasa “ucapan syukur” kita pada waktu makan. Bisa berarti juga “semarak” seorang raja atau ratu. Dan lebih umum juga dikenal sebagai kata yang menunjuk kepada “martabat” dan “keagungan”. Tetapi yang terpenting, “anugerah” (grace) dapat berarti kasih karunia yang tidak terukur, kemurahan istimewa yang diberikan kepada seorang yang tidak layak mendapatkannya, yang tidak berusaha mendapatkannya, dan tidak sanggup untuk membalasnya.

Pada pasal sebelumnya diceritakan kehidupan Daud yang damai dan tenang menikmati semua berkat yang dimilikinya. Di hari-hari tenang itulah mungkin Daud mulai mengingat masa lalu dan kasihnya kepada Yonatan, sahabatnya. Teringatlah Daud akan janjinya kepada sahabatnya itu (see: 1 Samuel 20:13-16). Kemudian dia berkata kepada bawahannya,

”Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan.” (2 Sam 9:1)

Biasanya ketika seorang raja dari dinasti baru mengambil alih tahta, maka seluruh keluarga dari dinasti lama akan dimusnahkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya pemberontakan (setidaknya seperti itu yang saya baca dari buku atau lihat di tv). Tapi Daud mengingat janjinya dan hal itu menggerakkan hatinya untuk menganugerahkan kasihnya. Perlu dicatat Daud tidak berkata,”Masih adakah seorang yang layak?” atau “masih adakah seseorang yang memenuhi syarat?” Si pria hebat ini tidak peduli siapapun atau bagaimanapun mereka, tapi yang dia tanyakan hanya SESEORANG tanpa embel-embel apapun. Dan ya, mereka mengenal seseorang.

“Adapun keluarga Saul mempunyai seorang hamba, yang bernama Ziba. Ia dipanggil menghadap Daud, lalu raja bertanya kepadanya: “Engkaukah Ziba?” Jawabnya: “Hamba tuanku.” Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” Lalu berkatalah Ziba kepada raja: “Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.” Tanya Raja kepadanya: “Dimanakah ia?” Jawab Ziba kepada raja: “Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.” (2 Sam 9:2-4)

Mungkin si Ziba ingin menasihatkan kepada Daud kalau orang itu tidak pantas berada di sekitar istana untuk mendapatkan anugerah karena dia cacat. Daud tidak bertanya,”Separah apakah dia?” Tetapi raja yang bijaksana ini bertanya, “Dimanakah dia?” Itulah sifat anugerah. Tidak memilih-milih. Anugerah tidak mencari hal-hal yang telah diperbuat sehingga layak mendapatkannya. Anugerah ialah Allah memberikan diri-Nya sendiri sepenuhnya kepada seseorang yang tidak layak menerimanya dan tidak pernah berusaha dan tidak akan pernah memapu untuk membalasnya. Inilah yang menjadikan kisah Daud dan Mefiboset menjadi mengesankan. Seorang raja besar yang terkenal membungkuk kepada seseorang yang sama sekali tidak berarti di masyarakat. Mefiboset adalah seorang yang tinggal dalam pelarian. Tinggal di tempat yang jauh, tandus dan mungkin tidak tercatat di peta, untuk bersembunyi menghindari raja baru yang mungkin saja juga akan memusnahkannya suatu hari.

“Yonatan, anak Saul, mempunyai seorang anak laki-laki, yang cacat kakinya. Ia berumur lima tahun, ketika datang kabar tentang [kematian] Saul dan Yonatan dari Yizreel. Inang pengasuhnya mengangkat dia pada waktu itu, lalu lari, tetapi karena terburu-buru larinya, anak itu jatuh dan menjadi timpang. Ia bernama Mefiboset.” (2 Sam 4:4)

Menyedihkan bukan? Akibat dari jatuh tersebut ia menjadi cacat selamanya dan terus bersembunyi dalam ketakutan. Seorang cucu raja terdahulu yang pernah hidup berkelimpahan, harus menyembunyikan dirinya di tanah asing. Tidak memiliki apa-apa, tidak layak mendapat apa-apa, bahkan tidak berani menunjukkan keberadaannya ke hadapan dunia, Bisa bayangkan betapa sangat suramnya hidup orang ini? Seberapa burukpun situasi Anda, pasti tidak akan lebih buruk dari keadaan pria malang ini. Dan saat utusan raja mengetuk pintunya, bisa bayangkan betapa terkejutnya Mefiboset? Ia mungkin menatap wajah tentara-tentara Daud yang berkata kepadanya, “Raja ingin bertemu denganmu.” Pasti dia berikir, “Inilah akhirnya. Aku pasti mati.” Kemudian orang-orang itu membawa si timpang ke Yerusalem untuk bertemu langsung dengan raja.

“Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: “Mefiboset!” jawabnya: “Inilah hamba tuanku.” Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Jangan takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” (2 Sam 9:6-7)

Saya suka adegan ini. Alkitab menjelaskan dengan sangat jelas saat indah itu. Pria cacat ketakutan ini bersujud di hadapan raja yang memiliki segala hak berkuasa, bahkan atas hidupnya. Seandainya saya di posisi Mefiboset, saya tidak akan bisa membayangkan hal indah yang mungkin terjadi. Pastilah yang muncul adalah kemungkinan yang paling buruk. Mungkin dia membayangkan tiba-tiba pedang menancap di lehernya. Tetapi yang didengarnya adalah kata-kata penerimaan yang menyejukkan dari Raja Daud. Bayangkan seakan tumpukan beban yang selama ini Anda pikul tiba-tiba lenyap hanya dengan satu hembusan nafas. Keadaannya semakin membaik. Lihatlah!

“Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?” Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: “Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu ini. Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba. Berkatalah Ziba kepada raja: “Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.” Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja. Mefiboset mempunyai seorang anak laki-laki yang kecil, yang bernama Mikha. Semua orang yang diam di rumah Ziba adalah hamba-hamba Mefiboset. Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang.” (2 Sam 9:8-13)

Suatu kisah yang luar biasa bukan?! Ilustrasikan sendiri kehidupan Mefiboset selanjutnya di istana Daud. Makan sehidangan bersama seluruh keluarga raja. Saat jam makan malam tiba, semua anak-anak Raja Daud, pangeran-pangeran kerajaan yang semarak, datang bersamaan mengerumuni meja. Ada Amnon yang pandai dan cerdas. Kemudian Absalom yang tampan dan mewah dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Diikuti oleh Salomo yang ramah dan bijaksana. Tentu saja disana juga ada Tamar, putri Daud yang cantik dan lembut. Serta anak-anak Raja Daud yang lainnya. Semua tampak sempurna luar biasa. Tetapi kemudian mereka mendengar suara gedebak-gedebuk dari Mefiboset! Ia berjalan terpincang-pincang menggunakan penopang menuju meja makan. Ia tersenyum dan dengan rendah hati dia duduk di kursi di antara para pangeran dan putri sebagai salah seorang putera raja! Wah, pemandangan unik yang sangat indah bukan?!

Cerita ini tidak berakhir begitu saja. Masih berlanjut dan direfleksikan sampai ke kehidupan kita saat ini. Kita yang dulu pernah sangat dekat dengan Allah, tiba-tiba harus melarikan diri dari hadapan-Nya karena kecacatan spiritual kita. Terlibat dalam hidup yang sia-sia, berpindah dari pengalaman yang salah kepada pengalaman yang lain, menghabiskan hari-hari yang membingungkan, sambil bertanya-tanya kemana semua ini akan memimpin kita. Kita putus asa karena tidak bisa menawarkan apa-apa kepada Allah. Tidak memiliki apapun untuk diberikan kepada-Nya. Tetapi Sang Raja mengarahkan hati-Nya kepada kita. Ia menganugerahkan pengampunan yang tidak bisa kita usahakan, tidak layak kita terima dan tidak akan sanggup kita bayar. Saat Dia menemukan kita, Dia berkata, “Sekarang kau adalah milik-Ku. Aku mengambilmu sebagaimana adanya engkau. Pincang, disia-siakan, dalam kelemahan dan sebagainya.” Cukuplah kasih karunia-Nya bagi kita.

Kecacatan Mefiboset merupakan peringatan yang terus-menerus akan anugerah kasih karunia. Ia tidak memiliki apapun, cacat dan tidak layak, tetapi ia diangkat menjadi anak raja. Begitu juga dengan kita. Kesulitan dan kelemahan kita merupakan peringatan akan karunia kasih-Nya. Jika bukan karena anugerah, bahkan saat ini jantung kita sudah berhenti berdetak. Jika bukan karena anugerah, tidak ada hari ini buat kita. Jika bukan anugerah, postingan ini pun tidak akan memberkati saya dan sodara.

Kalau Mefiboset makan sehidangan dengan anak-anak Raja Daud, mari kita juga menunggu waktu dimana kita akan makan dalam satu meja dengan Allah dan anak-anak yang dikasihi-Nya. Bayangkan Anda duduk berhadapan dengan Paulus dan Petrus. Mungkin Anda meminta Yohanes untuk mengambilkan ayam goreng. Atau mungkin tertawa bersama Ester, Musa, Samuel dan juga Daud? Berbagi sambal dengan Timotius? Ngopi bareng Abraham? Saya sangat menantikan saat-saat itu terjadi. Hanya anugerah-Nya yang mampu melakukannya. Dia memulihkan keadaan kita yang hina dan sama sekali tidak layak, membawa kita ke dalam kekekalan bersama-sama dengan Dia untuk selamanya.

Saya akhiri cerita yang panjang lebar ini dengan satu senyuman. Satu ungkapan yang bisa saya sampaikan, “Terima kasih, Bapa, karena menemukanku ketika aku tidak sedang melihat. Karena mengasihiku ketika aku bahkan tidak berani mengharapkannya. Dan menjadikan aku milik-Mu meski aku tidak layak menerimanya. Anugerah-Mu benar-benar menakjubkan.”


March 23, 2016

IN LOVING MEMORY

Aku baru saja kehilangan satu lagi orang yang berarti dalam hidupku. Kakekku. Setelah dia bergumul dengan sakitnya selama beberapa tahun terakhir ini, akhirnya Tuhan membawanya pulang kembali ke tempat darimana dia berasal. Tentu saja hati kami bersedih dengan kepulangan Kakek tercinta ke rumah Bapa, tapi kesedihan itu tidak membuat kami terlarut dalam duka. Adalah momen yang sangat mengharukan ketika kita bisa mendampingi salah satu orang yang kita kasihi pergi dalam damai.

Hari itu, hari dimana kami harus melepaskannya pergi, aku melihat senyum simpul di wajah kakek. Aku bersyukur memiliki kesempatan untuk merawatnya selama ini. Aku bersyukur aku bisa menungguinya, memegang tangannya dan menyeka keringatnya disaat terakhirnya. Kami memang tidak bisa menggantikan rasa sakitnya, tapi paling tidak ketika kami ada di samping kakek, dia bisa merasakan bahwa dia dikasihi.

Aku akui diantara semua anggota keluarga yang lain mungkin akulah yang paling sering membuat kakekku itu jengkel sewaktu dia masih hidup. Dari kecil kakeklah yang mengurusku. Aku adalah cucu yang paling dekat dengannya. Semua hal pertama yang aku lakukan, aku pelajari dari dirinya. Semua cerita-cerita yang menginspirasiku, dialah yang menceritakannya padaku. Dia bukan orang yang sempurna sama sekali. Dia bahkan orang yang paling bisa membuat jengkel kami semua. Tapi dia tetap menjadi bagian terpenting dari kami yang sangat kami kasihi.

Waktu kondisinya semakin menurun, ada banyak hal yang tidak masuk akal yang dia katakan pada kami. Dia punya tas ransel yang selalu ditaruh di samping ranjangnya. Tidak seorangpun boleh membuka atau menyentuhnya. Kami pikir ada barang berharga apa di dalam situ sampai kami tidak boleh mendekatinya sama sekali. Aku sendiri jadi berpikir betapa pelit kakek ini. Tapi setelah dia meninggal, baru kami merasa sangat konyol sendiri. Ternyata di dalam tas itu hanya ada satu agenda kosong dan sebuah Alkitab. Aku senang melihat hanya ada Alkitab di tas itu, bukan hal yang lain.

Hal terakhir yang bisa ku lakukan untuk kakek hanyalah memakaikan jas dan merapikan dasi pada jenazahnya. Satu hal yang aku sesali adalah aku tidak mengatakan bahwa aku sangat mengasihinya meski aku tau kakek sendiri mengetahuinya. Waktu sudah terbaring seperti itulah baru aku menyadari satu frasa “aku mengasihimu” bisa menjadi sangat penting untuk dikatakan. Selama masih ada kesempatan untuk mengatakannya, akan sangat lebih baik dikatakan sebelum semuanya terlambat.

Satu pengharapan yang kami miliki adalah suatu hari kami akan berjumpa kembali dengan kakek di tempat yang penuh kemuliaan. Hidup dan kematiannya sangat indah. Kami melepaskannya pergi, kembali ke tempat seharusnya dia berada. Tidak ada lagi sakit, air mata dan duka cita. Semuanya sempurna bagi kakek. Dia sudah mengalami sendiri rasanya makan sehidangan dengan Musa, Abraham, Paulus dan bahkan Tuhan Yesus sendiri. Dan kami disini, menantikan hal yang sama terjadi pada kami pada waktunya nanti.

Good bye, Grandpa. Your love will be in our heart as always. Thank you for being part of our life. God loves you more than we do. We believe that you deserve a better place in the heaven, to be part of His family. See you soon in eternity.

March 01, 2016

BE SMART! OPINI SAYA, OPINI GILA

Hujan mulai deras di luar sana. Kalau aja jam belum menunjuk ke angka sepuluh aku sudah berlari ke teras untuk menikmatinya sekarang. Aku hanya bisa menikmati suara rintikannya dan bau tanah basah yang menyeruak menghampiri hidungku dari dalam sini. Sedikit membosankan hanya duduk disini sendirian menatap layar kaca yang sedari tadi menyuguhkan sinetron-sinetron yang tidak begitu aku nikmati ceritanya. Ku pencet-pencet remot mencari channel yang bagus, tetapi tetap aja tidak ada yang keren. Semua ceritanya hampir sama, kisah cinta segi tiga, segi empat, segi lima sampai pitagoras anak-anak ABG alay.

Televisi kubiarkan menyala. Sesekali kuperhatikan pertunjukan apa yang sedang disuguhkannya. Tidak begitu menarik, sama sekali tidak menarik. Mungkin karena pikiranku sedang tidak sepenuhnya bersamaku malam ini. Aku sendiri tidak tau apa yang kupikirkan. Nggerambyang istilah orang Jawa. Sempat terpikir tentang para artis itu yang terpaksa memakai topeng agar kelihatan terus ceria untuk menghibur para penikmat pertunjukan munafik di hampir seluruh penjuru negeri ini. Kasihan sekali. Mereka harus menipu diri sendiri hanya untuk menyenangkan hati orang lain. Di dalam episode-episode sinetron saja mereka menampilkan senyum bias yang entah apa maksud lainnya selain hanya untuk digandrungi pemirsa di rumah kemudian mengumpulkan pundi-pundi rupiah buat kantongnya. Kemudian tidak berapa lama mereka akan masuk acara gosip-gosip pagi dengan berita yang berbanding terbalik dari akting mereka di layar kaca. Ada yang diliput karena prestasinya, tapi banyak juga yang diliput karena kontroversinya. Hidup itu memang hanya drama.

Lucunya lagi, segala sesuatu yang muncul di televisi harus disensor sana-sini. Hey, please lah, kita tidak sedang hidup di abad ke-3 yang susah membedakan mana yang pantas mana yang tidak! Memangnya dengan penyensoran yang dilakukan bisa mengajari bangsa ini apa? Toh, cerita yang disajikan pun juga tidak begitu mendidik. Sama saja seperti menutupi bagian dada, tapi mengumbar bagian paha. Artisnya disuruh menutup aurat, tapi mereka membuat cerita yang menyelipkan prostitusi dan anarki di dalamnya.

Aku secara pribadi sebenarnya hanya memperhatikan kualitas akting dan jalan cerita suatu film saja, tapi kalo ada sesuatu yang diblur segala sudut pandangnya jadi beda. Yang tadinya hanya menilai kualitas akting artisnya, akibat adanya penyensoran di beberapa bagian tubuh tertentu hampir bisa dipastikan pikiran jadi terbagi dengan menilai bagian-bagian tubuh artisnya. Yang lebih aneh, film kartun pun juga ikut-ikutan disensor dan diblur. Pertanyaannya, memangnya ada orang yang nafsu sama kartun? Kalau ada pun cuma 1 diantara 100. Gara-gara sensor pun orang bisa jadi berubah yang awalnya polos jadi mesum. Kenapa? Bisa jadi malah membayangkan apa yang ada dibalik sensor itu. Menyensor tidaklah membuka wawasan malah akan menutup gagasan.

Yang paling aneh lagi adalah reality show yang menguak misteri alam lain. Tidak cukup puas mengorek-ngorek kehidupan sesama manusia, kini para manusia juga tertarik mengorek kehidupan orang mati. Apa untungnya sih kepo sama kehidupan hantu? Orang hidup aja sudah banyak persoalan yang harus diurusi, ini malah nambah ngurusin urursan hantu gentayangan. Untuk apa? Menunjukkan nyali? Fungsinya?

Biasanya akan ada satu bintang tamu atau penonton live yang mulai menggelepar-gelepar kesurupan. Lalu salah satu host akan bertanya mengenai masa lalu si hantu, lalu hantu itu akan mulai curhat. Parahnya si host dan kru-nya percaya aja tuh. Bukankah setan itu bapaknya para pendusta, namanya pendusta ya apapun yang dibilang sudah pasti bohong doang isinya. Konyolnya si manusia percaya. Lama-lama si setan kena star syndrome juga deh. Berasa artis gitu dikepoin sama manusia. Bisa jadi pas kita asik menonton hantu di tv, eh, si hantu juga asik nontonin kita yang mau-mau aja dibegoin sama acara sejenis itu. Parahnya kita doyan banget nonton yang begituan. Ngaku deh walaupun jam tengah malam, kita on time mantengin channel itu sampe habis.

Gimana pun juga akui saja, kita memang mau-mau aja dibohongi sama cerita-cerita di tv itu. Emosi kita berhasil dicampur aduk dengan jalan cerita yang berbelit-belit dan tidak tau kapan tamatnya. Kita bersorak kalo si antagonis menerima azab karena ulahnya yang selalu jahat kepada si protagonis. Ikut-ikutan menangis kalau tokoh utamanya mengalami ketidakadilan. Bahkan memperebutkan aktor utama yang berpenampilan kekar dan tampan padahal kita kenal sama dia aja enggak. Dan kalau kita sudah masuk terlalu jauh dalam alurnya, kita sok jadi penasehat yang unggul di depan televisi seakan nasehat-nasehat kita itu bakalan didengar sama si aktor di dalam layar itu aja. Memang sebuah fenomena tersendiri.

Meski begitu, masih ada juga acara-acara yang mendidik. Nggak melulu semua reality show, film atau sinetron membawa dampak buruk buat pemirsa. Sebutkan saja berita, acara petualangan nusantara, acara pencarian bakat, kuis-kuis yang bisa bikin pintar bangsa juga ada. Yang baru ada juga reality show ngelawak (yang harus saya sensor namanya biar nggak menimbulkan sensasi) buat menghibur kita-kita yang galau dan susah tertawa. Sebenarnya acara gosip kadang juga bermanfaat buat kita. Dari acara gosiplah kebanyakan kita tau perkembangan jaman, fashion, istilah sekeren LGBT sampai sianida. Intermezo sedikit nih, ngomong-ngomong soal berita ada satu news anchor yang gantengnya sampai tumpah-tumpah. Aku rela mantengin satu stasiun tv yang programnya sebagian besar hanya berita semua itu cuma mau lihatin si Mas News Anchor yang keren. Namanya diblur ya biar nggak bikin kontroversi.

Film pun banyak yang bagus kalau nggak banyak disensor sana-sini, tergantung cara pandangnya. Aku tipe orang yang suka film berat yang mengusung tema kriminal, psikopat dan sebagainya, dan sebagainya. Film-film kayak gitu biasanya akting pemainnya akan kelihatan jelas bagus enggaknya. Apalagi yang akting psikopat begitu biasanya kalau nggak bagus, nggak akan laku filmnya. Dia harus berani total. Cuma ada beberapa artis yang masuk daftar akting terbaik di catatanku. Sebenarnya nggak hanya film berat aja yang jadi konsumsiku. Semua genre film aku suka, asal nggak setengah-setengah. Kalo romance ya romance banget sekalian, kalo horror ya horror sekalian. Jangan horror dikolaborasikan dengan erotic romance. Nggak akan masuk box office lah film begituan apalagi masuk Oscar. Mustahil. Film begituan penikmatnya cuma segerombolan geng jomblo kesepian yang 85% otaknya mesum doang.

Ini hanya sekedar opini sepihak dari saya saja. Opini saya, opini gila. Tapi kalau tidak gila, tidak bisa jadi apa adanya. Yang pasti kalau suatu saat kita berkesempatan menjadi sutradara, jadilah sutradara yang baik dan menghasilkan karya-karya yang berkualitas biar bisa dibanggakan ke dunia luar. Jangan cuma mengimpor film dari negara tetangga sebelah, tapi kalau bisa mengekspor film ke luar negeri malah lebih baik. Kalau jadi anggotan “Ka Pe I” ya sensorlah yang perlu disensor saja, jangan semua hal disensor sampai muka artisnya pun nggak kelihatan karena terlalu banyak diblur. Penyensoran yang berlebihan pun tidak serta merta membuat bangsa pandai kok kalau cerita filmnya sendiri tidak mendidik. Dan kalau nanti kita jadi artis, ya jadilah artis yang bisa akting mahal, supaya tidak dijual murah. Tidak hanya membanggakan sensasi tetapi tidak memiliki prestasi. Biar nggak diblur mukanya sana-sini. :D :D

February 07, 2016

SI ARANG DAN SANG BERLIAN

Si pecinta datang kembali dengan cerita yang sama tetapi berbeda. Hey, pernah dengar ada seseorang yang mengharapkan cerita cintanya sama seperti drama-drama Korea romantis yang menguras air mata pemirsanya? Haruskah saya mengatakan kalo pecinta itu adalah saya? Sedikit naif kalau mengingkarinya. Entah cerita yang bagaimana yang harus diciptakan kembali untuk menutup cerita yang pernah saya mulai sendiri itu. Kadang jujur terhadap tulisan sendiri itu susah. Yang pasti tidak semua cerita itu berakhir bahagia, paling tidak untuk sisi yang lainnya.

Tidaklah penting melihat seseorang sebagai juara hanya dari cara mereka memosisikan cinta. Setidaknya untuk kasus saya. Apakah saya terlihat sebagai seorang penyeleweng hanya karena mengingini seseorang seperti dia? Siapapun kalian, saya akan tetap mengatakan hal yang sama. Kalian tidak tau apapun tentang saya. Tidak tentang masa lalu ataupun masa kini saya. Sama seperti dia yang memiliki hak untuk menolak siapa saja yang ingin datang kepadanya, begitu juga saja berhak untuk mengingini siapa saja yang saya mau. Bukan egois, tetapi lebih realistis.

Saya sih tidak terlalu kecewa ketika jawabannya adalah tidak. Karena sudah saya duga jauh sebelum dia mengatakannya. Sudah sering saya bilang dunia saya dan dunianya itu berjalan sejajar sehingga tidak ada ujung temunya. Ibarat rel kereta api yang tidak bisa memaksa untuk membelokkan diri ke satu sisinya supaya bisa bersatu.

Sebenarnya dia dan saya memiliki kesamaan yang mutlak. Kami sama-sama kuat. Saya kuat menunggunya, sementara dia kuat mengabaikan saya. Kesamaan yang membedakan kami selamanya. Ibarat unsur atom karbon yang menghasilkan dua bentuk yang berbeda, berlian dan arang. Bisa ditebak bahwa dialah sang berlian dan saya si arang. Dia itu barang mulia yang duduk manis di etalase toko perhiasan mewah. Kalau saya hanya si hitam yang mondar-mandir di pinggir perapian sambil membayangkan seandainya bisa disandingkan dengan sang berlian di etalase kristal itu. Tapi tentu hal yang sangat mustahil bukan. Dia dicipta untuk menerima sanjungan sebagai permata termahal yang hanya bisa dibeli oleh orang berduit dollar. Saya hanya sebatang arang yang menunggu api melumat sampai menjadi abu. Jauh berbeda meski berasal dari unsur yang sama.

Kalian bertanya apa saya menyesal pernah menginginkan berlian itu? Tentu tidak. Hidup itu adil, kawan. Ia hanya punya cara mainnya sendiri yang misterius. Saat ini saya ada di tempat ini, siapa tau suatu saat di waktu yang tidak terduga saya bisa ikut dipajang di etalase mewah itu. Kalaupun tidak, bukanlah masalah. Ada hal yang jauh lebih besar yang bisa saya kerjakan disini. Mudah saja. Buat apa pelihara luka hati yang hanya bikin mata berair?

November 26, 2015

FAREWELL

Bagaimana Perasaanku? Siapa yang bisa menjawab? Apakah senang? Apakah sedih? Atau biasa-biasa saja? Semuanya tidak pasti. Tidak bisa digambarkan. Seandainya ada warna yang pas untuk mewakili perasaanku ini, warna itu pasti tidak akan menarik. Mungkin tidak merah, tidak hijau, tidak biru, ataupun hitam. Kotor.

Coba lihat saja sekeliling ini. Sudah berdatangan orang-orang untuk menyelamati kami. Tapi itu malah membuatku serba salah. Apakah senang ataukah sedih? Sekali lagi tidak bisa terjawab. Hari ini terakhir. Besok ujungnya. Berjalan memakai baju yang indah, sepatu mahal, make up paling cantik bahkan senyuman terbaik pun belum bisa menenangkan hati ini.

Aku berpikir, apa gunanya senyuman terbaik? Apa gunanya sepatu mahal? Apa gunanya menjadi yang terbaik besok kalau ujungnya tidak bersama lagi? Menyenangkan memang bisa mengakhiri semuanya dengan senyuman. Tapi apakah masih tetap menyenangkan kalau tidak bisa saling mengejek satu sama lain lagi? Apa masih tetap menyenangkan jika tidak bisa saling menertawakan lagi? Apa enaknya tidak bisa saling bertemu dan bertegur sapa? Apa serunya jika tidak bisa saling marah lagi?

Disini tempat kita pertama kali bertemu sebagai orang asing. Disini juga akan menjadi tempat perpisahan kita sebagai sahabat yang akan saling kehilangan. Kalau aku bilang jangan pergi, apa hakku? Siapa aku? Pada akhirnya hari esok harus tetap terjalani, suka atau tidak suka. Dan entah kapan lagi bisa bertemu. Bisa jadi ini hanya awal, bisa jadi juga ini adalah akhir.

Terasa sesak di dada ini. Mau teriak takut dilempari orang. Mau menangis sudah terlalu cengeng. Mau marah nanti dikira stress. Tapi diam saja membuat hati ini terganjal. Serasa telinga ini sudah tersumbat. Pekak. Terlalu banyak hal yang otakku teriakkan sampai tidak ada suara lain lagi yang bisa kudengar.

Mungkin rasa ini hanya aku..... Hanya aku.....

November 10, 2015

MENCINTAIMU SAMPAI DETIK INI

Taukah kamu bahwa aku sedang memposisikan diriku sebagai seseorang yang memujamu dari ujung kaki sampai ujung kepala? Kamu memang gambaran yang sempurna yang mampu aku bayangkan sampai detik ini. Manis, berwibawa, memesona, pandai dan misterius. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk mencintaimu. Aku selalu berharap kamu tau dan melihat bagaimana rasa yang kumiliki padamu. Namun nyatanya kamu menganggapku sama seperti perempuan lainnya yang memposisikanmu sebagai pengagum, bukan pecinta. Padahal kalau boleh jujur sedikit padamu, aku bukan sekedar fans yang hanya bersorak saat kamu gemilang. Aku penggemar nomor satumu yang mengagumimu karena apa adanya kamu.

Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Yang bisanya hanya berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini. Kamu tau tidak rasanya menjadi perempuan yang setiap hari kerjanya bertanya-tanya, kesana-kemari, mencari bayanganmu, sementara kamu melenggang seenaknya seakan kamu tidak melihat betapa aku memperhatikamu? Kamu tau bagaimana sesaknya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dulu karena aku tau diri bahwa memang tidak pernah ada sesuatu diantara kita? Bagaimana capeknya menjadikan diri sebagai orang yang terus berharap meskipun tidak ada jaminan bahwa kamu akan melihatku suatu hari nanti, kamu tau rasanya?

Mungkin, kamu bertanya-tanya kenapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta kepadamu. Bisa jadi ceritanya panjang kali lebar kali tinggi. Tapi cobalah duduk sebentar dan lihat mataku dalam-dalam. Aku memang sudah memperhatikanmu sejak lama, bertahun-tahun, meskipun aku tidak tau bagaimana kamu, bagaimana kehidupan sehari-harimu, latar belakangmu, siapa saja kekasih atau gebetanmu. Aku mencintaimu mungkin karena kamu tampan, mungkin karena kamu pandai, mungkin karena kamu gemilang, mungkin karena kamu tinggi. Semua itu hanya mungkin. Tapi yang aku tau pasti aku mencintaimu karena itu adalah kamu. Seandainya itu bukan kamu, pasti aku tidak akan menyukaimu. Meski kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tau alasanku itu.

Sebenarnnya dadaku begitu sesak. Tapi tetap kutahan tangisku supaya tidak jatuh saat mereka selalu menyebut namamu di sekitarku. Namamu itu seperti candu bagiku, menyenangkan, memabukkan tetapi mematikan. Aku bergembira saat mendengar namamu disebut, tetapi aku juga tidak bisa menahan diriku tertusuk amarah yang sebenarnya tidak aku pahami. Karena sangat susah untukku meraba-raba hatiku sendiri dan hatimu. Apakah hatiku akan baik-baik saja atau malah teriris luka kalau aku mencintaimu.

Seandainya kamu tau, sakitnya bukanlah sakit yang paling sakit. Lebih dari itu. Adakah yang lebih menyakitkan daripada ditinggal orang yang paling kamu sayang? Tentu saja ada! Mencintai seseorang yang begitu dekat, tapi cinta yang terus bertumbuh itu tidak pernah menyentuh dan menjamah. Saat aku dekat denganmu, tapi tidak bisa kuungkapkan perasaanku. Aku hanya perempuan yang gemar menunggu, selalu menunggu, berharap kamu datang dan tersenyum padaku. Terlalu tinggikah harapanku? Terlalu berdramakah aku? Terlalu membawa perasaan kah aku? Apa mungkin kamu terlalu tinggi untukku? Atau terlalu sempurna untuk ku miliki? Aku tidak tau.

Seandainya kamu sadar bahwa kamu selalu membuatku tersenyum ketika aku membayangkanmu. Kamu sering membuatku tertawa dalam hati saat aku mengingat tingkahmu. Dan kamu membuat jantungku berdebar saat kurangkai tatapan matamu dalam pikiranku. Tapi kamu, orang yang membuatku tertawa paling kencang adalah orang yang membuatku menangis paling kencang juga akhir-akhir ini. Aku jatuh cinta sendiri.

Aku senang menulis tentang kamu karena dalam tulisanku sosokmu bisa abadi.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
This is my private life, but I am glad to share it with you guys. If you are willing, let's hear the song together heheh..... It is a nice song.... Please check the link below ^.^

November 02, 2015

IT IS ALWAYS HARD TO SAY GOOD BYE

Hari itu waktu hujan cuma turun lima menit lalu berhenti, turun lagi lima menit lalu berhenti lagi dan begitu seterusnya, temanku berkata, "Ah, Tuhan cuma bohong nih." Aku tertawa lalu kujawab, "Mungkin Dia bergurau." Tapi sudah puas bagiku mencium bau tanah basah yang hanya sebentar saja. Rasa rinduku terhadap hujan selama ini terobati.

Sekarang aku punya hobi baru yang sebenarnya lama. Jalan-jalan. Hanya jalan-jalan saja mengikuti kemanapun langkah kaki mau pergi. Aku jadi suka jalan kaki sejauh-jauhnya sampai kaki capek. Paling tidak bisa menghilagkan stress terkurung di kamar. Lagi pula menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu bersama orang-orang aneh ini. Sekalian menghindari acara bergosip ria yang biasanya menjadi aktifitas rutin di kamar oleh orang-orang yang suka membuat orang lain jadi lebih populer. Kalo aku lebih suka jadi populer daripada menjadikan orang lain populer, makanya aku nggak suka gosip. Eh, tapi aku suka gosip juga sih, asal nggak bikin penyakit. Kalo sama orang-orang aneh ini topik bergosipnya beda, mulai dari masalah negara sampai masalah film yang tidak lulus sensor di negeri ini. Lebih menyenangkan dibandingkan menggosipkan teman sendiri bukan?

Mungkin orang berkata kalo aku ini 'si kaki gatal', 'kuda lepas dari kandang', atau apa lagi yang mereka pikir kenapa aku jadi suka pergi-pergi, ya itu sih urusan mereka. Aku memang begitu kok. Yang penting waktu yang tersisa kurang dari satu bulan ini bisa jadi hal yang nggak akan membuatku menyesal karena melakukannya. Kalo sebagian besar orang sudah berpikir tentang pekerjaan, aku malah berpikir bagaimana memanajemen waktuku supaya hari-hari yang singkat ini jadi lebih panjang. Bukannya nggak mikir kerjaan, tapi kalo sudah kerja nggak akan ada lagi haha-hihi bersama orang-orang ini. Kerja itu pasti, tapi momen yang begini nggak akan bisa diulang lagi. Dan itu pasti sangat menyebalkan.

Ada acara kami jalan-jalan sejauh berkilo-kilo meter cuma untuk membeli Crepes seharga 1500 rupiah, sudah puas meski tidak membuat kenyang. Lalu minum es kelapa seharga 2500 rupiah, meski kurang gula tapi tetap terasa manis karena kami sambil menertawakan satu sama lain. Lalu pulang lagi lewat jalanan yang gelap dan banyak bangunan-bangunan kosong yang mungkin dihuni oleh kawanan hantu. Hantu? Iya hantu, barang halus tak kasat mata yang banyak ditakuti oleh manusia. Sejujurnya kami takut juga, untung tidak ketemu mereka betulan. Teman A berkata kalo dia tidak takut hantu karena dia tidak pernah ketemu hantu. Kalo aku percaya mereka ada karena aku pernah lihat mereka. Teman B berkata percaya mereka ada tapi nggak pernah lihat. Paling konyol Teman C, dia percaya kalo hantu itu ada karena semua temannya adalah hantu. Temannya siapa? Ya kami ini. Ah, sial! Dasar manusia langka!

Teman A berkata kalau setelah akhir bulan ini dia pasti bakalan merasa sendiri lagi seperti empat tahun lalu. Dia akan sedih waktu nanti mengantarkan sahabat-sahabatnya ke bandara untuk pulang ke tempat masing-masing. Meskipun menurutku dan banyak orang lain kalo bandara itu keren karena bisa naik pesawat, tapi menurut si kawan ini bandara adalah tempat paling sedih. Karena bandara adalah tempat perpisahan dengan orang-orang terdekat kita untuk waktu yang sangat lama. "Kalau begitu stasuin juga dong?" tanyaku. "Stasiun itu cuma mengantar orang ke beda kota dalam satu pulau. Kalau bandara mengirim orang ke beda kota di beda pulau bahkan beda negara," begitu jawabnya sedih. Asal tidak beda dunia saja pikirku. Aku jadi ikut sedih. Ah, teman, kenapa harus ada perpisahan? Karena ada pertemuan jawabnya. Enteng sekali jawabannya, tapi berbobot.

Masih banyak hal-hal yang terekam di memori ini bersama dengan mereka. Dulu yang kami saling tidak kenal menjadi sangat akrab di akhir waktu-waktu ini. Pergi ke rumah si teman A yang punya sapi sebesar gajah. Ah, bahkan sapi yang akan dibikin sate nantinya saja bisa gemuk, aku susah sekali gemuk. Lalu naik gunung. Itu pertama kalinya aku naik gunung pakai motor. Adrenalin guys! Makan di tempat mewah padahal duit cuma tinggal 20.000 rupiah. Ah, masih banyak lagi. Semua membuatku semakin tidak ingin pergi. Aku hanya berharap setelah akhir dari bulan ini kami masih bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama lagi.

Kalau si Kawan bilang ada perpisahan di setiap pertemuan, aku berharap di setiap perpisahan akan selalu ada pertemuan kembali. Itu saja. Dan semoga mereka tidak akan lupa terhadap si kayu arang* ini.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------
*Arang dan Berlian, Sama Unsur Beda Nasib. Tunggu ceritanya disini!! ^-^

October 25, 2015

SEKEDAR CERITA

Sulit untuk menjelaskan perasaan seperti apa yang merasuk ke diriku saat ini. Aku tidak yakin apakah malam itu akan menjadi yang terakhir buat kami. Kalau memang malam itu adalah terakhir kami bisa berkumpul bersama, berarti waktu yang tersisa untuk kami kurang lebih hanya sekitar satu bulan. Itu pun kalau kami benar-benar bisa menggunakan waktu sebulan kami secara utuh. Setelah itu entah kapan lagi kami bisa berkumpul bersama-sama lagi.

Mungkin aku saja yang terlalu melankolis menganggap bahwa ini adalah akhir dari sebuah perjalanan yang kulalui bersama dengan mereka. Beberapa tahun aku bersama-sama dengan mereka. Suka, duka, jengkel, kecewa, kasih, pengorbanan dan pengampunan itulah semua hal yang aku pelajari dari mereka. Meninggalkan tempat ini bagiku serasa meninggalkan sarang yang selama ini membuatku hangat. Seumpama seekor anak rajawali yang sudah bisa terbang, dia harus keluar dari sarang meninggalkan tempat berlindungnya, meninggalkan orang tuanya, meninggalkan semua kenyamanannya. Mencari makan sendiri, terbang sendiri, menghadapi bahaya dengan keyakinan sendiri. Semua serba sendiri.

Selain itu, setidaknya kalau disini aku masih bisa melihatnya. Aku tidak tau bagaimana ceritaku akan berakhir. Kami sedang saling diam, sunyi. Menanti apa yang akan memecah sunyi. Entah tangis atau tawa. Semua orang sudah tau. Biar saja. Tinggal sebulan lagi, tidak jadi masalah. Setelah itu baru akan aku putuskan apakah aku akan bertahan atau menyerah saja. Karena sekeping hatiku sempat berujar, "Mungkin ini bukan cinta." Jika sekeping yang lain menegaskan, "Memang bukan", sudah. Tamat.

Terasa semakin jauh, bukan karena kita jauh. Terasa hilang padahal aku tidak pernah memiliki. Bagaimana bisa aku mengharapkannya kembali, sementara dia masih ada di sini? Di hati yang tak pernah menganggapnya pergi. Dari jauh aku beruacap sombong, "Jangan pedulikan aku." Seakan-akan kamu pernah peduli pada aku. Konyol.

Malam itu, aku suka matanya meski dia tidak melihatku. Aku suka suaranya, meski bisa dihitung jari berapa kali dia berbicara padaku selama ini. Aku suka senyumnya, meski senyuman itu bukan untukku. Aku suka dia, meski hanya punggungnya saja yang menjadi bagianku selama ini. Seandainya masih banyak waktu yang tersisa, aku mau terus disini saja. Ah, konyol. Aku berhasil patahkan kata, membungkam suara, memendam rasa, namun gagal menyumbat tangis.

Kamu; sejuk udara pagi yang hilang termakan siang.

Kamu; api pada pucuk lilin yang rentan mati.

Kamu; lembaran cerita yang hilang sebelum terbaca dalam sebuah novel cinta.

Aku; air laut yang menguap sebelum membasahi pasir pantaimu, lalu hilang di antara awan mendung.

Aku; kebahagiaan sesaat di saat dekat, kemudian hitam pekat saat jauh dan tak terlihat.

October 14, 2015

IRONI WAKTU DAN ORANG ITU

Ternyata sudah di ujung tahun ini. Serasa waktu terlalu cepat berlalu setelah aku sampai di titik sini. Hari ini akan segera berlalu seperti hari kemarin. Padahal aku mengharapkan sebaliknya.  Berulang kali ku ucapkan ingin membekukan waktu supaya aku bisa tetap di momen ini. Sadar bahwa waktu ini akan segera berlalu, hati ini serasa memberontak tidak setuju. Senang tetapi sedih. Karena aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah masa ini berlalu. Bukan tidak percaya masa depan, tetapi sangat susah untuk melepaskan masa kini.
Satu persatu dari orang-orang ini telah pergi menuju masa yang baru yang kelihatannya akan sangat berbeda dengan masa kini. Berjuang untuk mandiri, bertahan meski tanpa ada kami-kami lagi yang saling merangkul dan menuntun. Semuanya berawal dari nol kembali di tempat asing yang jauh berbeda dari tempat ini. Tempat yang mungkin setiap orang membesarkan egonya masing-masing, saling makan, saling terkam. Kalian sebut pengalaman baru, aku sebut proses yang baru.
Yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana aku menjalani hari-hari ini dengan tidak sia-sia. Karena jika hari ini aku masih bisa berhaha-hihi dengan kumpulan orang ini, mungkin besok aku menangis dengan diriku sendiri. Waktu tidak bisa kugenggam, sehingga tiap-tiap orang ini akan segera hilang juga bersama dengan detik-detik sang waktu yang tidak pernah berhenti berputar. Setiap hal yang ada hari ini akan menjadi kenangan esok hari.
Bagi beberapa orang mungkin hari-hari ini sangat menjenuhkan. Aku juga merasa begitu. Yang berbeda adalah meski aku merasa jenuh tapi aku tetap semangat menjalani setiap momen yang terjadi hari-hari ini. Bahkan aku berharap tidak ada yang namanya libur. Inilah pertama kalinya aku agak membenci hari libur. Aku tau karena tidak banyak waktu lagi yang tersisa bersama orang-orang ini dan bersama orang itu. Ya, orang itu. Meski keadaan kami masih tetap sama tidak saling bicara. Aku menyapanya tentu saja, tapi orang itu diam saja karena aku hanya menyapanya dalam hati. Mungkin dia tidak dengar hati ku berteriak.
Yang kusyukuri adalah aku masih bisa mendengar suara orang itu hari-hari ini. Aku masih bisa melihat orang itu berlalu di depanku meski hanya punggungnnya saja yang terlihat oleh ekor mataku. Sekilas aku masih bisa melihat senyum orang itu mengembang meski aku tidak yakin apakah itu memang benar-benar senyuman atau bukan. Mungkin setelah hari-hari ini suara orang itu tidak akan terdengar sampai ke telngaku lagi. Mungkin juga senyum orang itu tak akan bisa terlihat oleh pandanganku lagi. Atau bahkan bayangan orang itu saja tidak akan pernah lagi tertangkap oleh sudut mataku. Kalau ingat hal itu, betapa aku bersyukur Tuhan masih memberikan hari ini kepadaku.
Mereka dan orang itu tidak tau betapa aku sangat bergembira hari-hari ini. Mereka dan orang itu juga tidak akan pernah tau kalau aku menyembunyikan kebiruanku dalam tawaku. Aku mencoba untuk tertawa bersama mereka dan menikmati setiap candaan bersama mereka. Tapi jika sepi itu datang lagi, tawa yang renyah di mulutku itu terasa hambar, dingin dan sendu. Tawa kah ini, atau sekedar suara haha-hihi palsu yang dimanipulasi oleh pita suaraku? Aku tidak tau.
Bagi orang itu mungkin aku hanya hembusan angin yang sekedar lewat kemudian hilang. Mungkin begitu. Aku sadar juga. Hanya saja aku masih beharap hembusan angin yang tidak seberapa ini sempat membuat orang itu merasa sejuk untuk sesaat. Meskipun bukan orang yang  menyenangkan, tapi bagiku orang itu adalah sesuatu semacam anugerah kecil yang bisa membuatku tersenyum meski hanya memikirkannya.
Ironi, anugerah kecil yang membuatku bersyukur sekaligus bersungut. Ironi, aku sangat menikmati hari-hari ini meskipun aku merasa sangat jenuh dan bosan. Ironi, masih memandang orang yang bisa membuat ku tersenyum dan menangis di saat yang bersamaan. Ironi, aku menyimpan rasa itu hingga sekarang meskipun sudah usang dan membusuk. Ironi, cerita ini ironis.

---------------------------------------------------------------------------------------------------
So this is the old song from Tablo ft. Taeyang (Bigbang). I love this song. If you want to hear it, please check the link below.

August 04, 2015

LET’S NOT FALL IN LOVE

This is the translation of Let's Not Fall In Love (우리 사랑하지 말아요), the new single of Bigbang in MADE Series "E". I am in love with this song. This is one of my favorite songs of Bigbang (i.e. Haru Haru, Love Song, Fantastic Baby, Bang Bang Bang, We Like 2 Party, If You, etc).

They have a good taste in their lyrics. So do I, I have a good taste in a good song hahaha.... I have been loving them from the first time I knew them 7 years ago, and I am still in love with Bigbang now. Some people say that their image as the bad boys make them unworthy to become an idol. They are probably right. But for me, they are still my bias. I love their songs, I appreciate their works out of their personal life. We will never find the perfect person until we can see the imperfect person perfectly.

I have a good edvice for people who judge them bad: Everyone has a story left untold, so never judge someone as if you know their entire life story because the truth is, you probably don't. Your life is not necessarily better than theirs. If you like the song then listen to it, but if you don't so just ignore it. Just make it simple. :)

Okay then, for BIGBANG Oppas, I love you all, I love your works. I am your big fangirl and forever I am. ;)

I have the English lyrics, I don't know the Hangul version..... (Love, VIP).

Let's Not Fall In Love (우리 사랑하지 말아요)
By. BIGBANG

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you

Don’t ask me anything
I can’t give you an answer
We’re so happy as we are right now

Don’t try to have me
Let’s just stay like this
You’re making it more painful, why?

Goodbyes after our frequent meet-ups
Repetition of broken hearts
I can’t find a purpose in these foolish feelings
A mistake with the mask of love
All the feelings are the same now
But in this moment, I want you to stay

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you

Don’t smile at me
If I get attached to you, I’ll get sad
I’m afraid that pretty smile will turn into tears

Don’t try to trap us
In the word, love
Because it’s a greed that can’t be filled

At first, it was half excitement, half worries
But in the end, it became an obligation, trial and error
Day by day, I get nervous, your innocence is too much pressure on me
But tonight, I want you to stay

Don’t expect too much from me
I don’t wanna lose you either
Before things get too deep, before you get hurt
Don’t trust me

You’re always like that
Selfish bastard

Let’s not fall in love, we don’t know each other very well yet
Actually, I’m a little scared, I’m sorry
Let’s not make promises, you never know when tomorrow comes
But I really mean it when I say I like you
_________________________________________________________________________
This is the Music Video of Let's Not Fall In Love. If you love the song or just wanna try to hear it, please check the link below. If you don't like (or maybe you are haters) just skip it. :) Just kidding.
Please enjoy it.
https://www.youtube.com/watch?v=pN3qHbwfcrE&feature=share